ChikaRiki

Welcome to My World

&
 
  • Hello There

    This is the one place for you to know me. Everything that I write here is the result of my thinking and feeling, so I really hope that you can enjoy all of stuff here. Thanks and goodluck!
  •  

    February 2008
    M T W T F S S
    « Jan   Apr »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    2526272829  

Feb 11 2008

Laki-Laki yang Mencintai Vira

Published by chika at 4:36 am under TULISANKU Edit This

Christian

Tiba-tiba saja sekujur badanku gemetar. Sepucuk surat dari Christian untuk seseorang yang dicintainya bergerak-gerak sendiri ditanganku tanpa diminta. Aku tercekat melihat ruangan kelas di hadapanku penuh dengan siswa kelas 2 IPA 1. Tatapanku tertuju pada seorang gadis yang namanya tertera di sampul merah jambu surat itu. Vira.

“Vira, boleh aku bicara sebentar..?” tanyaku ketika sudah berhadapan dengan pemilik wajah indo Padang-Belanda. Parasnya cantik. Bahkan cantik sekali. Tidak heran kalau seluruh siswa laki-laki di sekolah ini begitu ingin jadi kekasihnya. Termasuk Christian. Vira menatapku tajam laksana ribuan jarum menusuk-nusuk retina mataku. Aku salah tingkah.

“Kamu lagi! Pasti mau ngasih surat cinta dari…siapa? yang pincang itu?” ujarnya ketus. Deg! Jantungku mendadak berhenti sejenak. Aku hendak marah, tapi kutahan. Bagaimanapun juga, aku harus mengendalikan emosiku. Tujuanku hanya satu, mengantar (untuk yang kesekian kalinya) surat Christian dan harus sampai ke tangan Vira.

Vira menerima surat itu. Disaksikan seluruh anggota gengnya. Aku menarik napas lega. Tapi sedetik kemudian tanpa dilihat dan dibaca, Idola sekolah itu merobek-robek surat bersampul merah jambu itu tepat di depanku. Aku terbelalak. Sementara Vira dan anggota gengnya tertawa-tawa sambil menunjuk-nunjuk mukaku.

Maaf, Liz. Aku sudah tahu isinya dan sampaikan sama si pincang: Aku menolaknya jauh sebelum dia nyatain suka sama aku” kata Vira. Tawa mereka tambah berderai-derai.

Wajahku memerah. Kali ini aku tidak bisa tahan lagi. Hatiku sakit sekali. Segera saja aku berlari meninggalkan kelas itu menuju taman kecil di belakang perpustakaan dimana Christian sudah menungguku disana.

Aku berhenti sejenak sebelum Christian melihatku. Aku harus berkata apa? Kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya terjadi, itu pasti akan menyakiti hatinya. Aku melangkahkan kaki lagi. Ketika melihatku datang, ia tersenyum.

“Gimana,Liz? Sudah kamu sampaikan?” ia menatapku penuh tanya dan berharap kalau surat itu telah dibaca pujaan hatinya. Duh! Mata itu. Gimana aku tega?

“Tenang. Dia sudah terima surat itu kok” jawabku. Aku tidak berani menatap matanya. Ia menarik napas dan membenahi letak sepatu besi yang selama 6 tahun setia nempel di kakinya kirinya.

“Syukurlah..” kudengar nada suara Christian sangat gembira. Kemudian ia menawariku roti bakar yang dibekali ibunya sebelum berangkat sekolah.

