ChikaRiki

Welcome to My World

&
 
  • Hello There

    This is the one place for you to know me. Everything that I write here is the result of my thinking and feeling, so I really hope that you can enjoy all of stuff here. Thanks and goodluck!
  •  

    February 2008
    M T W T F S S
    « Jan   Apr »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    2526272829  

Archive for February 11th, 2008

Feb 11 2008

The Dream Island

Published by chika under TULISANKU Edit This

dream island

 

Axl berjalan gagah di karpet merah yang telah dipagari sejumlah bodyguard dan rantai bersalut beludru menuju sebuah pintu masuk gedung yang dari tadi siang telah dikerumuni wartawan berita dan infotainment negeri ini. Pengamanan berlapis yang disediakan oleh panitia tak mampu membendung keinginan para kuli disket itu untuk mewawancarainya. “Yang Mulia Axl, hadap sini! Kesini Yang Mulia. Yak bagus!” teriak para wartawan itu sambil membidikkan kamera-kamera digital super canggih. Blitzpun berkilatan menyilaukan mata. “Yang Mulia, kapan Anda akan menyelesaikan produksi film Anda yang terbaru?” “Yang Mulia, kalau boleh tahu, siapa wanita yang sedang dekat dengan Anda sekarang ini?” tanya para wartawan itu memberondong. “Benarkah pacar Anda sekarang seorang aktris?” Pangeran Axl berjalan terus sambil terus menebar senyum. Senyum yang konon bisa membuat para wanita di negeri ini jatuh cinta setengah mati. Jangankan para gadis muda. Ibu-ibu yang udah punya anak sepuluh juga banyak yang tergila-gila padanya. “Maaf, maaf. Wartawan hanya boleh sampai disini” teriak salah satu petugas keamanan perhelatan akbar itu. Membuyarkan kerumunan wartawan. “Hhuuuuuuuu…..” teriak para wartawan kompak. Alhasil, mereka gagal mewawancarai Pangeran Axl. Padahal jika koran atau tabloid mereka memuat berita Sang Pangeran esok hari, dijamin oplahnya akan naik 100% ! Terpaksa deh, demi sebuah target, para wartawan itu harus rela menunggu sekitar dua jam lagi saat acara bubar. Siapa tahu nanti Pangeran Axl bisa diwawancara. Di dalam gedung megah yang biasa dipakai perhelatan acara-acara akbar seperti sekarang ini, terdapat puluhan, bahkan ratusan orang penting, terkenal dan terkaya di negeri ini. Dari selebritis, negarawan, socialite dan orang-orang terkenal lainnya. Mereka hadir atas undangan panitia penyelenggara malam amal guna membantu daerah di negeri mereka yang baru saja tertimpa bencana angin puyuh. Diantara orang-orang penting itu, Axllah yang paling menarik perhatian. Tidak sedikit selebritis cewek yang mengerlingkan mata dan menunggu giliran untuk diajak kencan. Diantara mereka bahkan udah punya pacar sesama selebritis juga. Diusianya yang baru menginjak 18 tahun, Axl telah menguasai seperempat kekayaan negara, warisan dari orang tuanya yang baru setahun lalu meninggal dunia karena kecelakaan pesawat terbang. Belum lagi harta ayahnya yang menyebar di berbagai negara di dunia ini, berupa hotel, pabrik, dan lain-lain. Ayah Axl tak lain tak bukan adalah adik sepupu Raja Radhgi, Raja yang sedang berkuasa saat ini. Selain kaya, Axl sangat tampan. Tubuhnya atletis, kulitnya putih dan senyumnya sangat memikat. Intinya, Pangeran Axl hampir mendekati sempurna bagi seorang manusia ! Malam itu Sang Pangeran menyumbang paling banyak. Ketika hal tersebut diumumkan, para undangan menyambutnya dengan gemuruh tepuk tangan. Sebagian dari mereka menyalaminya. Ada yang tulus, ada juga yang pura-pura. Sang Pangeran hafal sekali dengan berbagai model senyum para koleganya itu. Kalau gak karena networking, sebenarnya ia malas hadir di acara-acara seperti ini. Ia sudah muak! Begitu muaknya dengan kehidupan, setiap malam ia selalu mencari pelampiasan dengan pergi senang-senang bersama teman-teman sebayanya. Kadang ke diskotik, atau bermalam di hotel miliknya bersama gadis-gadis cantik. Ia bahkan berharap bisa menemukan kebahagiaan disana. Axl juga tidak tahu lagi bagaimana caranya menghabiskan harta yang sangat berlimpah itu. Bersenang-senang sudah. Menyumbang untuk orang miskin dan bencana alam,sudah. Tapi uangnya bukan berkurang, malah bertambah setiap harinya. Swagna, Assistennya yang setia selalu