&
Advertise Here with Today.com
 

Apr 10 2008

Next Book:HUJAN DI BELANGA

Published by chika under BUKU Edit This

Ini Novelku yang kedua, will published by ANDI Publishing Jogyakarta.
Here the synopsis

HUJAN DI BELANGA is about..

LOVE AND FRIENDSHIP
“ Liz, gue pengen kita bareng terus. Lo dan gue”
“Apa?”
“ Iya. Bareng terus. Sekarang, selamanya. Boleh kan?”
“Jett, selama beberapa bulan ini kan kita selalu barengan”
“Iya. Tapi beda!”
“Jadi maksud lo apa?”
THE DREAMS
“Apa yang kita pengen, apa yang kita impikan, kadang gak bisa jadi kenyataan. Iya, kan Jett?”
“Tapi seenggaknya lo udah berani mimpi, Chris. Meski mimpi lo itu belum jadi kenyataan..”
“Tapi setelah kejadian itu, gue gak berani mimpiin apa-apa lagi”
“Chris, tiap hari, tiap jam dan tiap detik kita harus punya mimpi. Biar kita tahu kalo setiap detik jantung kita masih berdenyut, otak kita masih bekerja, dan hati kita masih bicara. Lo tahu, Chris? Impian itulah yang bikin seseorang tetep punya semangat untuk hidup..”

THE LONELINESS
Diary entry..
..”Kesunyian maha dahsyat bertahta megah di jiwaku..
Mengunci setiap kata yang ingin aku keluarkan..
Kata orang aku adalah raga hidup yang jarang sekali berucap..
Hey! Aku bicara. Sungguh! Tapi hanya aku yang bisa mendengarnya..”

THE REVENGE..
“…Lo tahu Chris? Dia punya rencana untuk ngancurin kita berdua, karena…”
“ Karena apa?!”
“Karena dia cinta sama Lizkia!!”
“ Kalo cuma gara-gara suka ama Liz, kenapa dia sampe berbuat kayak gini, Jett?”

ANG THIS STORY..

Hujan turun. Airnya menetes di Belanga. Kadang ia dibenci, kadang dirindu pula. Tetesannya yang jatuh itu berbunyi. Bunyi yang bisa diterjemahkan jadi cerita,
‘pabila kita punya rasa…
Hujan turun. Airnya menetes di Belanga. Kini bibir belanga itu penuh hampir ruah. Menjelma jadi kisah anak manusia. Kisah tentang benci, kadang rindu pula.
Karena hujan di Belanga. Cerita ini ada….

… COULD HAPPENS TO US ALL

© 2007 HUJAN DI BELANGA® written by Chika Riki.
ANDI Publishing,Jogyakarta All rights reserved

Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)
Advertise Here with Today.com

No responses yet

Apr 10 2008

O,MY GOD!

Published by chika under BUKU Edit This

Hello There!
Ini Novel Teenlit Perdana gue. Cerita tentang pencarian jati diri seorang cewek yang kebingungan antara sekolah dan pekerjaanya. Juga tentang seorang cowok yang selama ini mencari sosok ayah kandungnya.
mau tahu lebih?
Baca Novelnya!

SINOPSIS O,My GOD!
Patah hati dari cinta pertama? Duh, mau runtuh deh dunia. Tapi kenyataan itu gak bikin Ayara larut dalam kesedihan. Dia melampiaskannya dengan bekerja freelance jadi waitress sepulang sekolah di kafe Mimosa.
Suatu hari karena kelalaiannya, dia hampir saja dipecat. Tapi justru itu dia jadi kenalan sama Ren, sepupu sang pemilik Mimosa. Ren yang tergila-gila musik Jepang dan tergabung dalam komunitas penggemar musik Jepang di Bandung ini diam-diam emang naksir sama Ayara.
Ketika Ren ngajak jadian, Ayara nolak lantaran dia belum yakin akan perasaannya pada cowok itu dan terlebih dia belum sanggup melupakan Benno, mantannya.
Suatu saat, Benno muncul lagi dalam kehidupan Ayara membuat Ayara goyah. Ditengah kebimbangan hatinya, muncul fakta bahwa ternyata Benno punya andil penyebab hancurnya Mimosa.
Nikmatin deh deg-degannya Ayara disaat dia harus milih antara Ren atau Benno, juga memilih antara sekolah dan dunia kerjanya. Juga sensasi di tengah-tengah komunitas penggemar musik Jepang yang unik dan pastinya belum pernah kamu temuin sebelumnya!!

Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

No responses yet

Apr 08 2008

DIAKHIR MUSIM

Published by chika under BUKU Edit This

“Nadine! Tunggu! Aku kan belum selesai bicara” katanya dengan napas tersengal-sengal. Aku tidak peduli pada suara di belakangku itu dan terus mempercepat langkahku menuju halte bis. Setibanya di halte, aku menoleh dan celingukan mencari sosok yang tadi mengejarku seperti wartawan pemburu berita gosip. Aku menarik napas lega mendapati kenyataan bahwa aku tidak lagi dikejar-kejar seperti itu. Kini aku siap menanti bis yang akan membawaku pulang ke apartemen. Kugosok-gosokan tangan untuk menciptakan rasa hangat meski hanya diujung jari-jari. Musim salju belum tiba tapi sudah mengirimkan hawa dingin seolah hendak memberi tahu bahwa ia akan datang tidak lama lagi.
“Minum ini, biar tidak terlalu dingin”. Aku menoleh. Oh Shit! Dia lagi. Bukannya dia sudah capek mengejarku tadi? Aku melengos. Kulihat dia nyengir sambil menarik lagi gelas kopinya.
“Ya sudah,kalau tidak mau. Yang penting aku sudah menawarimu minum” katanya lagi. Bibirnya yang merah seksi itu menyeruput kopi. Aku mendesis. Dasar!
“Hey, Nadine. Mumpung kamu lagi tenang nunggu bis kaya gini,aku mau ngomong lagi tentang hal tadi. Aku menawarkan kamu…”
“Sudahlah, Jacques!” tampikku. Aku melihat wajahnya sambil melotot. Jaques tampak tidak peduli. Aku makin geram.
“Heran,ditawari sesuatu yang menyenangkan kok tidak mau” katanya. Aku mendengus.
“Ayolah,Nad. Kompetisi itu tidak terlalu susah buatmu. Aku tahu kamu bisa menari. Kalau menang di Perancis, kamu bisa ikut tingkat dunia di Moskow. Waah! Apa itu tidak hebat?”lanjutnya lagi. Kali wajahnya serius. Tidak cengar cengir seperti tadi. Aku hanya diam. Malas menanggapi omongannya.
Bis yang akan membawaku pulang sudah datang. Aku segera naik. Tak disangka, si Jacques juga ikut naik, padahal jelas-jelas rumahnya berlawanan arah dengan apartemenku. Aku menampik rasa heranku dengan tidak memperdulikannya dan duduk disamping seorang ibu (tujuannya agar si Jacques tidak duduk disebelahku jika aku memilih tempat duduk kosong). Tapi dasar Jacques, ia malah berdiri disampingku, padahal banyak kursi yang masih kosong.
“Gimana, Nad? Kamu mau kan?” kata Jacques memulai usahanya lagi. Aku memasang earphone dan mendengarkan lagu dari Mp3 player, sambil baca buku.
“Nad! Nadine!”panggilnya berulang-ulang. Aku pura-pura tidak mendengar.
“Anak muda, apakah kau tidak bisa duduk? Di belakang banyak kursi kosong” tukas pak sopir yang bertubuh tambun. Jacques tampak kebingungan menjawab pertanyaan pak sopir. Aku tersenyum menyeringai.
“Nona, apa kau kenal dia? ” tanya pak sopir jelas itu ditujukan padaku. Aku memandang Jacques sekilas lalu menggeleng.
“Tidak, Pak! Saya tidak kenal dia” Jacques mengangkat alis dan melongo. Akhirnya Jacques menyerah, kemudian ia memilih duduk di kursi yang kosong. Aku tersenyum puas dan melanjutkan acara membaca buku.
Aku memandang keluar jendela. Bis baru saja melewati Hotel des Invalides. Itu berarti apartemenku masih lumayan jauh. Aku menoleh pada Jacques, ia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku melengos. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku harus ke perpustakaan besar untuk mencari beberapa referensi bahan tulisanku. Aku berdiri ketika bis berhenti di salah satu halte. Kulihat dengan ekor mata, Jacques mengikutiku turun dari bis.
“Hati-hati, Nona. Lapor polisi saja jika kau merasa terganggu dengan orang ini” pesan pak sopir sebelum aku turun. Aku mengucapkan terimakasih sedang Jacques memilih diam.
Aku tersenyum lega keluar dari La Grande Bibliothèque. Buku-buku yang aku perlukan untuk bahan tulisan sudah aku dapatkan. Aku ingin rehat sejenak melepas penat. Duduk di bangku taman di tepi sungai Seine di siang bolong seperti ini adalah pilihan yang tepat. Sengaja aku memilih tempat yang memberiku pemandangan gereja Nôtre Dame. Siapa tahu bisa memberi inspirasi. Whhhuuah..Aku menggeliat.
“Enak juga ternyata duduk disini” ujar Jacques. Astaga! Dia masih saja mengikutiku. Apa sih maunya ini anak!?
“Selama aku tinggal di Paris, baru sekarang aku nongkrong disini. Kalau kamu,pasti sering ya? Kamu kan sudah lama tinggal disini” lanjutnya lagi. Aku cuek saja sambil membaca-baca buku yang baru saja aku pinjam. SMUku, SMU Henry IV, akan mengadakan lomba menulis cerita bersambung bertema remaja dan sekolah. Hadiahnya ratusan Franc. Beberapa teman mendukungku untuk ikutan karena mereka tahu aku punya bakat menulis. Cerpenku beberapa kali dimuat di majalah remaja. Iya, semua mendukungku untuk ikut lomba menulis itu. Kecuali mahluk satu yang kini lagi duduk santai di sebelahku ini.
“Di Marseille, kami biasa nongkrong di pantai. Asyik lho, Nad. Melihat orang bermain parasailing, ski air, berenang. Kalau kamu pernah pergi ke pantai? Kalau belum sayang sekali. Aku juga pernah diajak sepupuku ke sebuah pantai di La Rochelle. C’est formidable! Disana ombaknya sangat besar dan kami…”
“Kamu bisa diam gak sih, Jacques? Gak lihat apa aku lagi konsen baca!?” sentakku. Aku rasa aku sudah kehabisan kesabaran. Jacques terkejut mendengar perkataanku. Aku sedikit menyesal membentaknya. Kemudian ia mencangklong tasnya dan berdiri.
“Ok. Aku sudah terlalu mengganggu ya? Maaf kalau begitu..” katanya lalu beringsut pergi.
“Jacques! Jacques! Tunggu. Hey!” kataku sambil berlari mengejarnya. Ia menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh.
“Maaf kalau aku mengganggumu. Aku janji, tidak akan mengganggumu lagi..” katanya.
“Jacques, bukan begitu. Aku..Aku..”
Ah! Kenapa aku jadi kehilangan kata-kata begini. Jacques melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi padaku. Rupanya ia benar-benar tersinggung. Yah, sudahlah. Mungkin besok juga baikan lagi, kataku dalam hati.
**
Aku tahu kenapa Jacques sangat ingin aku ikut kompetisi tari ballet yang diadakan oleh Departemen Kebudayaan. Karena ia tahu, aku seorang ballerina (ia pernah menemukan foto masa SMPku dengan baju ballet di sebuah laci meja belajarku). Tapi yang Jacques tidak tahu adalah bahwa sudah tiga tahun ini, aku tidak pernah lagi menari. Sejak..sejak..Tidak! aku menutup mataku. Berusaha tidak lagi mengingat kejadian tiga tahun lalu yang telah merenggut nyawa seseorang yang paling berharga dalam hidupku. Mama!
Ketika itu, sedang diadakan kompetisi tari ballet tingkat nasional. Aku sangat berharap mama bisa hadir mendukungku pada saat aku pentas di hadapan juri. Mama sangat sibuk. Jadwal kerjanya yang padat di perusahaan advertising kadang membuatnya lupa bahwa ia punya suami dan anak perempuan yang perlu perhatiannya.
Tarianku sangat sempurna. Tapi diakhir bagian tari, tiba-tiba kakiku terkilir dan aku terjatuh. Semua orang berteriak menyesal. Aku juga menyesal. Seadainya aku tahu kalau itu adalah sinyal firasat buruk. Mama, hari itu akan menonton pentasku. Ia ijin dari kantornya dan hanya diperbolehkan pergi satu jam. Ia terburu-buru menuju gedung pertunjukkan membuat ia tidak konsen mengendalikan mobilnya. Ia kecelakaan dan meninggal dunia. Mama meninggal dunia gara-gara mau menontonku menari!!
Sejak saat itu aku meninggalkan dunia ballet. Kusimpan segala pernak-penik ballet yang sudah aku geluti sejak masih kecil. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku begitu ngotot supaya mama menonton pertunjukkanku. Papa membawaku pindah dari Nice ke Paris. Iapun rela pindah pekerjaan, supaya kami berdua bisa melupakan kejadian itu. Kemudian aku bersekolah di sini. Memulai kehidupan baru kami. Tapi sejak Jacques menemukan foto lamaku dan tahu bahwa aku dulu adalah seorang ballerina, sedikit demi sedikit kenangan itu terkuak kembali. Aku samasekali tidak menyalahkan Jacques. Dia hanya tidak tahu mengapa aku tidak lagi mau menari.
**
Mataku mencari-cari sosoknya. Biasanya pagi-pagi begini ia sudah nongkrong di kafe, menunggu bel masuk sekolah berbunyi. Tapi aku tidak menemukan sosok itu.
“Cari Jacques ya?” tanya seseorang dari belakang mengejutkanku. Aku menoleh dan tersenyum. Rupanya Chloé. Teman sekelas kami juga.
“Iya nih. Tumben ya, pagi-pagi begini dia belum nongol” tukasku. Chloé mengibaskan rambut pirangnya yang panjang sebahu. Ia cewek yang sangat feminin.
“Nad, ia memang tidak masuk sekolah hari ini, ada keperluan keluarga katanya” ujarnya kemudian. Alisku bertaut.
“Iya, tadi pagi, dia sengaja kerumahku untuk mengatakan hal ini dan ia titip surat buat kamu. Nih baca!” ujar Chloé seraya menyerahkan sepucuk surat padaku. Aku tersenyum geli. Dasar Jacques. Kaya anak kecil saja pake surat-suratan. Chloé menatapku.
“Nad, beruntungnya kamu ada seseorang yang sangat memperhatikanmu. Selamat ya!” ujarnya sambil berlalu. Aku heran “Hey, Chloé! Apa maksudmu? Aku gak ngerti!” tanyaku setengah berteriak karena Chloé sudah menjauh dariku. Ia membalikkan badannya dan menebar senyum termanisnya.
“Sensitiflah sedikit, cewek bodoh!” katanya setengah berteriak juga. Aku melotot dan segera berlari mengejarnya sampai ke kelas.
**
“Nadine..Maaf kalau merasa jengah baca surat dariku ini. Aku bisa saja langsung bicara padamu, tapi kurasa akhir-akhir ini kamu selalu saja menghindariku. Aku sangat menjengkelkan ya?
Nad,, aku hanya ingin kamu bisa melanjutkan bakatmu dalam menari ballet. Aku tahu kamu hanya trauma dengan apa yang dialami oleh mamamu. Itu bukan kesalahanmu, Nadine. Samasekali. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagimu untuk berhenti menari karena mama kamu meninggal. Aku rasa, mama kamu di surga juga lebih senang kamu tetap menari. Dengan alasan kamu seperti ini, tentu ia akan sedih sekali.
Oke, sebagai penutup aku tidak akan memaksamu untuk ikut kompetisi itu (aku menyesal telah mengatakannya karena awalnya aku tidak tahu alasanmu yang sebenarnya-jangan salahkan Chloé, dialah yang memberitahuku).
Tapi pesanku, Nadine, jangan bohongi perasaanmu. Jujurlah pada kehidupanmu.
Bissous, Jacques”
Tiba-tiba dadaku terasa hangat. Aku menggigit bibir dan tersenyum.
Aku membuka kembali peti kayu buatan papa. Isinya adalah barang-barang kenangan yang menyakitkan tapi masih sayang jika kubuang. Aku keluarkan isinya satu persatu. Ada foto-foto mama ketika masih muda. Juga ada foto kami bertiga ketika berlibur ke Mount Blanc.
Baju balletku masih bagus. Berwarna pink lembut terbuat dari satin. Sepatu balletku juga masih tampak bagus. Dua benda itulah yang kupakai terakhir kali tiga tahun lalu sebelum aku memutuskan untuk menggantung sepatu. Aku berdiri di depan kaca, mematut-matut diriku yang kini telah terbalut baju dan sepatu ballet. Aku melakukan gerakan memutar dan berjinjit. Tiba-tiba aku terjatuh. Aku teringat bagaimana kakiku terkilir di panggung yang merupakan firasat ketika mama kecelakaan di jalan raya.
Aku menangis. Aku tidak sanggup. Tidak sanggup!!. segera kutanggalkan lagi baju dan sepatu balletku dan menangis tersedu di sudut kamar.
**
Di sebuah auditorium yang besar, aku menari seorang diri. Meskipun gelap dari atas panggung, tapi aku yakin, berpuluh-puluh pasang mata kini sedang memperhatikan tiap detil gerakan tarian yang kubawakan. Diiringi komposisi “The Blue Danube” aku menari bak seekor angsa yang sedang bermain di danau biru. Meliuk ke kanan, ke kiri, berputar menyamping dan sesekali ‘terbang’. Aku trance dan sangat menikmatinya. Dari arah samping panggung, papa melihatku penuh kasih. Sorot matanya menyiratkan kebanggaan yang luar biasa. Aku sempat melempar senyum pada papa. Tiba-tiba dari arah samping panggung yang lain, seorang penari laki-laki keluar dan menari bersamaku. Aku heran. Dalam skenario, tidak ada laki-laki yang menari bersamaku saat ini. Aku hanya membawakan tarian tunggal. Seluruh penonton bertepuk tangan menyambut kehadiran pria itu. Pria itu tersenyum. Oh,God! Itu Jacques!! Tubuhku mendadak kaku. Kakiku tidak bisa bergerak!!
“Ayo, Nadine! Lanjutkan tarian kita. Kita sudah latihan begitu lama, bukan?” tanyanya seraya menebar senyum. Aku melongo. Kapan aku latihan dengannya?
“Jangan kecewakan penonton yang sudah lama merindukanmu. Ups! Salah. Merindukan kita berdua, duet di atas panggung” lanjutnya lagi. Aku semakin merinding. Tiba-tiba lampu menyorot ke arahku. Ugh! Silau. Aku memejamkan mata dan terbangun. Astaga! Rupanya aku bermimpi. Apa artinya ini? Aku mimpi menari lagi begitu luwesnya seperti tiga tahun lalu, bersama Jacques?! Apakah karena suratnya tadi malam sangat mempengaruhi pikiranku? Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Deadline lomba menulis cerita bersambung seminggu lagi berakhir. Tapi aku belum bisa menyelesaikan tulisanku sampai batas halaman yang ditentukan. Pikiranku kacau. Kacau!
Entah sudah berapa bateau mouche yang lewat mondar mandir di hadapanku. Biasanya ketika duduk di pinggir sungai Seine ini, aku selalu menghitung berapa kali perahu pesiar dalam kota itu lewat di depan hidungku. Aku masih saja memegang kertas dan bolpen, berusaha membuat ending cerita bersambungku. Tapi tetap tidak ada ide. Bahkan aku tidak mampu menulis satu kalimatpun!
“Kamu tidak bisa menulis dalam keadaan seperti ini, Nadine” kata sebuah suara. Aku menoleh. Ia sudah berdiri di sampingku yang sedang duduk lesehan. Iapun ikut duduk di sampingku sambil menawarkan burger dan cola dingin. Aku segera menyambutnya karena aku memang kelaparan.
“Merci ” kataku. Ia mengangguk dan terdiam beberapa saat.
“Jacques..”
“Nad..”
Kami berdua tertawa kecil.
“S’il vous plaît, mademoiselle” katanya mempersilahkan aku untuk berbicara duluan. Aku menarik napas. Aku mengucapkan terimakasih atas suratnya dan aku samasekali tidak marah kemarin. Jacques tersenyum dan mengangguk.
“Maaf kalau aku begitu lancang memasuki duniamu yang belum banyak aku ketahui. Aku hanya tahu kau seorang penari, jadi kupikir sayang jika bakat besarmu terpendam sia-sia” katanya. Kemudian ia tertunduk. Angin sungai Seine menggoyang-goyangkan rambutnya yang agak gondrong. Aku tersenyum, sudah saatnya bersikap lunak padanya.
“Tidak apa-apa, Jacques. Aku maklum kalau kamu tidak tahu alasanku kenapa aku tidak mau lagi menari..” kataku. Semoga itu adalah jawaban yang dikehendakinya dariku. Ia mengangguk-angguk.
“Jacques, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku. Ia menoleh dan mengangkat alisnya.
“Silahkan. Kamu mau tanya apa?”
“Hmmmm, mengapa kamu..Kamu..sangat peduli padaku, Jacques?”
Ia tersenyum. Matanya memandangku agak menyipit.
“Kamu tidak tahu?”
Aku menggelengkan kepala.
“Benar-benar tidak tahu?”
Aku menautkan alis dan menggeleng. Ia melengos dan menarik napas.
“Kamu ini benar-benar bodoh atau tidak sensitif, ya?”
Aku melotot. Kok pernyataannya persis seperti yang pernah dilontarkan si Chloé sih?
“Apa maksudmu, Jacques? Aku gak ngerti!”
Tiba-tiba ia menarik bahuku sehingga wajahnya dan wajahku hampir saja menempel. Aku tercekat dan tentu saja deg-degan setengah mati. Aku tidak pernah sedekat ini dengan pria, kecuali papa.
“Dengar, Nadine. Aku…Aku mencintaimu!!”
Apa? Aku tidak salah dengar kan? Tapi aku tak sanggup berkata-kata. Hanya mataku yang memandangi kedua bola matanya bergantian. Jacques menelan ludah.
“Sudah lama, Nad. Sejak aku melihatmu pertama kali. Ketika kita berdua sama-sama jadi murid baru di sekolah. Ketika aku baru saja pindah dari Marseille dan jadi warga Paris. Satu setengah tahun yang lalu. Kamu tahu itu??”
Aku menggeleng. Shit! Betapa bodohnya aku! Mengapa selama ini aku tidak tahu kalau Jacques, teman sepermainan kami di sekolah, ternyata menyukaiku? Apa aku memang tidak sensitif atau terlalu memikirkan diri sendiri?
“Nad, aku sangat menyayangimu. Sangat! Aku selalu berusaha mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kamu terlihat begitu tertutup. Introvert. Bahkan kepadaku, atau kepada Chloé dan teman-teman yang dekat denganmu” katanya panjang lebar. Tentu saja ini membuatku terkejut. Kemudian ia menarik napas.
“Sekarang kamu tahu, kan? Kalau aku perhatian padamu, karena aku menyukaimu!”
Aku tertunduk kemudian menitikkan airmata. Aku sangat terharu dengan pernyataan Jacques. Ia sangat jujur mengungkapkan isi hatinya. Ia sangat jujur pada kehidupannya. Aku jadi malu pada diriku sendiri. Aku tidak jujur pada kehidupanku. Yah, aku masih mencintai dunia ballet. Mengapa justru aku meninggalkannya? Jacques benar. Kematian mama, bukanlah alasan untuk aku mundur dari ballet. Itu murni kecelakaan. Bukan gara-gara aku. Mungkin karena itulah selama tiga tahun terakhir ini, aku selalu tertutup seperti yang dikatakan Jacques, karena aku mulai tidak jujur lagi pada hidupku. Aku mengkhianati kehidupanku sendiri. Sungguh menyedihkan!!
“Nadine, hari sudah sore. Kalau kamu kelamaan disini. Nanti kamu sakit. Nih, pakai jaketku. Lihat tuh baju kamu tipis banget. Ayo pakai!” katanya. Aku tersenyum. Tidak terbayangkan olehku kalau suatu hari nanti Jacques jadi pacarku. Pasti aku akan dicerewetinya setiap hari sebagai bentuk perhatiannya padaku. Aku menurut saja saat ia menggandeng tanganku untuk beranjak pulang. Aku berjanji dalam hati akan jujur pada kehidupanku. Aku sudah membuat keputusan untuk kembali ke dunia ballet yang memang sudah mendarah daging dalam tubuhku. Tiba-tiba aku merasa hidupku sangat indah!