Aku dan Christian tidak pernah terpisahkan. Kami berteman sejak masih kecil. SD yang sama, SMP yang sama dan kini SMU yang sama pula. Kami tinggal di satu perumahan. Rumahnya hanya diselingi satu rumah sebelum rumahku. Setiap hari kami pergi ke sekolah bersama-sama. Pulang bersama-sama. Main di lapangan bola yang terletak di tengah-tengah perumahan, menerbangkan layang-layang, bermain kelereng, bersepeda hingga ke pinggiran pematang sawah. Aku masih ingat sekali bayangan masa kecil kami berdua. Kami berpisah hanya tidur saja. Oh tidak, kami juga pernah berpisah ketika Christian bersama orangtuanya pergi ke Surabaya, menengok nenek mereka yang sakit keras (dan kini sudah meninggal) ketika ia masih kelas 5 SD. Dan terjadilah kecelakaan itu. Mobil mereka tertabrak kereta api di lintasan tak berpintu. Semua selamat, hanya kakak pertama Christian yang meninggal dunia. Ayah, Ibu dan dua adik Christian hanya luka ringan. Sementara Christian harus kehilangan satu kaki sebelah kirinya karena tidak bisa lagi dioperasi. Mulanya ia depresi dan tidak mau sekolah, karena malu punya kaki hanya satu. Seluruh keluarganyapun hampir putus asa dengan keadaannya. Pelan-pelan, keluarganya (tentu saja aku terlibat) berhasil mengembalikan rasa percaya diri Christian, terlebih setelah ia sudah bisa berjalan layaknya orang yang mempunyai kaki lengkap dengan bantuan kaki palsu. Aku sangat-sangat bersyukur bahwa temanku sudah mau bersekolah lagi seperti dulu.

***


Menunggu Hujan Reda

Diluar masih hujan. Sudah sejam yang lalu kami terjebak disini. Untung saja di toko buku yang hanya menjual buku-buku impor ini ada kafetaria. Jadi kami bisa numpang menunggu hujan reda sambil baca-baca buku yang baru saja kami beli. Christian menyeruput minuman hangatnya. Matanya tidak lepas dari novel Sydney Sheldon yang telah memikat hatinya. Tanpa sadar sudah berdetik-detik aku memandangnya. Sekian lama berteman, baru kali inilah aku memandanginya begitu lama. Wajahnya lonjong dan keras di bagian rahangnya. Matanya sipit agak tertarik ke atas sehingga ketika dia melirik kesamping kesannya seperti orang culas. Kulitnya putih dan bersih hampir tanpa pori. Bibirnya juga tipis kemerahan dan selalu basah. Rambutnya hitam, sangat halus dan poni yang sengaja dibiarkan panjang itu jatuh ke dahinya, hm.. cool!!

Sebenarnya dia sangat tampan. Postur tubuhnya juga tinggi dan tidak terlalu kurus. Oh,My God! Mengapa aku baru sadar kalau ternyata Christian, sahabatku dari kecil ini,sangat menarik!

“Liz,kopinya jangan dibiarkan dingin” ujarnya tanpa melihatku. Matanya hanya tertuju pada deretan tulisan karya Sydney Sheldon saja. Aku tergeragap. Wajahku mendadak memanas. Jangan-jangan Christian tahu aku sedang memandanginya! Aku segera membuang pandangan keluar jendela (sebelum kepergok Christian!) dan menangkap pemandangan yang sangat menarik bagiku. Seorang perempuan anggun dan tentu saja cantik, sedang berusaha turun dari mobil. Di dekatnya ada seorang laki-laki yang membantunya turun sambil memegangi payung. Aku kenal perempuan itu, namanya Vira dan aku juga kenal laki-lakinya, namanya Seno, putra pengusaha terkenal di kota kami dan satu SMU dengan kami. Aku melirik Christian yang masih asyik membaca, aku berdoa semoga ia tidak melihat adegan itu. Vira dan Seno masuk ke supermarket yang bersebelahan dengan toko buku. Aku mengikuti sampai bayangan dua manusia itu menghilang ditelan dinding supermarket. Aku bernapas lega. Mungkin dua orang itu tidak suka buku, jadi kami tidak ditakdirkan bertemu di sini.

“Lihat apa,Liz? Serius amat” tanya Christian membuatku tergeragap untuk yang kedua kalinya di hari ini. Cepat-cepat aku berdiri, menghampiri Christian yang duduk di hadapanku dan menarik tangannya untuk segera pulang.

“Ayo,Chris. Hujannya sudah berhenti”ujarku padanya. Ia mengangguk dan mengemasi kantong kresek yang isinya buku semua. Christian memang gila sastra!

Ia tampak kesulitan berdiri. Aku membantu memegangi tangannya dan sampai dipintu keluar toko buku aku masih saja memegangi tangannya. Tapi tampaknya ia tidak keberatan aku berbuat begitu, jadi aku juga santai-santai saja.