melaporkan keadaan keuangan perusahaan-perusahaan miliknya. Dari laporan Swagna ia tahu bahwa ia selalu dapat keuntungan dari perusahaan-perusahaan warisan orang tuanya yang ia jalankan itu. It means, uangnya terus bertambah dan bertambah. Wartawan kembali berkerumun ketika acara amal terbesar itu bubar. Beberapa selebritis yang ingin beken menyerobot kerumunan wartawan, mencari perhatian agar mereka bisa diekspos. Tapi sayang, perhatian para wartawan itu hanya kepada Axl. Yah, kepopuleran Axl bahkan melebihi seorang bintang terkenal yang udah main dalam berpuluh-puluh episode sinetron dan film! Pangeran Axl dengan pengawalan ketat para bodyguardnya berhasil menerobos kerumunan wartawan yang sedari tadi setia menunggunya demi sebuah berita aktual seputar dirinya. Apa yang sedang ia kerjakan, siapa pacarnya saat ini dan pertanyaan-pertanyaan gak penting lainnya. Tetap dengan senyuman khas nan memikat serta lambaian tangan ia masuk ke dalam Limousin anti peluru. Para wartawan mau tidak mau harus kecewa. Kalau sudah begini, bisa dapat beberapa gambar Sang Pangeran saja sudah untung. Sebelum mobil berjalan ia sempatkan menoleh pada kerumunan wartawan-wartawan itu, tiba-tiba pandangannya terpaku pada sesosok perempuan muda yang tentu saja itu bukan salah satu gadisnya, berdiri diantara kerumunan wartawan. Gadis cantik itu sangat menarik perhatiannya. “Berhenti!” perintahnya pada si supir. Ia celingukan di dalam mobil mencari perempuan muda tadi. Tapi perempuan itu telah lenyap. “Siapa yang kau cari Tuan Muda?” tanya Swagna melihat tuannya seperti sedang mencari seseorang. Axl menggelengkan kepalanya. Ia pikir mungkin ia sudah terlalu banyak minum anggur di acara tadi hingga pusing. Mobil melaju lagi membelah jalan ibukota yang ramai dan padat. Dirumahnya yang seluas lima hektar itulah, Axl melalui hari-harinya. Ia tak habis pikir, buat apa ayahnya membeli rumah sebesar ini, hanya untuk ditinggali dia seorang diri. Sebenarnya Axl tidak tinggal sendiri sih. Puluhan bodyguardnya juga tinggal disitu. Cuma beda gedung saja. Namun meski puluhan bodyguard dipekerjakan, Axl bukannya tidak kuatir akan harta yang berlimpah dan keselamatan dirinya. Ia tetap saja waspada. Bahkan ketika tidur, tangannya selalu menggenggam senjata berpeluru penuh dan para bodyguardnya berjaga-jaga diluar kamar secara bergantian. Ya,Axl selalu siaga satu. Tak sedikit ancaman dari orang-orang yang tidak menyukainya. Mereka adalah orang-orang yang selalu tersenyum di depannya dan menyeringai di belakangnya. Mereka adalah orang-orang yang dulu jadi pesaing ayahnya dan otomatis, kini juga menjadi musuhnya. Pangeran Axl juga tidak segan-segan membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi langkahnya. Siapapun yang mencoba menjegal bisnisnya. Tentu saja ia tidak membunuh dengan tangannya sendiri. Banyak yang menawarkan diri untuk itu dengan imbalan puluhan bahkan ratusan juta. Apa daya kenyataan inilah yang harus diterima Pangeran muda Axl sebagai takdir. Kalau ia boleh memilih, ia ingin memilih hidup tenang dan jauh dari dunia yang sarat kemunafikan ini. Tapi ia tidak tahu caranya! Tidak terasa lima tahun sudah ia menjalani kesendirian ini sepeninggal orang tuanya. Ia ingin memperingatinya dengan mengunjungi makam ayah dan ibunya yang terletak di kompleks pemakaman keluarga raja. Ia ingin berdoa untuk kedua orangtuanya. Ketika hendak meninggalkan pemakaman orang tuanya, ia melihat seorang gadis sedang berdiri dekat sebatang pohon. Mengenakan baju hitam, kacamata hitam,payung hitam. Semua serba hitam. Gadis itu seperti yang ia lihat di kerumunan wartawan di acara amal lima tahun yang lalu! Gadis itu menghampirinya. Sang Pangeran terpaku ditempatnya. Makin lama gadis itu kian mendekat. Axl mencoba tersenyum pada gadis itu. Gadis itu pun membalas senyumannya. Tapi ada yang aneh disenyuman itu. Senyuman penuh misteri. Meskipun tersenyum, pandangan gadis itu kosong. Jantung Axl berdegup kencang. Wajah gadis itu sangat sangat dikenalnya. Tapi siapa? Sementara ia berfikir keras, si gadis misterius itu semakin mendekat. “Kau..kau lihat dia?” tanya Axl pada bodyguardnya. “Siapa,Tuan?” tanya si bodyguard