PS: Aku juga tidak akan membohongi perasaanku, kalau sebenarnya akupun sudah menyukai Jacques, sejak kami bertemu, di hari pertama sekolah…
- Fin -

C’est formidable! = luar biasa!
Merci=terimakasih
S’il vous plaît mademoiselle=silahkan nona

(Harian PR,2 Januari 2007)

Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

No responses yet

Apr 08 2008

DESA INVISIBLE

Published by chika under TULISANKU Edit This

“ Masih jauh, gak Tan?”
“ Ga, bentar lagi kok. Kenapa udah gak sabar yah?” Intan teman sekampusku menjawab.
Aku melihat sekelilingku. Hanya pohon bambu. Sangat rimbun, menaungi jalan yang hanya selebar gang rumah kostku di Jatinangor, sehingga kami seolah masuk ke terowongan. Dingin dan gelap.
Melihat aku gelisah, sang sais hanya tersenyum sambil terus menjalankan kereta kudanya.
Tak lama, kami keluar dari hutan bambu. Aku bernapas lega. Karena aku mulai melihat pemukiman dari kejauhan.
“ Itu rumahku” kata Intan sambil menunjuk di kejauhan. Aku mengangguk. Dalam hati aku ingin segera sampai di rumah Intan. Badanku pegal-pegal setelah selama tiga jam duduk di dalam Elf, semacam bis mini, lalu sekarang selama kurang lebih setengah jam, terguncang-guncang di delman.
Kalau saja Ayah dan Ibu tidak sedang dinas ke luar negeri saat aku liburan seperti sekarang ini, pastilah aku tidak akan ada disini, terseret Intan pulang ke kampung halamannya. Tapi ya sudahlah!
Delman yang kami tumpangi berhenti di salah satu rumah yang boleh dibilang paling bagus di desa itu. Intan turun dari delman membawa barang-barangnya, aku juga turun dengan kepala sedikit pusing. Setelah membayar ongkos , kami melangkah menuju halaman rumah Intan.
“ Assalamualaikum…” teriak Intan dari luar rumah. Kenceng amat, batinku.
“Waalaikumsalam…” Ada suara laki-laki dibelakangku. Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa! Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku mengusapnya. Kulihat Intan tidak bergeming dengan jawaban salamnya tadi. Ia terus mengetuk-ketuk pintu rumahnya.
“Ih, pada kemana sih orang-orang..” gumamnya.
“Assalamualaikuuuum..Mama..Papa…Reni…” ia memanggil semua orang di rumahnya.
“ Papa kamu lagi di koperasi. Mama kamu lagi ke kota. Reni masih ngaji di masjid..” jawab seorang anak kecil. Sekali lagi aku menoleh, tidak ada siapa-siapa!!
Aku beringsut mendekati Intan, ingin mengutarakan apa yang kudengar dan kulihat, tapi Intan segera menyuruhku diam.
“ Udah, Fit. Jangan dijawab. Ssstt..!” katanya membuatku makin penasaran. Tapi aku memilih diam.
“Intaaan…” teriak seorang perempuan. Aku tidak berani menoleh. Takut tidak melihat siapa-siapa lagi.
“ Mamaaa..!!” seru Intan. Sontak aku menoleh. Ternyata mamanya Intan. Datang tergopoh-gopoh sambil membawa kantung plastik berisi belanjaan. Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan. Lalu Intan mengenalkan aku pada mamanya.
“ Saya Fitri,Bu” kataku sambil mencium tangannya.
“ Ooh…Ini Nak Fitri? Intan sering cerita ke Ibu. Ayo masuk. Mama tahu Intan mau pulang, makanya mama mau masak kesukaan Intan ” kata wanita cantik paruh baya itu. Aku hanya tersenyum. Lalu kami beriringan masuk rumah.
“ Gimana kuliahmu, Nak?”
“ Yaaaa..gitu deeehhh!!”
***
Kami makan bersama di meja makan. Semua makanan seolah tersedia di meja. Aku tersenyum. Perutku memang sudah lapar sejak sore tadi, tapi mama Intan belum selesai masak. Aku heran, kami hanya berlima tapi kenapa kursi makan tersedia 8 dan piring sendok garpu juga tersedia 8? Usai membaca doa, Papa Intan mempersilahkan kami makan.
Aku terperangah ketika melihat 3 pasang sendok garpu dan piring melayang-layang sendiri, mengambil makanan dan lauk sendiri. Lalu bergerak-gerak seperti kami makan sekarang ini.
“ Hey! Jangan bengong gitu. Ayo makan nanti keburu dingin loh!” kata Intan. Semua tersenyum melihatku. Aku makin tidak mengerti dengan semua ini.
Pagi ini aku jalan-jalan mengitari desa. Desa ini sangat kecil. Bahkan tak butuh waktu setengah jam, aku sudah mengitari hampir tiga perempat luasnya. Orang-orang desa sangat ramah. Terlebih Intan adalah putri seorang pengusaha sukses yang kini memegang koperasi petani dan sangat dihormati. Penghuni desa selalu menyapa dan mempersilahkan kami untuk mampir ke rumah mereka. Sungguh desa yang sangat menyenangkan.
Ketika melakukan tour de village, aku beberapa kali berpapasan dengan pikulan berisi sayur mayur dan hasil kebun yang melayang-layang sendiri. Kalau sudah begitu, Intan akan menarikku ke pinggir seakan-akan tidak boleh menghalangi jalan pikulan itu. Kemudian terdengar suara laki-laki agak sengau yang berkata; “Punten, Neng..” dan Intan menjawab; “ Mangga, mangga”. Itu terjadi sekira tiga kali!
“ Tan, lo bisa jelasin gak ke gue, kenapa sejak kemarin gue datang ke desa ini, gue ngalamin kejadian aneh-aneh” tanyaku. Intan tertawa.
“Kemarin pas baru dateng, lo kan bilang assalamualaikum, tuh. Terus, ada yang jawab. Suaranya agak-agak sengau gitu;wa’alaikum salam, gitu katanya”lanjutku lagi. Intan tersenyum geli.
“ terus, apa lagi yang lo denger Fit?”tanyanya kemudian. Aku menarik napas. Intan tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, sih?
“Lalu waktu makan malam itu. Kenapa meja yang tersedia ada 8? Padahal kan seisi rumah plus gue cuma 5 orang? Trus gue lihat piring, sendok garpu melayang-layang sendiri. Terus barusan, banyak pikulan mondar-mandir tanpa kelihatan siapa yang memikul Ada apa dengan desa ini? Mereka yang gak kelihatan itu apa dan siapa sebenarnya?”tanyaku memberondong. Intan kini tidak lagi tertawa. Raut wajahnya mendadak serius.
“ Fit, kami tidak boleh menjelaskan siapa ‘mereka’. Bahkan kami tidak boleh menggunjingkan ‘mereka’. Adat kami disini tidak memperbolehkan untuk itu. Kalau lo penasaran, coba lo tanya saja sendiri sama ‘mereka’”kata Intan membuat mataku terbelalak.
“ Apa, Tan? Gue suruh bicara sama makhluk halus kaya begitu??”
“Ssssttt! Jaga mulut lo! Mereka itu bukan..Ups sorry gue lupa kalau gak boleh ngomongin mereka”. Aku diam. Intan juga diam dan hanya memainkan jari-jari kakinya di sungai kecil nan jernih ini.
“ Nanti di kota gue ceritain. Tapi kalau lo penasaran, ya coba aja komunikasi sama ‘mereka’. Oke, Fit?”kata Intan kemudian ia beranjak meninggalkan tempat ini.
Malam harinya aku tidak bisa tidur. Kebalikan dari malam kemarin yang sangat nyenyak-mungkin kecapekan-kali ini bahkan mataku tidak bisa terpejam samasekali. Gimana mau terpejam. Di dapur yang bersebelahan dengan kamar yang aku tiduri sekarang terdengar orang bercakap-cakap. Suara wanita dan pria juga suara seorang anak kecil. Semuanya agak-agak sengau. Mereka seperti sedang memasak. Aku mengerjapkan mata berusaha melihat jam dinding di dalam kamar yang remang-remang. Gila! Jam 3 subuh! Aku membaringkan tubuhku lagi dan berusaha untuk tidur. Tapi aku dikejutkan oleh suara panci jatuh. Aku kaget bukan kepalang.
Terngiang lagi kata-kata Intan;”Tapi kalo lo penasaran, ya coba aja komunikasi sama mereka…”
Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarku. Suara pintu yang berderenyit sejenak membuat bulu kudukku merinding dan sempat mengurungkan niatku untuk menemui ‘mereka’. Tapi ah! Nekat ajalah. Toh sepertinya ‘mereka’ bukan makhluk jahat.
Maka kulangkahkan kakiku menuju dapur. Dan astaga…! aku tidak percaya dengan pandanganku sendiri. Aku melihat kompor menyala dengan panci diatasnya. Aku jongkok untuk memastikan apakah apinya benar-benar menyala. Kemudian terdengar suara sengau yang dekat sekali di telingaku ;”Mau mie kuah,Teh?” aku terpekik. Kaget. Aku mundur beberapa langkah, berusaha menenangkan perasaanku yang masih campur aduk. Aku terkulai lemas di pojok ruangan.
“Sii..ssisiapa kalian?”tanyaku entah pada siapa. Terdengar suara mereka berbisik-bisik. Aku memandang ke segala arah berusaha tahu siapa yang sedang berbicara itu.
“ Jangan takut, Nak. Kami adalah penghuni desa ini. Sama seperti kalian.”jawab suara perempuan. Aku diam, napasku masih tersengal-sengal dan mataku masih menatap ke segala arah.
“ Kami hidup berdampingan dengan manusia di sini selama bertahun-tahun. Tapi kami tidak tahu jika kami ini jenis yang tidak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya. Mulanya kami sedih. Tapi kini seiring penerimaan masyarakat desa, kami sekarang biasa hidup seperti ini.”
“ Jadi kalian ini siapa?”tanyaku
“Kami adalah manusia seperti kalian, hanya kami tanpa wujud. Kami juga hidup layaknya manusia, bersosialisasi, beranak pinak dan punya perasaan..”
Aku terdiam. Perlahan aku mulai mengerti siapa ‘mereka’.
“Kami bukan makhluk halus. Kami berbeda dari setan, hantu atau apapun itu. Kami tetap manusia hanya dengan wujud yang berbeda”jelas wanita yang tidak tampak itu.
Aku tersenyum dan mengangguk-angguk. “Saya mengerti siapa kalian sekarang. Maaf kalau kemarin saya bersikap tidak ramah pada kalian”
“ Tidak apa-apa, Nak. Kami paham bahwa tidak semua manusia bisa menerima perbedaan bahkan dari jenisnya sendiri”katanya. Aku mengernyit.
“ Maksud, Ibu?”
“ Ya, Ibu mendengar cerita tentang manusia bertubuh tidak lengkap sering mendapat perlakuan tidak adil dari manusia yang bertubuh sempurna. Manusia yang mempunyai wajah kurang beruntung sering mendapat perlakuan tidak adil dan sepertinya pemilik wajah-wajah rupawan saja yang merasa mempunyai banyak kesempatan. Manusia hanya melihat fisik, bukan hati..”katanya
“Maka kami sangatlah beruntung, meskipun kami tidak tampak dan sering dianggap sebagai hantu atau sejenisnya, tapi kami diterima sangat baik di desa ini.” lanjutnya lagi.
Aku berdiri dan tersenyum pada keluarga itu.
“ Saya permisi pergi tidur dulu…”
“ Teteh gak mau mie kuah?”tanya si kecil. Aku jongkok, aku tahu dia pasti lebih pendek dariku.
“ Makasih, Dik. Kakak mau bobo dulu. Sampai besok..”ujarku dan berlalu dari situ. Tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu, aku segera berbalik badan.
“ Eh, Bu..”seruku. Suasana sudah hening. Kulihat sekeliling dapur yang kini sudah bersih.
Aku jadi urung untuk menanyakan kenapa adat desa ini tidak memperbolehkan membicarakan ‘mereka’?
Aku kembali ke kamar. Biarlah pertanyaan itu kusimpan baik-baik dalam hati.
Tidak terasa, aku sudah seminggu berada di sini. Aku berkemas dan siap menunggu kereta kuda di depan rumah. Intan dan Ibunya menyusulku menunggu di teras rumah.
“ Jangan bosan datang kesini, Nak Fitri ” kata Ibunya Intan. Aku tersenyum dan mengangguk. Tentu, semester depan aku ingin kesini lagi. Terlebih aku sudah mempunyai seorang sahabat. Kereta kuda yang dipesan sudah tiba, aku segera naik.
“ Teh Fitri, jangan tinggalin Elok. Huuuuuuhhuuu..” seorang gadis kecil menangis. Aku tersenyum pada sosok tak berwujud itu. Tapi aku bisa merasakan sentuhan tangan mungilnya menarik bajuku. Aku menelan ludah menahan tangis. Tenggorokanku sakit sekali.
“Besok saya kembali kesini,saya janji..”ujarku tertahan.
Kereta kuda melaju membawa kami kembali ke kota. Tempat bermacam-macam manusia dengan berbagai wujud…

