ChikaRiki

Welcome to My World

&
 
  • Hello There

    This is the one place for you to know me. Everything that I write here is the result of my thinking and feeling, so I really hope that you can enjoy all of stuff here. Thanks and goodluck!
  •  

    February 2008
    M T W T F S S
    « Jan   Apr »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    2526272829  

Feb 11 2008

ILLUMINATI

Published by chika at 4:30 am under TULISANKU Edit This

Model cantik itu menyambar tasnya yang berisi pakaian ganti dan perlengkapan kerjanya. Ia melirik jam tangan. Sudah pukul 22:03. Bergegas ia keluar dari ruang ganti menuju lift yang akan membawanya ke tujuh lantai di bawah. Sambil berlari kecil ia lindungi kepalanya dari gerimis hujan. Lapangan parkir luar sudah sepi. Hanya ada beberapa mobil termasuk mobilnya. Kini ia sibuk mencari-cari kunci mobil dalam tasnya yang besar. Udara dingin sangat menusuk tulang membuat tangannya gemetar ketika hendak memasukkan anak kunci ke pintu mobil. Shit! Runtuknya. Kunci itu jatuh dalam genangan air di bawah kakinya. Ia membungkukkan badan dan meraba genangan air. Tapi kunci itu tidak ketemu. Sementara lampu di sekitar lapangan parkir tidak menolongnya untuk melihat di mana kunci itu berada. Ia akhirnya jongkok untuk dapat melihat lebih jelas lagi sambil terus meraba-raba genangan air itu.

“Bisa saya bantu, Mbak?” tanya sebuah suara berat dan parau. Tentu saja gadis cantik itu kaget bukan kepalang. Karena bersamaan itu pula sebuah cahaya yang berasal dari lampu senter langsung menerpa wajahnya sehingga ia tidak bisa melihat si Pemilik Suara.

Ia lantas berdiri sambil terpicing-picing menghindari terpaan cahaya.

“Oh..Pak Narto. Kunci mobil saya jatuh di genangan ini. Saya cari-cari gak ketemu” katanya setelah mengenali pemilik suara itu.

“Mari saya bantu cari, Mbak” ujar pria yang seragam satpamnya tersembunyi di balik jas hujannya.

Tiba-tiba ponsel gadis dengan tinggi semampai itu berbunyi lalu ia memberi isyarat pada Narto untuk mencari kunci mobil itu.

“Hallo, Mama?! Apa?! Aduh, suara Mama putus-putus..”. Sang model menggeser posisi berdirinya sehingga agak menjauh dari mobilnya. Sementara pria yang bernama Narto tersebut mencari kunci mobil di genangan air.

“Masih di Sentra TV, Ma. Udah di parkiran, sih. Apa?! Iya, langsung ke Bogor. Gak. Eileen gak ke Rasuna dulu. Langsung ke Bogor. Iya, iya. Eileen hati-hati. Oke, Ma. Bye!”. Klik. Ia pun kembali ke mobilnya.

“Nih Mbak, kuncinya” kata si pria sambil tersenyum lebar.

“Waduh, terimakasih ya,Pak Narto”

Narto mengangguk hormat dan berlalu dari situ. Eileen kemudian memencet tombol central lock tapi rupanya rusak karena tadi tercebur air. Setengah menggerutu ia memasukkan anak kunci ke pintu mobil dan alarm mobilpun berbunyi. Aaarrrrggggghh!! Kini ia kebingungan karena tidak tahu cara mendiamkan alarm mobil yang menyalak-nyalak ditengah kesunyian lapangan parkir yang luas itu. Ia menoleh kanan kiri berharap satpam Narto kembali menghampiri untuk menolongnya.

Benar saja. Tiba-tiba ada sorotan lampu senter yang sangat terang menerpa wajahnya. Eileen tersenyum pada orang itu. Tapi ia sadar, sosok itu bukan Pak Narto. Kebalikan dari Narto yang gempal, orang itu tinggi, kurus dan mengenakan jaket tebal bertudung. Eileen kembali terpicing-picing untuk mengenali pria itu. Belum sempat bibirnya berkata-kata, ia melihat kilatan pisau yang siap dihujamkan kepadanya. Eileen terpekik dan segera berlari sambil berteriak minta tolong. Tapi tak seorangpun mendengar teriakannya. Eileen terus berlari ke arah mana ia tidak tahu. Pandangannya gelap, segelap langit malam saat itu, hitam tanpa bintang. Hanya rintik hujan yang terus memercik-mercik.