sambil melihat ke sekeliling tanah pekuburan yang sunyi senyap. Tidak ada satupun manusia kecuali mereka berdua. “Tolol! Itu,perempuan yang pake baju serba hitam!” bisik Sang Pangeran karena si gadis makin dekat dengannya. Si bodyguard tentu kebingungan dan mendadak bulu kuduknya berdiri. Tapi demi Sang Pangeran ia pura-pura melihat. “Oh ya, yang itu! Ya saya melihat” jawabnya dengan gusar. Sebenarnya ia ingin segera lari dari pemakaman itu. Si gadis kini berdiri tepat di depan Sang Pangeran. Wajahnya yang cantik tentu membuat Axl agak berdebar-debar juga. Tapi pandangan gadis itu kosong. “Temui aku” bisiknya pada Sang Pangeran. Mengambang dan dingin. Axl geragapan. Sebelum ia berkata-kata. Gadis itu melangkah lagi menjauh dari Sang Pangeran. “Tunggu!” sergah Axl mencoba untuk berbicara sesuatu. Siapa dia sebenarnya? Ia harus menunggu dimana? Tapi gadis itu tak menghiraukannya. Tinggallah Axl dan bodyguardnya yang berdiri terpaku di tanah pekuburan yang sunyi senyap itu. ** Axl sedang terbuai hembusan angin pantai. Menikmati siang di pulau miliknya sendiri ini memang sangat mengasyikkan. Sebentar lagi gadis-gadisnya akan datang menyusulnya. “Jam berapa mereka datang?” tanyanya pada salah satu bodyguardnya. Tak satupun dari bodyguardnya yang menjawab. “Hey! Aku tanya, jam berapa gadis-gadisku akan dat…” mulutnya segera berhenti berkata-kata ketika ia menoleh, tak satupun dari bodyguardnya ada disana! Ia mendesis, kemana mereka?! Axl celingukan. Pulau ini sangat sunyi. Ia berlari kesana kemari mencari para bodyguardnya yang seharusnya disini menemaninya. Ia berteriak-teriak memanggil nama-nama mereka. Tapi sayang tak satupun menjawabnya. Tiba-tiba dari arah belakangnya, seseorang memanggil namanya. Lembut sekali. Ia menoleh dan betapa terkejutnya ia. Itu gadis yang ia lihat dikerumunan wartawan lima tahun yang lalu! Gadis yang ia lihat di pemakaman orang tuanya. Dan gadis yang telah menyuruhnya untuk menemuinya entah dimana. Jadi, siapa dia sebenarnya? Mengapa ia ada disini? “Jangan terkejut. Aku senang kau telah menemuiku disini. Tinggallah bersamaku. Aku kesepian” bisiknya lembut membuat Axl tak lagi memikirkan siapa gadis itu dan mengapa ia ada disini. Sementara malam itu.. “Jangan bergerak!! Taruh semua senjata kalian dan angkat tangan. Kalau sampai ada yang bergerak, aku tidak akan menjamin keselamatan kalian. Ingat! Bossku hanya menginginkan anak ingusan yang sok jagoan ini mati. Bukan kalian!” teriak seseorang pemimpin gerombolan bertopeng yang berhasil masuk menembus benteng rumah Pangeran Axl. Para bodyguard yang jumlahnya puluhan itu lumpuh oleh gerombolan yang jumlahnya lebih banyak dari mereka. Para bodyguard itu sangat menyesal, mengapa gerombolan bertopeng itu bisa sampai masuk rumah ini. Asisten pribadi Sang Pangeran juga sangat menyesal, mengapa Pangeran Axl hanya tertidur saja ketika ia bangunkan untuk segera menyelamatkan diri. Kini nyawanya sedang terancam bahaya. Si pimpinan gerombolan tersenyum senang melihat calon mangsanya tertidur pulas. Segera ia menarik picu senjatanya mengarahkan tepat pada jantung Sang Pangeran. Timah panas itupun menembus tubuh Axl. Darahpun tumpah. “Ini untuk bossku! ” teriaknya. Pimpinan gerombolan lalu membuka topeng dan menghujani tubuh Sang Pangeran dengan serentetan peluru. “Yang ini untuk arwah ayahku, yang kau bunuh 2 tahun lalu” desisnya bengis dan iapun melangkah pergi. ……….Sang Pangeran sedang menikmati keberduaannya dengan gadis itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumahnya dan apa yang terjadi pada dirinya. Ya, Axl juga tidak tahu kalau separuh warga negara kini sedang menangisi kepergian abadinya. Ia tidak mau lagi memikirkan apa-apa lagi. Ia hanya ingin disini. Di pulau impiannya. Karena disinilah ia merasa hidupnya sangat sangat damai…

 

the-dream-island.jpgRaven Island,29 September 2005

No responses yet

Next »

Some Today.com contributors may have received a fee or a promotional product or service from a manufacturer for promotional consideration, while others receive no consideration at all. Each contributor is responsible for disclosing any such promotional consideration.