Jatihandap,1 Januari 2006
(Harian PR,31 Oktober 2006)

Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

No responses yet

Feb 11 2008

The Dream Island

Published by chika under TULISANKU Edit This

dream island

 

Axl berjalan gagah di karpet merah yang telah dipagari sejumlah bodyguard dan rantai bersalut beludru menuju sebuah pintu masuk gedung yang dari tadi siang telah dikerumuni wartawan berita dan infotainment negeri ini. Pengamanan berlapis yang disediakan oleh panitia tak mampu membendung keinginan para kuli disket itu untuk mewawancarainya. “Yang Mulia Axl, hadap sini! Kesini Yang Mulia. Yak bagus!” teriak para wartawan itu sambil membidikkan kamera-kamera digital super canggih. Blitzpun berkilatan menyilaukan mata. “Yang Mulia, kapan Anda akan menyelesaikan produksi film Anda yang terbaru?” “Yang Mulia, kalau boleh tahu, siapa wanita yang sedang dekat dengan Anda sekarang ini?” tanya para wartawan itu memberondong. “Benarkah pacar Anda sekarang seorang aktris?” Pangeran Axl berjalan terus sambil terus menebar senyum. Senyum yang konon bisa membuat para wanita di negeri ini jatuh cinta setengah mati. Jangankan para gadis muda. Ibu-ibu yang udah punya anak sepuluh juga banyak yang tergila-gila padanya. “Maaf, maaf. Wartawan hanya boleh sampai disini” teriak salah satu petugas keamanan perhelatan akbar itu. Membuyarkan kerumunan wartawan. “Hhuuuuuuuu…..” teriak para wartawan kompak. Alhasil, mereka gagal mewawancarai Pangeran Axl. Padahal jika koran atau tabloid mereka memuat berita Sang Pangeran esok hari, dijamin oplahnya akan naik 100% ! Terpaksa deh, demi sebuah target, para wartawan itu harus rela menunggu sekitar dua jam lagi saat acara bubar. Siapa tahu nanti Pangeran Axl bisa diwawancara. Di dalam gedung megah yang biasa dipakai perhelatan acara-acara akbar seperti sekarang ini, terdapat puluhan, bahkan ratusan orang penting, terkenal dan terkaya di negeri ini. Dari selebritis, negarawan, socialite dan orang-orang terkenal lainnya. Mereka hadir atas undangan panitia penyelenggara malam amal guna membantu daerah di negeri mereka yang baru saja tertimpa bencana angin puyuh. Diantara orang-orang penting itu, Axllah yang paling menarik perhatian. Tidak sedikit selebritis cewek yang mengerlingkan mata dan menunggu giliran untuk diajak kencan. Diantara mereka bahkan udah punya pacar sesama selebritis juga. Diusianya yang baru menginjak 18 tahun, Axl telah menguasai seperempat kekayaan negara, warisan dari orang tuanya yang baru setahun lalu meninggal dunia karena kecelakaan pesawat terbang. Belum lagi harta ayahnya yang menyebar di berbagai negara di dunia ini, berupa hotel, pabrik, dan lain-lain. Ayah Axl tak lain tak bukan adalah adik sepupu Raja Radhgi, Raja yang sedang berkuasa saat ini. Selain kaya, Axl sangat tampan. Tubuhnya atletis, kulitnya putih dan senyumnya sangat memikat. Intinya, Pangeran Axl hampir mendekati sempurna bagi seorang manusia ! Malam itu Sang Pangeran menyumbang paling banyak. Ketika hal tersebut diumumkan, para undangan menyambutnya dengan gemuruh tepuk tangan. Sebagian dari mereka menyalaminya. Ada yang tulus, ada juga yang pura-pura. Sang Pangeran hafal sekali dengan berbagai model senyum para koleganya itu. Kalau gak karena networking, sebenarnya ia malas hadir di acara-acara seperti ini. Ia sudah muak! Begitu muaknya dengan kehidupan, setiap malam ia selalu mencari pelampiasan dengan pergi senang-senang bersama teman-teman sebayanya. Kadang ke diskotik, atau bermalam di hotel miliknya bersama gadis-gadis cantik. Ia bahkan berharap bisa menemukan kebahagiaan disana. Axl juga tidak tahu lagi bagaimana caranya menghabiskan harta yang sangat berlimpah itu. Bersenang-senang sudah. Menyumbang untuk orang miskin dan bencana alam,sudah. Tapi uangnya bukan berkurang, malah bertambah setiap harinya. Swagna, Assistennya yang setia selalu melaporkan keadaan keuangan perusahaan-perusahaan miliknya. Dari laporan Swagna ia tahu bahwa ia selalu dapat keuntungan dari perusahaan-perusahaan warisan orang tuanya yang ia jalankan itu. It means, uangnya terus bertambah dan bertambah. Wartawan kembali berkerumun ketika acara amal terbesar itu bubar. Beberapa selebritis yang ingin beken menyerobot kerumunan wartawan, mencari perhatian agar mereka bisa diekspos. Tapi sayang, perhatian para wartawan itu hanya kepada Axl. Yah, kepopuleran Axl bahkan melebihi seorang bintang terkenal yang udah main dalam berpuluh-puluh episode sinetron dan film! Pangeran Axl dengan pengawalan ketat para bodyguardnya berhasil menerobos kerumunan wartawan yang sedari tadi setia menunggunya demi sebuah berita aktual seputar dirinya. Apa yang sedang ia kerjakan, siapa pacarnya saat ini dan pertanyaan-pertanyaan gak penting lainnya. Tetap dengan senyuman khas nan memikat serta lambaian tangan ia masuk ke dalam Limousin anti peluru. Para wartawan mau tidak mau harus kecewa. Kalau sudah begini, bisa dapat beberapa gambar Sang Pangeran saja sudah untung. Sebelum mobil berjalan ia sempatkan menoleh pada kerumunan wartawan-wartawan itu, tiba-tiba pandangannya terpaku pada sesosok perempuan muda yang tentu saja itu bukan salah satu gadisnya, berdiri diantara kerumunan wartawan. Gadis cantik itu sangat menarik perhatiannya. “Berhenti!” perintahnya pada si supir. Ia celingukan di dalam mobil mencari perempuan muda tadi. Tapi perempuan itu telah lenyap. “Siapa yang kau cari Tuan Muda?” tanya Swagna melihat tuannya seperti sedang mencari seseorang. Axl menggelengkan kepalanya. Ia pikir mungkin ia sudah terlalu banyak minum anggur di acara tadi hingga pusing. Mobil melaju lagi membelah jalan ibukota yang ramai dan padat. Dirumahnya yang seluas lima hektar itulah, Axl melalui hari-harinya. Ia tak habis pikir, buat apa ayahnya membeli rumah sebesar ini, hanya untuk ditinggali dia seorang diri. Sebenarnya Axl tidak tinggal sendiri sih. Puluhan bodyguardnya juga tinggal disitu. Cuma beda gedung saja. Namun meski puluhan bodyguard dipekerjakan, Axl bukannya tidak kuatir akan harta yang berlimpah dan keselamatan dirinya. Ia tetap saja waspada. Bahkan ketika tidur, tangannya selalu menggenggam senjata berpeluru penuh dan para bodyguardnya berjaga-jaga diluar kamar secara bergantian. Ya,Axl selalu siaga satu. Tak sedikit ancaman dari orang-orang yang tidak menyukainya. Mereka adalah orang-orang yang selalu tersenyum di depannya dan menyeringai di belakangnya. Mereka adalah orang-orang yang dulu jadi pesaing ayahnya dan otomatis, kini juga menjadi musuhnya. Pangeran Axl juga tidak segan-segan membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi langkahnya. Siapapun yang mencoba menjegal bisnisnya. Tentu saja ia tidak membunuh dengan tangannya sendiri. Banyak yang menawarkan diri untuk itu dengan imbalan puluhan bahkan ratusan juta. Apa daya kenyataan inilah yang harus diterima Pangeran muda Axl sebagai takdir. Kalau ia boleh memilih, ia ingin memilih hidup tenang dan jauh dari dunia yang sarat kemunafikan ini. Tapi ia tidak tahu caranya! Tidak terasa lima tahun sudah ia menjalani kesendirian ini sepeninggal orang tuanya. Ia ingin memperingatinya dengan mengunjungi makam ayah dan ibunya yang terletak di kompleks pemakaman keluarga raja. Ia ingin berdoa untuk kedua orangtuanya. Ketika hendak meninggalkan pemakaman orang tuanya, ia melihat seorang gadis sedang berdiri dekat sebatang pohon. Mengenakan baju hitam, kacamata hitam,payung hitam. Semua serba hitam. Gadis itu seperti yang ia lihat di kerumunan wartawan di acara amal lima tahun yang lalu! Gadis itu menghampirinya. Sang Pangeran terpaku ditempatnya. Makin lama gadis itu kian mendekat. Axl mencoba tersenyum pada gadis itu. Gadis itu pun membalas senyumannya. Tapi ada yang aneh disenyuman itu. Senyuman penuh misteri. Meskipun tersenyum, pandangan gadis itu kosong. Jantung Axl berdegup kencang. Wajah gadis itu sangat sangat dikenalnya. Tapi siapa? Sementara ia berfikir keras, si gadis misterius itu semakin mendekat. “Kau..kau lihat dia?” tanya Axl pada bodyguardnya. “Siapa,Tuan?” tanya si bodyguard sambil melihat ke sekeliling tanah pekuburan yang sunyi senyap. Tidak ada satupun manusia kecuali mereka berdua. “Tolol! Itu,perempuan yang pake baju serba hitam!” bisik Sang Pangeran karena si gadis makin dekat dengannya. Si bodyguard tentu kebingungan dan mendadak bulu kuduknya berdiri. Tapi demi Sang Pangeran ia pura-pura melihat. “Oh ya, yang itu! Ya saya melihat” jawabnya dengan gusar. Sebenarnya ia ingin segera lari dari pemakaman itu. Si gadis kini berdiri tepat di depan Sang Pangeran. Wajahnya yang cantik tentu membuat Axl agak berdebar-debar juga. Tapi pandangan gadis itu kosong. “Temui aku” bisiknya pada Sang Pangeran. Mengambang dan dingin. Axl geragapan. Sebelum ia berkata-kata. Gadis itu melangkah lagi menjauh dari Sang Pangeran. “Tunggu!” sergah Axl mencoba untuk berbicara sesuatu. Siapa dia sebenarnya? Ia harus menunggu dimana? Tapi gadis itu tak menghiraukannya. Tinggallah Axl dan bodyguardnya yang berdiri terpaku di tanah pekuburan yang sunyi senyap itu. ** Axl sedang terbuai hembusan angin pantai. Menikmati siang di pulau miliknya sendiri ini memang sangat mengasyikkan. Sebentar lagi gadis-gadisnya akan datang menyusulnya. “Jam berapa mereka datang?” tanyanya pada salah satu bodyguardnya. Tak satupun dari bodyguardnya yang menjawab. “Hey! Aku tanya, jam berapa gadis-gadisku akan dat…” mulutnya segera berhenti berkata-kata ketika ia menoleh, tak satupun dari bodyguardnya ada disana! Ia mendesis, kemana mereka?! Axl celingukan. Pulau ini sangat sunyi. Ia berlari kesana kemari mencari para bodyguardnya yang seharusnya disini menemaninya. Ia berteriak-teriak memanggil nama-nama mereka. Tapi sayang tak satupun menjawabnya. Tiba-tiba dari arah belakangnya, seseorang memanggil namanya. Lembut sekali. Ia menoleh dan betapa terkejutnya ia. Itu gadis yang ia lihat dikerumunan wartawan lima tahun yang lalu! Gadis yang ia lihat di pemakaman orang tuanya. Dan gadis yang telah menyuruhnya untuk menemuinya entah dimana. Jadi, siapa dia sebenarnya? Mengapa ia ada disini? “Jangan terkejut. Aku senang kau telah menemuiku disini. Tinggallah bersamaku. Aku kesepian” bisiknya lembut membuat Axl tak lagi memikirkan siapa gadis itu dan mengapa ia ada disini. Sementara malam itu.. “Jangan bergerak!! Taruh semua senjata kalian dan angkat tangan. Kalau sampai ada yang bergerak, aku tidak akan menjamin keselamatan kalian. Ingat! Bossku hanya menginginkan anak ingusan yang sok jagoan ini mati. Bukan kalian!” teriak seseorang pemimpin gerombolan bertopeng yang berhasil masuk menembus benteng rumah Pangeran Axl. Para bodyguard yang jumlahnya puluhan itu lumpuh oleh gerombolan yang jumlahnya lebih banyak dari mereka. Para bodyguard itu sangat menyesal, mengapa gerombolan bertopeng itu bisa sampai masuk rumah ini. Asisten pribadi Sang Pangeran juga sangat menyesal, mengapa Pangeran Axl hanya tertidur saja ketika ia bangunkan untuk segera menyelamatkan diri. Kini nyawanya sedang terancam bahaya. Si pimpinan gerombolan tersenyum senang melihat calon mangsanya tertidur pulas. Segera ia menarik picu senjatanya mengarahkan tepat pada jantung Sang Pangeran. Timah panas itupun menembus tubuh Axl. Darahpun tumpah. “Ini untuk bossku! ” teriaknya. Pimpinan gerombolan lalu membuka topeng dan menghujani tubuh Sang Pangeran dengan serentetan peluru. “Yang ini untuk arwah ayahku, yang kau bunuh 2 tahun lalu” desisnya bengis dan iapun melangkah pergi. ……….Sang Pangeran sedang menikmati keberduaannya dengan gadis itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumahnya dan apa yang terjadi pada dirinya. Ya, Axl juga tidak tahu kalau separuh warga negara kini sedang menangisi kepergian abadinya. Ia tidak mau lagi memikirkan apa-apa lagi. Ia hanya ingin disini. Di pulau impiannya. Karena disinilah ia merasa hidupnya sangat sangat damai…