Sesampai di semak belukar di belakang gedung stasiun TV, Eileen berhenti untuk mencari tempat persembunyian yang sekiranya aman dari kejaran pria tak dikenal itu. Napasnya tersengal-sengal dan jantungnya berdebar-debar. Ia menoleh ke belakang. Pria itu sudah tidak ada. Phhhuih! Eileen bernapas lega. Mungkin pria itu kini sudah menggasak mobilnya.

Gedung Sentra TV masih terlihat menjulang dari tempat ia berlindung sekarang. Dalam kegelapan ia mencoba menelepon Damian, kakak laki-lakinya. Ada nada sambung. Tapi tidak diangkat. Ia coba lagi dan lagi. Tapi tetap tidak diangkat. Tiba-tiba Eileen menjerit. Dari arah belakang, ia disergap seseorang dan mulutnya dibungkam dengan saputangan. Bersamaan itu pula teleponnya tersambung. Namun dengan gesit si penyergap merampas ponsel Eileen dan membantingnya ke tanah. Dua detik kemudian, ia terkulai lemas.

“Hallo…! Hallo..! Eileen?! Ada apa? Hey! Suara kamu putus-putus, nih…!”

***

Di ruangan yang sangat luas, seorang model cantik usia 21 tahun yang sedang naik daun, dan tengah meniti karir sebagai aktris dan presenter dengan bayaran mahal duduk terkulai lemas di sebuah kursi. Tangan dan kakinya terikat erat dengan seutas tambang plastik yang besar. Mulutnya disumpal saputangan yang terikat sampai ke punggung leher.

Matanya mulai mengerjap-ngerjap dan terasa berat sekali untuk dibuka. Pandangannya kabur. Setiap kali ia mencoba membuka matanya, apa yang ia lihat seolah bergerak berputar. Ia mengernyitkan alis dan mendesis. Kepalanya pusing sekali. Ia belum sadar apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Lamat-lamat ia mendengar alunan lagu milik sebuah grup band ternama. Eileen kenal lagu itu. Kenal sekali. Ia coba untuk membuka matanya lagi. Ia melihat ruangan itu sangat luas dengan furnitur yang besar-besar dan tampak antik seperti furnitur jaman Gothique Renaissance. Jendelanya besar dan gordynnya terbuat dari beludru merah tua yang menjuntai dari atas ke bawah hampir menyentuh lantai. Ornamennya terbuat dari benang emas. Sungguh indah. Lantai rumah itu terbuat dari marmer dengan motif abstrak Di dinding yang di cat warna peach muda tergantung beberapa foto dan lukisan wanita setengah telanjang. Dan yang membuat Eileen terkejut. Lukisan dan foto-foto tersebut adalah dirinya!!

Ia telusuri lagi ruangan itu dengan pandangan yang masih sedikit buram, ia melihat 4 buah layar televisi yang besar-besar. Satu televisi memutar video klip grup band terkenal dimana ia menjadi model video klipnya. Suara dari video itulah yang ia dengar sekarang. Pesawat televisi lain menayangkan cuplikan acara dari sebuah stasiun TV dimana ia menjadi presenternya. Dua televisi sisanya memutar film yang dibintanginya dan menayangkan iklan-iklan dimana ia menjadi modelnya.

Eileen memejamkan mata dan kemudian membukanya perlahan-lahan. Sekarang ia melihat bayangan seorang laki-laki tinggi dan kurus berdiri membelakanginya. Eileen mencoba menggerak-gerakan tangan dan badannya agar tambang plastik yang sedang mencengkeram sekujur tubuhnya itu terlepas. Tidak terasa air matanya mulai meleleh karena ketakutan yang amat dahsyat. Siapa laki-laki itu dan mengapa ia ada di sini?!