***

Penghinaan

Hasil karya ilmiah kelompok kami masuk 10 besar! Itu artinya aku dan timku akan ke Jakarta untuk berlomba di tingkat nasional. Akhirnya! Berita ini baru saja disampaikan Kepala Sekolah tadi dan aku segera mencari sosok di sekolah ini yang akan aku beritahu untuk pertama kali. Mataku beredar mencari-cari sosok tinggi kurus dan berwajah agak pucat itu. Hey,Chris, dimana kamu? Aku melongok ke dalam kelas. Tidak ada. Di kantin juga tidak ada. Aku tersenyum dan berkata bodoh pada diri sendiri. Pastilah ia sedang di taman kecil di belakang perpustakaan, tempat menyepinya.

Benar saja! Christian duduk sendiri disana. Aku berlari gembira menghampirinya. Tentu saja karena aku membawa berita bahagia!

“Chris! Kamu disini ya?” aku duduk di sebelahnya. Ada yang aneh. Biasanya ia selalu menyambut kedatanganku dengan menatapku kemudian tersenyum. Tapi tidak dengan kali ini. Tatapannya hanya tertunduk. Tangan kirinya memegang secarik kertas yang sudah digambari sketsa karakter buatannya (ohya, selain gila sastra,Christian juga gila kartun), tangan kanannya masih memegang pensil. Di kertas itu ada dua buah tetes air. Aku segera menduga itu adalah tetesan air mata!

“Chris, kamu menangis?” tanyaku hati-hati. Aku berusaha menghargai segala perasaannya. Sejak kecelakaan yang merengut kaki kirinya itu, aku sudah terbiasa dengan aneka perubahan moodnya. Mungkin sebagian orang yang kenal aku akan berkata bahwa aku cewek penyabar bisa berteman dengan Christian yang moody itu. Tapi lebih dari itu semua, akan kujawab kalau aku bisa begini karena aku sangat menyayangi Christian. Sayang sebagai apa? Nah, ini yang aku tidak tahu.

Dia menghinaku,Liz” ujarnya tertahan. Kepalanya makin menunduk.

Siapa,Chris? Bilang sama aku” kataku agak keras. Kurasakan hatiku juga bergetar-getar menahan amarah. Siapa yang sudah menghinanya?

“Dia, didepan puluhan siswa, menunjuk-nunjuk mukaku, dan bilang bahwa aku, Christian Aditya Ankara, adalah si pincang yang tidak tahu malu. Berani menyukainya tanpa berkaca dulu seperti apa rupa dirinya!!” jelas Christian ditengah sesegukannya. Hatiku remuk dan hancur. Aku bersimpuh di depannya, berusaha mengangkat wajah itu.

Kamu bilang, dia sudah membaca semua surat-suratku, kan?” tanyanya menoreh satu perih lagi dihatiku, menelanjangi semua kebohonganku bahwa sebenarnya surat-surat itu tidak pernah terbaca. Aku menggeleng.

“Chris, aku minta maaf. Minta maaf..” kataku serak. Christian mengangkat wajah sedikit.

Sudah,Liz. Dari awal aku sudah tahu bahwa aku akan ditolak. Tapi kamu selalu saja menyemangatiku untuk terus berkirim surat..”

“Karena aku tahu, surat itu tidak pernah terbaca,Chris! Aku membujukmu untuk terus berusaha dan berusaha merebut hatinya!” sahutku cepat. Aku menghapus airmataku dan berdiri.

“Kalau begitu, aku akan buat perhitungan dengannya. Dia tidak boleh berkata begitu padamu!” Christian menarik tanganku. Aku tersentak dibuatnya. Ia menggelengkan kepala tanda melarang.

“Kenapa,Chris?! Biar dia tahu kalau dia bukan satu-satunya cewek cantik di dunia ini dan memperlakukan orang seenak jidatnya!” teriakku geram, memecah kesunyian taman kecil ini. Christian menarik tanganku lagi kali ini membuat aku jatuh bersimpuh di hadapannya. Ia menatapku.

“Kamu jangan berbuat itu pada orang yang aku cintai..”pintanya lirih dan tertahan. Kemudian ia memelukku. Akupun menangis sesegukan di pundaknya. Mendadak kurasakan hatiku perih. Entah perih karena apa..