 

the-dream-island.jpgRaven Island,29 September 2005

Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

No responses yet

Feb 11 2008

Laki-Laki yang Mencintai Vira

Published by chika under TULISANKU Edit This

Christian

Tiba-tiba saja sekujur badanku gemetar. Sepucuk surat dari Christian untuk seseorang yang dicintainya bergerak-gerak sendiri ditanganku tanpa diminta. Aku tercekat melihat ruangan kelas di hadapanku penuh dengan siswa kelas 2 IPA 1. Tatapanku tertuju pada seorang gadis yang namanya tertera di sampul merah jambu surat itu. Vira.

“Vira, boleh aku bicara sebentar..?” tanyaku ketika sudah berhadapan dengan pemilik wajah indo Padang-Belanda. Parasnya cantik. Bahkan cantik sekali. Tidak heran kalau seluruh siswa laki-laki di sekolah ini begitu ingin jadi kekasihnya. Termasuk Christian. Vira menatapku tajam laksana ribuan jarum menusuk-nusuk retina mataku. Aku salah tingkah.

“Kamu lagi! Pasti mau ngasih surat cinta dari…siapa? yang pincang itu?” ujarnya ketus. Deg! Jantungku mendadak berhenti sejenak. Aku hendak marah, tapi kutahan. Bagaimanapun juga, aku harus mengendalikan emosiku. Tujuanku hanya satu, mengantar (untuk yang kesekian kalinya) surat Christian dan harus sampai ke tangan Vira.

Vira menerima surat itu. Disaksikan seluruh anggota gengnya. Aku menarik napas lega. Tapi sedetik kemudian tanpa dilihat dan dibaca, Idola sekolah itu merobek-robek surat bersampul merah jambu itu tepat di depanku. Aku terbelalak. Sementara Vira dan anggota gengnya tertawa-tawa sambil menunjuk-nunjuk mukaku.

Maaf, Liz. Aku sudah tahu isinya dan sampaikan sama si pincang: Aku menolaknya jauh sebelum dia nyatain suka sama aku” kata Vira. Tawa mereka tambah berderai-derai.

Wajahku memerah. Kali ini aku tidak bisa tahan lagi. Hatiku sakit sekali. Segera saja aku berlari meninggalkan kelas itu menuju taman kecil di belakang perpustakaan dimana Christian sudah menungguku disana.

Aku berhenti sejenak sebelum Christian melihatku. Aku harus berkata apa? Kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya terjadi, itu pasti akan menyakiti hatinya. Aku melangkahkan kaki lagi. Ketika melihatku datang, ia tersenyum.

“Gimana,Liz? Sudah kamu sampaikan?” ia menatapku penuh tanya dan berharap kalau surat itu telah dibaca pujaan hatinya. Duh! Mata itu. Gimana aku tega?

“Tenang. Dia sudah terima surat itu kok” jawabku. Aku tidak berani menatap matanya. Ia menarik napas dan membenahi letak sepatu besi yang selama 6 tahun setia nempel di kakinya kirinya.

“Syukurlah..” kudengar nada suara Christian sangat gembira. Kemudian ia menawariku roti bakar yang dibekali ibunya sebelum berangkat sekolah.

Aku dan Christian tidak pernah terpisahkan. Kami berteman sejak masih kecil. SD yang sama, SMP yang sama dan kini SMU yang sama pula. Kami tinggal di satu perumahan. Rumahnya hanya diselingi satu rumah sebelum rumahku. Setiap hari kami pergi ke sekolah bersama-sama. Pulang bersama-sama. Main di lapangan bola yang terletak di tengah-tengah perumahan, menerbangkan layang-layang, bermain kelereng, bersepeda hingga ke pinggiran pematang sawah. Aku masih ingat sekali bayangan masa kecil kami berdua. Kami berpisah hanya tidur saja. Oh tidak, kami juga pernah berpisah ketika Christian bersama orangtuanya pergi ke Surabaya, menengok nenek mereka yang sakit keras (dan kini sudah meninggal) ketika ia masih kelas 5 SD. Dan terjadilah kecelakaan itu. Mobil mereka tertabrak kereta api di lintasan tak berpintu. Semua selamat, hanya kakak pertama Christian yang meninggal dunia. Ayah, Ibu dan dua adik Christian hanya luka ringan. Sementara Christian harus kehilangan satu kaki sebelah kirinya karena tidak bisa lagi dioperasi. Mulanya ia depresi dan tidak mau sekolah, karena malu punya kaki hanya satu. Seluruh keluarganyapun hampir putus asa dengan keadaannya. Pelan-pelan, keluarganya (tentu saja aku terlibat) berhasil mengembalikan rasa percaya diri Christian, terlebih setelah ia sudah bisa berjalan layaknya orang yang mempunyai kaki lengkap dengan bantuan kaki palsu. Aku sangat-sangat bersyukur bahwa temanku sudah mau bersekolah lagi seperti dulu.