Gerakan Eileen mengundang perhatian laki-laki itu. Iapun menoleh. Eileen terdiam dan terpaku ditempatnya. Laki-laki itu menghampiri Eileen. Mendekat, dan semakin mendekat. Sol sepatu bootnya memantulkan suara menggema dalam ruangan besar itu. Eileen gemetar. Laki-laki itu tinggi, berambut lurus sebahu. Wajahnya putih pucat dan tirus. Matanya nanar menatap Eileen. Mulut dan hidungnya tertutup brongsong berpaku warna metalik sehingga memancarkan kilatan-kilatan karena diterpa cahaya lampu ruangan yang redup. Ia mengenakan jubah putih panjang hampir semata kaki. Tangannya memegang sebilah pisau yang juga berkilat-kilat.

Laki-laki itu menghentikan langkahnya. Kemudian melangkah mendekati Eileen lagi. Eileen menelan ludah. Ia tidak tahu apa yang akan diperbuat laki-laki aneh itu terhadapnya. Dengan gerakan cepat, laki-laki itu memotong ikatan saputangan yang menutup mulut Eileen. Kontan Eileen terpekik! Ia mengira lehernya akan digorok pria itu. Sementara pria itu terbahak-bahak melihat Eileen ketakutan.

“Siapa kamu?!” bentak Eileen memberanikan diri. Laki-laki itu bersimpuh di hadapan Eileen sehingga Eileen kini bertatapan dengan sepasang mata pemilik wajah tirus yang sebagian tertutup brongsong berpaku itu.

“Bisa menebak siapa aku, Cantik?” tanyanya dengan suara berat. Eileen kelagepan. Ia berusaha menjauh dari wajah itu. Laki-laki itu berdiri, berjalan mengelilingi kursi dimana Eileen diikat.

“Aku adalah orang yang kau sakiti dan sekarang aku ingin membalas sakit hati itu!” jawabnya. Eileen merinding sekaligus terkejut dan berusaha menebak siapa orang dibalik topeng brongsong yang mengaku pernah ia sakiti.

“Aku tidak pernah menyakiti siapapun!” tukas Eileen. Airmatanya meleleh. Badannya gemetar dan berkeringat dingin.

“Ha! Ha! Ha! Kau menyakiti ribuan bahkan jutaan pria di negeri ini yang suka padamu tetapi tidak bisa menyentuhmu. Apa kau tidak sadar itu?!”

“Aku tidak mengenalmu, Keparat! Begitu juga denganmu. Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku!” seru Eileen. Wajahnya pucat pasi dan badannya gemetar karena takut. Tapi ia tak gentar menghadapi laki-laki gila ini.

“Apa?! Aku tidak tahu tentangmu? Siapa yang bilang, Manis? Aku tahu semua. Semuanya! Bahkan aku merekam seluruh aktifitasmu. Lihatlah”.

Laki-laki itu memasang VCD yang ternyata sebuah rekaman candide camera berisi kegiatan Eileen sehari-hari. Di kampus, di studio TV, bahkan di kamarnya! Eileen terperangah.

Kemudian pria itu menempelkan pisau ke wajah Eileen. Eileen tersentak kaget karena benda yang begitu dingin itu menempel erat di wajahnya. Ia pun menangis.

“Jangan takut, Sayang. Aku akan memberi sedikit kenang-kenangan atas pertemuan kita”

“Tidakkkk…!!” Eileen menjerit bersamaan itu pula, pisau tajam milik lelaki itu telah menggores wajahnya. Darah segar menetes ke tangan Eileen. Pria itu terus menorehkan goresan demi goresan ke wajah cantik itu. Eileen berteriak kesakitan.

“Bunuh saja aku!! Kenapa kau menyiksaku seperti ini?”

“Supaya kau tahu, Manis. Seperti inilah kepedihanku jika melihat wajah dan tubuhmu yang elok tapi tidak bisa menyentuhnya”

Eileen menjerit menahan sakit dan perih yang luar biasa. Airmata yang mengalir di pipinya menambah perih luka yang ditorehkan laki-laki itu.

“Aku menyukaimu Eileen” kata pria itu sambil memegangi wajah Eileen yang kini sudah penuh darah.

Tapi sekaligus membencimu!” lanjutnya sambil menampar Eileen.

Sambil menangis Eileen berusaha melepaskan ikatan tambang yang rupanya sudah sedikit longgar. Ketika pria itu menjauh dan lengah, ia gunakan kesempatan untuk melepaskan ikatan itu dan berhasil!!

Pria itu menoleh dan segera mengejar Eileen yang telah melarikan diri menuju pintu keluar. Pria itu tertawa-tawa sambil berkata bahwa gadis itu tak kan mungkin bisa keluar dari ruangan bahkan dari rumah besar itu. Eileen berusaha membuka pintu kayu yang kokoh, tapi sia-sia. Pintu itu bahkan tak bergeming sedikitpun. Ketika musuhnya mulai mendekat, Eileen segera meraih pot bunga yang berada tepat disampingnya dan melemparkannya pada pria gila itu. Pot bunga yang dilempar Eileen tepat mengenai keningnya. “ Sialan!” desisnya sambil terus mengejar Eileen yang masih berputar-putar di ruangan itu. Lelaki itu terhuyung-huyung lalu jatuh pingsan. Eileen bernapas lega. Perlahan-lahan Eileen mendekati lelaki itu, untuk memastikan apakah ia telah benar-benar pingsan.

Berjingkat-jingkat mendekati tubuh yang telah terkulai, Ia mencoba meraih pisau yang masih digenggam pria itu. Tetapi ketika Eileen hampir meraih pisau, tiba-tiba laki-laki itu membuka mata. Eileen terpekik dan berlari. Terlambat! Pria itu berhasil meraih kakinya sehingga Eileen tersungkur ke lantai. Sambil merangkak ia berusaha menjauhi musuhnya dan musuhnyapun semakin kuat menarik kakinya. Dengan sisa kekuatan yang ada, Eileen melayangkan tinjunya ke arah mata pria itu. Kena! Bahkan pisau yang digenggam pria itu terlempar jauh. Karena sakit, ia menjerit dan kemudian menjadi kalap. Ia mengejar Eileen yang tengah berusaha membuka jendela ruangan itu kemudian ditangkapnya tubuh Eileen. Gadis itu menjerit minta tolong. Berharap ada yang mendengar teriakannya. Andai saja Eileen tahu, bahwa ia saat ini sedang disekap di sebuah rumah lebih tepat lagi adalah sebuah kastil yang terpencil dari pemukiman sehingga mustahil ada orang yang mengetahui jika dia dalam bahaya.

Laki-laki itu kemudian mencekik Eileen sekuat tenaga. Eileen mendengar sendiri bunyi kerongkongannya patah. Napasnya tersengal-sengal. Tapi ia masih berusaha berontak. Saat itulah pria itu membuka topeng brongsongnya dan terlihatlah wajah aslinya. Demi Tuhan, Eileen tidak pernah bertemu orang ini!

“Lihatlah wajahmu semakin cantik dengan lidah terjulur seperti ini, Eileen” ujar pria itu. Tangannya belum lepas dari leher Eileen. Beberapa detik kemudian, gadis itupun menghembuskan napasnya yang terakhir dengan begitu tragis.

“Temani aku disini, selama-lamanya..” desis pria itu.

Ruangan besar itu kini sunyi. Tak ada lagi teriakan Eileen. Hanya suara lagu dari video klip saja yang masih terdengar berulang-ulang. Pria itu meletakan mayat Eileen di kursi sofa. Badannya diikat sehingga tegak lurus di sandaran kursi, begitu pula kepalanya. Kini Eileen duduk dengan lidah terjulur dan mata yang membuka tapi tatapannya kosong. Pria gila itu tersenyum puas. Kemudian menuang segelas kopi, menyalakan rokok, duduk bersantai di sofa dan memindahkan channel televisi…

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!

Some Today.com contributors may have received a fee or a promotional product or service from a manufacturer for promotional consideration, while others receive no consideration at all. Each contributor is responsible for disclosing any such promotional consideration.