***


Menunggu Hujan Reda

Diluar masih hujan. Sudah sejam yang lalu kami terjebak disini. Untung saja di toko buku yang hanya menjual buku-buku impor ini ada kafetaria. Jadi kami bisa numpang menunggu hujan reda sambil baca-baca buku yang baru saja kami beli. Christian menyeruput minuman hangatnya. Matanya tidak lepas dari novel Sydney Sheldon yang telah memikat hatinya. Tanpa sadar sudah berdetik-detik aku memandangnya. Sekian lama berteman, baru kali inilah aku memandanginya begitu lama. Wajahnya lonjong dan keras di bagian rahangnya. Matanya sipit agak tertarik ke atas sehingga ketika dia melirik kesamping kesannya seperti orang culas. Kulitnya putih dan bersih hampir tanpa pori. Bibirnya juga tipis kemerahan dan selalu basah. Rambutnya hitam, sangat halus dan poni yang sengaja dibiarkan panjang itu jatuh ke dahinya, hm.. cool!!

Sebenarnya dia sangat tampan. Postur tubuhnya juga tinggi dan tidak terlalu kurus. Oh,My God! Mengapa aku baru sadar kalau ternyata Christian, sahabatku dari kecil ini,sangat menarik!

“Liz,kopinya jangan dibiarkan dingin” ujarnya tanpa melihatku. Matanya hanya tertuju pada deretan tulisan karya Sydney Sheldon saja. Aku tergeragap. Wajahku mendadak memanas. Jangan-jangan Christian tahu aku sedang memandanginya! Aku segera membuang pandangan keluar jendela (sebelum kepergok Christian!) dan menangkap pemandangan yang sangat menarik bagiku. Seorang perempuan anggun dan tentu saja cantik, sedang berusaha turun dari mobil. Di dekatnya ada seorang laki-laki yang membantunya turun sambil memegangi payung. Aku kenal perempuan itu, namanya Vira dan aku juga kenal laki-lakinya, namanya Seno, putra pengusaha terkenal di kota kami dan satu SMU dengan kami. Aku melirik Christian yang masih asyik membaca, aku berdoa semoga ia tidak melihat adegan itu. Vira dan Seno masuk ke supermarket yang bersebelahan dengan toko buku. Aku mengikuti sampai bayangan dua manusia itu menghilang ditelan dinding supermarket. Aku bernapas lega. Mungkin dua orang itu tidak suka buku, jadi kami tidak ditakdirkan bertemu di sini.

“Lihat apa,Liz? Serius amat” tanya Christian membuatku tergeragap untuk yang kedua kalinya di hari ini. Cepat-cepat aku berdiri, menghampiri Christian yang duduk di hadapanku dan menarik tangannya untuk segera pulang.

“Ayo,Chris. Hujannya sudah berhenti”ujarku padanya. Ia mengangguk dan mengemasi kantong kresek yang isinya buku semua. Christian memang gila sastra!

Ia tampak kesulitan berdiri. Aku membantu memegangi tangannya dan sampai dipintu keluar toko buku aku masih saja memegangi tangannya. Tapi tampaknya ia tidak keberatan aku berbuat begitu, jadi aku juga santai-santai saja.

***

Penghinaan

Hasil karya ilmiah kelompok kami masuk 10 besar! Itu artinya aku dan timku akan ke Jakarta untuk berlomba di tingkat nasional. Akhirnya! Berita ini baru saja disampaikan Kepala Sekolah tadi dan aku segera mencari sosok di sekolah ini yang akan aku beritahu untuk pertama kali. Mataku beredar mencari-cari sosok tinggi kurus dan berwajah agak pucat itu. Hey,Chris, dimana kamu? Aku melongok ke dalam kelas. Tidak ada. Di kantin juga tidak ada. Aku tersenyum dan berkata bodoh pada diri sendiri. Pastilah ia sedang di taman kecil di belakang perpustakaan, tempat menyepinya.

Benar saja! Christian duduk sendiri disana. Aku berlari gembira menghampirinya. Tentu saja karena aku membawa berita bahagia!

“Chris! Kamu disini ya?” aku duduk di sebelahnya. Ada yang aneh. Biasanya ia selalu menyambut kedatanganku dengan menatapku kemudian tersenyum. Tapi tidak dengan kali ini. Tatapannya hanya tertunduk. Tangan kirinya memegang secarik kertas yang sudah digambari sketsa karakter buatannya (ohya, selain gila sastra,Christian juga gila kartun), tangan kanannya masih memegang pensil. Di kertas itu ada dua buah tetes air. Aku segera menduga itu adalah tetesan air mata!

“Chris, kamu menangis?” tanyaku hati-hati. Aku berusaha menghargai segala perasaannya. Sejak kecelakaan yang merengut kaki kirinya itu, aku sudah terbiasa dengan aneka perubahan moodnya. Mungkin sebagian orang yang kenal aku akan berkata bahwa aku cewek penyabar bisa berteman dengan Christian yang moody itu. Tapi lebih dari itu semua, akan kujawab kalau aku bisa begini karena aku sangat menyayangi Christian. Sayang sebagai apa? Nah, ini yang aku tidak tahu.

Dia menghinaku,Liz” ujarnya tertahan. Kepalanya makin menunduk.

Siapa,Chris? Bilang sama aku” kataku agak keras. Kurasakan hatiku juga bergetar-getar menahan amarah. Siapa yang sudah menghinanya?

“Dia, didepan puluhan siswa, menunjuk-nunjuk mukaku, dan bilang bahwa aku, Christian Aditya Ankara, adalah si pincang yang tidak tahu malu. Berani menyukainya tanpa berkaca dulu seperti apa rupa dirinya!!” jelas Christian ditengah sesegukannya. Hatiku remuk dan hancur. Aku bersimpuh di depannya, berusaha mengangkat wajah itu.

Kamu bilang, dia sudah membaca semua surat-suratku, kan?” tanyanya menoreh satu perih lagi dihatiku, menelanjangi semua kebohonganku bahwa sebenarnya surat-surat itu tidak pernah terbaca. Aku menggeleng.

“Chris, aku minta maaf. Minta maaf..” kataku serak. Christian mengangkat wajah sedikit.

Sudah,Liz. Dari awal aku sudah tahu bahwa aku akan ditolak. Tapi kamu selalu saja menyemangatiku untuk terus berkirim surat..”

“Karena aku tahu, surat itu tidak pernah terbaca,Chris! Aku membujukmu untuk terus berusaha dan berusaha merebut hatinya!” sahutku cepat. Aku menghapus airmataku dan berdiri.

“Kalau begitu, aku akan buat perhitungan dengannya. Dia tidak boleh berkata begitu padamu!” Christian menarik tanganku. Aku tersentak dibuatnya. Ia menggelengkan kepala tanda melarang.

“Kenapa,Chris?! Biar dia tahu kalau dia bukan satu-satunya cewek cantik di dunia ini dan memperlakukan orang seenak jidatnya!” teriakku geram, memecah kesunyian taman kecil ini. Christian menarik tanganku lagi kali ini membuat aku jatuh bersimpuh di hadapannya. Ia menatapku.

“Kamu jangan berbuat itu pada orang yang aku cintai..”pintanya lirih dan tertahan. Kemudian ia memelukku. Akupun menangis sesegukan di pundaknya. Mendadak kurasakan hatiku perih. Entah perih karena apa..

***


Tragedi

Hari kesekian setelah Christian menerima perkataan paling hina. Tapi tampaknya ia sudah melupakannya. Drama Caligula yang dipentaskan oleh teater Francophonie sudah limabelas menit berakhir. Jam sudah menunjuk angka 10 malam. Aku dan Christian berdiri tak jauh dari gedung CCF (Centre Culturel de Francais) menunggu angkot untuk pulang. Duapuluh menit. Kakiku sudah mulai pegal. Lalu aku melirik Christian, ia juga sebenarnya gelisah, tapi diam saja.

“Chris, kita jalan ke sebelah sana,yuk. Kita bisa nyegat angkot lain. Tampaknya angkot oranye sudah gak beroperasi jam segini”kataku. Christian mengangguk lalu kami berjalan menuju perempatan. Udara sangat dingin. Kurapatkan syal yang sedari tadi setia menggantung di leher. Christian memeluk pundakku. Aku tidak kaget. Dia biasa melakukan itu, sejak kami masih kecil lagi. Spontan,akupun memeluk pinggangnya. Lumayan,ada rasa hangat sedikit.

Akhirnya kami tidak berhenti di perempatan untuk mencari angkot. Kami terus berjalan, menembus dinginnya malam sambil terus bicara. Tentang Caligula, tentang teater Francophonie, tentang Perancis. Christian tahu banyak tentang negara itu. Tidak heran, dia kan suka baca. Kami terus berjalan (lambat-lambat pastinya, karena kaki Christian tidak memungkinkan untuk berjalan cepat). Kami terus berbincang. Sesekali aku memandangi wajahnya yang melankolis. Sedangkan dia terus berpandangan lurus.

“Liz, kamu sadar tidak kalau kamu cantik?” tanya Christian tiba-tiba, keluar dari jalur pembicaraan. Membuat aku tersentak. Kaget? Pastilah. Seumur kami berteman, baru kali inilah Christian bilang aku cantik. Christian tertawa. Aku tersipu dan menggelengkan kepala.

“Kenapa sih, kamu belum saja punya pacar?” tanyanya lagi. Sekali lagi, ini bukan pertanyaan yang mudah kujawab. Aku sudah biasa menjawab cepat pertanyaan yang diajukan guru di kelas. Tapi tidak dengan pertanyaan barusan. Aku menunduk.

“Aku tahu kenapa kamu belum juga punya pacar padahal kamu cantik..”ujar Christian seperti berusaha menjawab pertanyaannya sendiri. Aku menengadah.

“Aku sudah punya kamu,Chris..” jawabku spontan. Aku sendiri terkejut dengan statementku tadi. Christian apalagi. Ia menghentikan langkahnya dan melihat wajahku lekat-lekat. Aku menggigit bibir.

“Maksud kamu,Liz?” tanyanya penuh rasa heran. Aku mengelak dan menepis cengkeraman tangannya. Aku melanjutkan langkahku lagi. Christian mengejarku.

Tiba-tiba aku melihat sosok di kejauhan. Sosok yang aku dan Christian kenal sangat baik. Vira! Ia keluar dari sebuah rumah besar di ruas jalan yang sepi ini dipapah dua pria yang tidak aku kenal. Aku melangkah mendekatinya, Christian mengikutiku.

“Liz,jangan dekati mereka. Mereka mabuk” cegahnya. Sejenak aku ragu. Tapi aku melihat dua pria itu menggerayangi tubuh Vira dan hendak membawa Vira masuk ke mobil mereka. Aku berlari mendekat. Christian menarik tanganku berusaha mencegah. Tapi keinginanku untuk menolong Vira sangat besar.

Lepaskan dia, Berandal!”sentakku pada dua pria berbadan besar itu. Aku agak gentar juga. Christian maju mendekatiku. Dua pria bertampang bengis itu melihat kami penuh amarah, sementara Vira duduk bersimpuh tak berdaya. Ia sudah mabuk berat.

Hey, anak kecil! Mau apa kau,hah?! Melawan kami?” tanya seorang dari mereka. Lalu mereka berdua tertawa-tawa.

“Dia Vira teman kami. Jangan kalian macam-macam terhadapnya!” kataku lantang. Dua pria itu saling pandang. Kemudian tertawa lagi.

“Jadi kau juga seorang pelacur, ya? Hahaha! Dan kau siapa, Bung? Germo mereka?” mereka berdua tertawa-tawa. Aku marah besar. Tidak rela dihina seperti itu. Christian juga marah. Ia maju mendekati mereka. Memukul perut salah satu dari dua pria itu. Pria itu tampak kesakitan memegangi perutnya. Tidak menyangka pukulan Christian akan sesakit itu.

“Sialan kau! Minggir Jhon, akan kuhabisi anak-anak ingusan ini!”teriak pria satunya. Ia maju dan memukul Christian dari belakang. Christian jatuh tersungkur. Mulutnya mengeluarkan darah. Kemudian pria bernama Jhon maju mendekati Christian. Aku terkejut melihat kilatan pisau yang ada di tangan Jhon. Aku memekik. Secepat kilat aku berlari berusaha mencegahnya menyerang Christian. Si Jhon sadar dan segera membalikkan badan. Pisau yang dipegangnya menusuk tepat di perutku. Aku terdiam. Vira yang melihat kejadian itu menjerit histeris memecah kesunyian ruas jalan. Aku merasakan aliran darah keluar dari perutku. Deras. Tapi aku sedikitpun tidak merasa sakit.

“Liz! Liz!” teriak Christian panik. Si Jhon dan temannya juga panik. Mungkin ia juga tidak sengaja mencelakaiku. Tapi tetap saja ia akan divonis salah karena sudah melukaiku.

Lari, Jhon! Sebelum ada polisi!” teriak pria teman Jhon. Aku jatuh terkulai. Dua pria berandal itu lari tunggang langgang. Christian memapah tubuhku sampai ke pangkuannya.

Liz! Liz! Bertahanlah. Aku akan cari bantuan. Liz..!”

Ia menangis. Airmatanya jatuh ke wajahku. Hangat sekali. Aku tersenyum melihat wajahnya. Sedari kecil, Ia gampang sekali menangis.

Chris..”

Tiba-tiba semuanya memudar.

***

Aku dan Christian

Aku sudah pulih. Ternyata lukaku tidak terlalu besar dan hanya butuh beberapa jahitan saja. Tapi meski begitu aku belum boleh pulang selama seminggu kedepan. Sudah terbayang jenuhnya berada disini terus. Aku bersyukur bahwa aku selamat dari kejadian itu dan yang lebih menggembirakan, polisi telah berhasil menangkap Jhon dan temannya hanya dalam waktu satu hari.

Christian duduk disamping ranjang dan sesekali menawari aku makan sesuatu. Aku tersenyum teringat 6 tahun yang lalu, ketika Christian yang berada di rumah sakit, akulah yang setiap hari menemaninya.

Liz..” panggilnya lembut. Aku menoleh.

“Vira minta maaf karena selama kamu pulih, ia belum sempat menengokmu lagi.”kata Christian. Aku mengangguk.

“Ohya, semua biaya rawat inap dan operasi, Vira yang menanggung sebagai rasa bersalahnya padamu. Aku diberi amanat untuk menyampaikan terimakasih karena kamu telah menyelamatkannya dari para berandal itu” lanjut Christian lagi. Aku berusaha duduk.

“Chris, ia harus berterimakasih pada kita berdua” ujarku. Suaraku masih parau tapi kupaksakan bicara.

“Kalau sudah sembuh, aku mau ngomong sama dia untuk mempertimbangkan kamu jadi pacarnya. Pasti ia akan menerimamu. Kamu kan sudah jadi hero buatnya. He he..” lanjutku sambil mencubit pipinya. Christian menggeleng.

“Liz, ternyata aku baru sadar kalau aku tidak pernah mencintai Vira..” katanya.

“Hee?!” tanyaku terkejut. Kemudian wajahnya mendekat ke wajahku. Sedetik kemudian bibirnya yang tipis kemerahan (yang sempat kukagumi itu) menyentuh rapat bibirku. Aku terkesiap. Christian temanku sejak kecil itu menciumku!!

“Aku sudah punya kamu,Liz. Itu lebih dari cukup. Aku nggak mau kehilangan kamu..Aku sayang kamu..!!” lanjutnya lagi. Wajahku memerah. Entah karena pernyataan barusan atau ciuman dari bibir tipisnya yang hangat tadi. Aku tersipu. Kemudian kurentangkan kedua tanganku. Christian mengerti kode itu dan ia memelukku erat sekali.

“Aku juga sayang kamu,Christian”kataku lirih di telinganya. Penuh bahagia. Ah! Aku dan Christian memang tidak pernah terpisahkan!

- The End –


Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

No responses yet

Feb 11 2008

ILLUMINATI

Published by chika under TULISANKU Edit This

Model cantik itu menyambar tasnya yang berisi pakaian ganti dan perlengkapan kerjanya. Ia melirik jam tangan. Sudah pukul 22:03. Bergegas ia keluar dari ruang ganti menuju lift yang akan membawanya ke tujuh lantai di bawah. Sambil berlari kecil ia lindungi kepalanya dari gerimis hujan. Lapangan parkir luar sudah sepi. Hanya ada beberapa mobil termasuk mobilnya. Kini ia sibuk mencari-cari kunci mobil dalam tasnya yang besar. Udara dingin sangat menusuk tulang membuat tangannya gemetar ketika hendak memasukkan anak kunci ke pintu mobil. Shit! Runtuknya. Kunci itu jatuh dalam genangan air di bawah kakinya. Ia membungkukkan badan dan meraba genangan air. Tapi kunci itu tidak ketemu. Sementara lampu di sekitar lapangan parkir tidak menolongnya untuk melihat di mana kunci itu berada. Ia akhirnya jongkok untuk dapat melihat lebih jelas lagi sambil terus meraba-raba genangan air itu.

“Bisa saya bantu, Mbak?” tanya sebuah suara berat dan parau. Tentu saja gadis cantik itu kaget bukan kepalang. Karena bersamaan itu pula sebuah cahaya yang berasal dari lampu senter langsung menerpa wajahnya sehingga ia tidak bisa melihat si Pemilik Suara.

Ia lantas berdiri sambil terpicing-picing menghindari terpaan cahaya.

“Oh..Pak Narto. Kunci mobil saya jatuh di genangan ini. Saya cari-cari gak ketemu” katanya setelah mengenali pemilik suara itu.

“Mari saya bantu cari, Mbak” ujar pria yang seragam satpamnya tersembunyi di balik jas hujannya.

Tiba-tiba ponsel gadis dengan tinggi semampai itu berbunyi lalu ia memberi isyarat pada Narto untuk mencari kunci mobil itu.

“Hallo, Mama?! Apa?! Aduh, suara Mama putus-putus..”. Sang model menggeser posisi berdirinya sehingga agak menjauh dari mobilnya. Sementara pria yang bernama Narto tersebut mencari kunci mobil di genangan air.

“Masih di Sentra TV, Ma. Udah di parkiran, sih. Apa?! Iya, langsung ke Bogor. Gak. Eileen gak ke Rasuna dulu. Langsung ke Bogor. Iya, iya. Eileen hati-hati. Oke, Ma. Bye!”. Klik. Ia pun kembali ke mobilnya.

“Nih Mbak, kuncinya” kata si pria sambil tersenyum lebar.

“Waduh, terimakasih ya,Pak Narto”

Narto mengangguk hormat dan berlalu dari situ. Eileen kemudian memencet tombol central lock tapi rupanya rusak karena tadi tercebur air. Setengah menggerutu ia memasukkan anak kunci ke pintu mobil dan alarm mobilpun berbunyi. Aaarrrrggggghh!! Kini ia kebingungan karena tidak tahu cara mendiamkan alarm mobil yang menyalak-nyalak ditengah kesunyian lapangan parkir yang luas itu. Ia menoleh kanan kiri berharap satpam Narto kembali menghampiri untuk menolongnya.

Benar saja. Tiba-tiba ada sorotan lampu senter yang sangat terang menerpa wajahnya. Eileen tersenyum pada orang itu. Tapi ia sadar, sosok itu bukan Pak Narto. Kebalikan dari Narto yang gempal, orang itu tinggi, kurus dan mengenakan jaket tebal bertudung. Eileen kembali terpicing-picing untuk mengenali pria itu. Belum sempat bibirnya berkata-kata, ia melihat kilatan pisau yang siap dihujamkan kepadanya. Eileen terpekik dan segera berlari sambil berteriak minta tolong. Tapi tak seorangpun mendengar teriakannya. Eileen terus berlari ke arah mana ia tidak tahu. Pandangannya gelap, segelap langit malam saat itu, hitam tanpa bintang. Hanya rintik hujan yang terus memercik-mercik.

Sesampai di semak belukar di belakang gedung stasiun TV, Eileen berhenti untuk mencari tempat persembunyian yang sekiranya aman dari kejaran pria tak dikenal itu. Napasnya tersengal-sengal dan jantungnya berdebar-debar. Ia menoleh ke belakang. Pria itu sudah tidak ada. Phhhuih! Eileen bernapas lega. Mungkin pria itu kini sudah menggasak mobilnya.

Gedung Sentra TV masih terlihat menjulang dari tempat ia berlindung sekarang. Dalam kegelapan ia mencoba menelepon Damian, kakak laki-lakinya. Ada nada sambung. Tapi tidak diangkat. Ia coba lagi dan lagi. Tapi tetap tidak diangkat. Tiba-tiba Eileen menjerit. Dari arah belakang, ia disergap seseorang dan mulutnya dibungkam dengan saputangan. Bersamaan itu pula teleponnya tersambung. Namun dengan gesit si penyergap merampas ponsel Eileen dan membantingnya ke tanah. Dua detik kemudian, ia terkulai lemas.

“Hallo…! Hallo..! Eileen?! Ada apa? Hey! Suara kamu putus-putus, nih…!”

***

Di ruangan yang sangat luas, seorang model cantik usia 21 tahun yang sedang naik daun, dan tengah meniti karir sebagai aktris dan presenter dengan bayaran mahal duduk terkulai lemas di sebuah kursi. Tangan dan kakinya terikat erat dengan seutas tambang plastik yang besar. Mulutnya disumpal saputangan yang terikat sampai ke punggung leher.

Matanya mulai mengerjap-ngerjap dan terasa berat sekali untuk dibuka. Pandangannya kabur. Setiap kali ia mencoba membuka matanya, apa yang ia lihat seolah bergerak berputar. Ia mengernyitkan alis dan mendesis. Kepalanya pusing sekali. Ia belum sadar apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Lamat-lamat ia mendengar alunan lagu milik sebuah grup band ternama. Eileen kenal lagu itu. Kenal sekali. Ia coba untuk membuka matanya lagi. Ia melihat ruangan itu sangat luas dengan furnitur yang besar-besar dan tampak antik seperti furnitur jaman Gothique Renaissance. Jendelanya besar dan gordynnya terbuat dari beludru merah tua yang menjuntai dari atas ke bawah hampir menyentuh lantai. Ornamennya terbuat dari benang emas. Sungguh indah. Lantai rumah itu terbuat dari marmer dengan motif abstrak Di dinding yang di cat warna peach muda tergantung beberapa foto dan lukisan wanita setengah telanjang. Dan yang membuat Eileen terkejut. Lukisan dan foto-foto tersebut adalah dirinya!!

Ia telusuri lagi ruangan itu dengan pandangan yang masih sedikit buram, ia melihat 4 buah layar televisi yang besar-besar. Satu televisi memutar video klip grup band terkenal dimana ia menjadi model video klipnya. Suara dari video itulah yang ia dengar sekarang. Pesawat televisi lain menayangkan cuplikan acara dari sebuah stasiun TV dimana ia menjadi presenternya. Dua televisi sisanya memutar film yang dibintanginya dan menayangkan iklan-iklan dimana ia menjadi modelnya.

Eileen memejamkan mata dan kemudian membukanya perlahan-lahan. Sekarang ia melihat bayangan seorang laki-laki tinggi dan kurus berdiri membelakanginya. Eileen mencoba menggerak-gerakan tangan dan badannya agar tambang plastik yang sedang mencengkeram sekujur tubuhnya itu terlepas. Tidak terasa air matanya mulai meleleh karena ketakutan yang amat dahsyat. Siapa laki-laki itu dan mengapa ia ada di sini?!

Gerakan Eileen mengundang perhatian laki-laki itu. Iapun menoleh. Eileen terdiam dan terpaku ditempatnya. Laki-laki itu menghampiri Eileen. Mendekat, dan semakin mendekat. Sol sepatu bootnya memantulkan suara menggema dalam ruangan besar itu. Eileen gemetar. Laki-laki itu tinggi, berambut lurus sebahu. Wajahnya putih pucat dan tirus. Matanya nanar menatap Eileen. Mulut dan hidungnya tertutup brongsong berpaku warna metalik sehingga memancarkan kilatan-kilatan karena diterpa cahaya lampu ruangan yang redup. Ia mengenakan jubah putih panjang hampir semata kaki. Tangannya memegang sebilah pisau yang juga berkilat-kilat.

Laki-laki itu menghentikan langkahnya. Kemudian melangkah mendekati Eileen lagi. Eileen menelan ludah. Ia tidak tahu apa yang akan diperbuat laki-laki aneh itu terhadapnya. Dengan gerakan cepat, laki-laki itu memotong ikatan saputangan yang menutup mulut Eileen. Kontan Eileen terpekik! Ia mengira lehernya akan digorok pria itu. Sementara pria itu terbahak-bahak melihat Eileen ketakutan.

“Siapa kamu?!” bentak Eileen memberanikan diri. Laki-laki itu bersimpuh di hadapan Eileen sehingga Eileen kini bertatapan dengan sepasang mata pemilik wajah tirus yang sebagian tertutup brongsong berpaku itu.

“Bisa menebak siapa aku, Cantik?” tanyanya dengan suara berat. Eileen kelagepan. Ia berusaha menjauh dari wajah itu. Laki-laki itu berdiri, berjalan mengelilingi kursi dimana Eileen diikat.

“Aku adalah orang yang kau sakiti dan sekarang aku ingin membalas sakit hati itu!” jawabnya. Eileen merinding sekaligus terkejut dan berusaha menebak siapa orang dibalik topeng brongsong yang mengaku pernah ia sakiti.

“Aku tidak pernah menyakiti siapapun!” tukas Eileen. Airmatanya meleleh. Badannya gemetar dan berkeringat dingin.

“Ha! Ha! Ha! Kau menyakiti ribuan bahkan jutaan pria di negeri ini yang suka padamu tetapi tidak bisa menyentuhmu. Apa kau tidak sadar itu?!”

“Aku tidak mengenalmu, Keparat! Begitu juga denganmu. Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku!” seru Eileen. Wajahnya pucat pasi dan badannya gemetar karena takut. Tapi ia tak gentar menghadapi laki-laki gila ini.

“Apa?! Aku tidak tahu tentangmu? Siapa yang bilang, Manis? Aku tahu semua. Semuanya! Bahkan aku merekam seluruh aktifitasmu. Lihatlah”.

Laki-laki itu memasang VCD yang ternyata sebuah rekaman candide camera berisi kegiatan Eileen sehari-hari. Di kampus, di studio TV, bahkan di kamarnya! Eileen terperangah.

Kemudian pria itu menempelkan pisau ke wajah Eileen. Eileen tersentak kaget karena benda yang begitu dingin itu menempel erat di wajahnya. Ia pun menangis.

“Jangan takut, Sayang. Aku akan memberi sedikit kenang-kenangan atas pertemuan kita”

“Tidakkkk…!!” Eileen menjerit bersamaan itu pula, pisau tajam milik lelaki itu telah menggores wajahnya. Darah segar menetes ke tangan Eileen. Pria itu terus menorehkan goresan demi goresan ke wajah cantik itu. Eileen berteriak kesakitan.

“Bunuh saja aku!! Kenapa kau menyiksaku seperti ini?”

“Supaya kau tahu, Manis. Seperti inilah kepedihanku jika melihat wajah dan tubuhmu yang elok tapi tidak bisa menyentuhnya”

Eileen menjerit menahan sakit dan perih yang luar biasa. Airmata yang mengalir di pipinya menambah perih luka yang ditorehkan laki-laki itu.

“Aku menyukaimu Eileen” kata pria itu sambil memegangi wajah Eileen yang kini sudah penuh darah.

Tapi sekaligus membencimu!” lanjutnya sambil menampar Eileen.

Sambil menangis Eileen berusaha melepaskan ikatan tambang yang rupanya sudah sedikit longgar. Ketika pria itu menjauh dan lengah, ia gunakan kesempatan untuk melepaskan ikatan itu dan berhasil!!

Pria itu menoleh dan segera mengejar Eileen yang telah melarikan diri menuju pintu keluar. Pria itu tertawa-tawa sambil berkata bahwa gadis itu tak kan mungkin bisa keluar dari ruangan bahkan dari rumah besar itu. Eileen berusaha membuka pintu kayu yang kokoh, tapi sia-sia. Pintu itu bahkan tak bergeming sedikitpun. Ketika musuhnya mulai mendekat, Eileen segera meraih pot bunga yang berada tepat disampingnya dan melemparkannya pada pria gila itu. Pot bunga yang dilempar Eileen tepat mengenai keningnya. “ Sialan!” desisnya sambil terus mengejar Eileen yang masih berputar-putar di ruangan itu. Lelaki itu terhuyung-huyung lalu jatuh pingsan. Eileen bernapas lega. Perlahan-lahan Eileen mendekati lelaki itu, untuk memastikan apakah ia telah benar-benar pingsan.

Berjingkat-jingkat mendekati tubuh yang telah terkulai, Ia mencoba meraih pisau yang masih digenggam pria itu. Tetapi ketika Eileen hampir meraih pisau, tiba-tiba laki-laki itu membuka mata. Eileen terpekik dan berlari. Terlambat! Pria itu berhasil meraih kakinya sehingga Eileen tersungkur ke lantai. Sambil merangkak ia berusaha menjauhi musuhnya dan musuhnyapun semakin kuat menarik kakinya. Dengan sisa kekuatan yang ada, Eileen melayangkan tinjunya ke arah mata pria itu. Kena! Bahkan pisau yang digenggam pria itu terlempar jauh. Karena sakit, ia menjerit dan kemudian menjadi kalap. Ia mengejar Eileen yang tengah berusaha membuka jendela ruangan itu kemudian ditangkapnya tubuh Eileen. Gadis itu menjerit minta tolong. Berharap ada yang mendengar teriakannya. Andai saja Eileen tahu, bahwa ia saat ini sedang disekap di sebuah rumah lebih tepat lagi adalah sebuah kastil yang terpencil dari pemukiman sehingga mustahil ada orang yang mengetahui jika dia dalam bahaya.

Laki-laki itu kemudian mencekik Eileen sekuat tenaga. Eileen mendengar sendiri bunyi kerongkongannya patah. Napasnya tersengal-sengal. Tapi ia masih berusaha berontak. Saat itulah pria itu membuka topeng brongsongnya dan terlihatlah wajah aslinya. Demi Tuhan, Eileen tidak pernah bertemu orang ini!

“Lihatlah wajahmu semakin cantik dengan lidah terjulur seperti ini, Eileen” ujar pria itu. Tangannya belum lepas dari leher Eileen. Beberapa detik kemudian, gadis itupun menghembuskan napasnya yang terakhir dengan begitu tragis.

“Temani aku disini, selama-lamanya..” desis pria itu.

Ruangan besar itu kini sunyi. Tak ada lagi teriakan Eileen. Hanya suara lagu dari video klip saja yang masih terdengar berulang-ulang. Pria itu meletakan mayat Eileen di kursi sofa. Badannya diikat sehingga tegak lurus di sandaran kursi, begitu pula kepalanya. Kini Eileen duduk dengan lidah terjulur dan mata yang membuka tapi tatapannya kosong. Pria gila itu tersenyum puas. Kemudian menuang segelas kopi, menyalakan rokok, duduk bersantai di sofa dan memindahkan channel televisi…

Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

No responses yet

Jan 25 2008

IMPIAN

Published by chika under Cerita Inspiratif Edit This

Hampir semua orang dipastikan pernah mendengar kalimat ‘Kalau ngimpi jangan tinggi-tinggi’. Anda ingat kapan terakhir mendengar kalimat itu? Kemarin? Setahun yang lalu? Apa Anda ingat juga, siapa-siapa saja yang mengucapkan kalimat itu untuk Anda? Orang tua? Teman? Saudara?
Saya sendiri sering mendengar kalimat itu terutama ketika saya menyampaikan sesuatu yang menurut orang sekeliling saya hal itu tidak masuk akal. Biasanya, kalimat itu berlanjut: “….,kalau ‘jatuh, sakit, lho!”
Saya sendiri heran, ketika kalimat itu diucapkan sama orangtua saya. Dulu waktu masih TK, ketika saya ditanya ‘apa cita-cita kamu?’ dan saya tidak bisa menjawabnya, orangtua saya bilang ‘Nak, gantungkan cita-cita kamu setinggi bintang dilangit’. Tidak cuma orangtua saya saja, guru TK sayapun bilang begitu. Akhirnya, waktu kecil cita-cita saya banyak sekali. Saya mau jadi dokter, insinyur pertanian, orang kaya dan lain-lain.
Tapi seiring berjalannya waktu, saya merasa bahwa cita-cita yang sering saya ucapkan itu perlahan luntur dan gugur satu persatu.
Kenapa begitu?

Ternyata, kesalahan itu terletak pada diri saya sendiri,bukan orang lain yang sering kali mengucapkan “Apa kamu mampu?” “Lho, sekolah kedokteran kan lama dan mahal” “Wah! Jadi insinyur pertanian?? Gak salah tuh? So yesterday!”.
Saya tidak percaya pada impian saya itu dan lebih parah lagi saya tidak pernah percaya pada diri saya sendiri kalau saya bisa mencapai semua cita-cita saya itu.

Tapi pasti dong semua itu gak bisa saya sesali begitu aja. Saya percaya bahwa Tuhan memang sudah menentukan jalan hidup saya yang seperti sekarang ini. Menemukan diri saya dan impian-impian saya yang lain.

Melalui beberapa perenungan dan tentu saja motivasi dari beberapa referensi, saya menemukan bahwa ternyata meletakkan impian kita ditempat yang paling tinggi dalam prioritas hidup kita amat sangat penting. Saya pengen sekali bagi-bagi informasi ini kepada Anda semua. Tapi mungkin di lain kesempatan. InsyaAllah.

Bersambung..

Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

No responses yet

Advertise Here