***


Tragedi

Hari kesekian setelah Christian menerima perkataan paling hina. Tapi tampaknya ia sudah melupakannya. Drama Caligula yang dipentaskan oleh teater Francophonie sudah limabelas menit berakhir. Jam sudah menunjuk angka 10 malam. Aku dan Christian berdiri tak jauh dari gedung CCF (Centre Culturel de Francais) menunggu angkot untuk pulang. Duapuluh menit. Kakiku sudah mulai pegal. Lalu aku melirik Christian, ia juga sebenarnya gelisah, tapi diam saja.

“Chris, kita jalan ke sebelah sana,yuk. Kita bisa nyegat angkot lain. Tampaknya angkot oranye sudah gak beroperasi jam segini”kataku. Christian mengangguk lalu kami berjalan menuju perempatan. Udara sangat dingin. Kurapatkan syal yang sedari tadi setia menggantung di leher. Christian memeluk pundakku. Aku tidak kaget. Dia biasa melakukan itu, sejak kami masih kecil lagi. Spontan,akupun memeluk pinggangnya. Lumayan,ada rasa hangat sedikit.

Akhirnya kami tidak berhenti di perempatan untuk mencari angkot. Kami terus berjalan, menembus dinginnya malam sambil terus bicara. Tentang Caligula, tentang teater Francophonie, tentang Perancis. Christian tahu banyak tentang negara itu. Tidak heran, dia kan suka baca. Kami terus berjalan (lambat-lambat pastinya, karena kaki Christian tidak memungkinkan untuk berjalan cepat). Kami terus berbincang. Sesekali aku memandangi wajahnya yang melankolis. Sedangkan dia terus berpandangan lurus.

“Liz, kamu sadar tidak kalau kamu cantik?” tanya Christian tiba-tiba, keluar dari jalur pembicaraan. Membuat aku tersentak. Kaget? Pastilah. Seumur kami berteman, baru kali inilah Christian bilang aku cantik. Christian tertawa. Aku tersipu dan menggelengkan kepala.

“Kenapa sih, kamu belum saja punya pacar?” tanyanya lagi. Sekali lagi, ini bukan pertanyaan yang mudah kujawab. Aku sudah biasa menjawab cepat pertanyaan yang diajukan guru di kelas. Tapi tidak dengan pertanyaan barusan. Aku menunduk.

“Aku tahu kenapa kamu belum juga punya pacar padahal kamu cantik..”ujar Christian seperti berusaha menjawab pertanyaannya sendiri. Aku menengadah.

“Aku sudah punya kamu,Chris..” jawabku spontan. Aku sendiri terkejut dengan statementku tadi. Christian apalagi. Ia menghentikan langkahnya dan melihat wajahku lekat-lekat. Aku menggigit bibir.

“Maksud kamu,Liz?” tanyanya penuh rasa heran. Aku mengelak dan menepis cengkeraman tangannya. Aku melanjutkan langkahku lagi. Christian mengejarku.

Tiba-tiba aku melihat sosok di kejauhan. Sosok yang aku dan Christian kenal sangat baik. Vira! Ia keluar dari sebuah rumah besar di ruas jalan yang sepi ini dipapah dua pria yang tidak aku kenal. Aku melangkah mendekatinya, Christian mengikutiku.

“Liz,jangan dekati mereka. Mereka mabuk” cegahnya. Sejenak aku ragu. Tapi aku melihat dua pria itu menggerayangi tubuh Vira dan hendak membawa Vira masuk ke mobil mereka. Aku berlari mendekat. Christian menarik tanganku berusaha mencegah. Tapi keinginanku untuk menolong Vira sangat besar.

Lepaskan dia, Berandal!”sentakku pada dua pria berbadan besar itu. Aku agak gentar juga. Christian maju mendekatiku. Dua pria bertampang bengis itu melihat kami penuh amarah, sementara Vira duduk bersimpuh tak berdaya. Ia sudah mabuk berat.

Hey, anak kecil! Mau apa kau,hah?! Melawan kami?” tanya seorang dari mereka. Lalu mereka berdua tertawa-tawa.

“Dia Vira teman kami. Jangan kalian macam-macam terhadapnya!” kataku lantang. Dua pria itu saling pandang. Kemudian tertawa lagi.

“Jadi kau juga seorang pelacur, ya? Hahaha! Dan kau siapa, Bung? Germo mereka?” mereka berdua tertawa-tawa. Aku marah besar. Tidak rela dihina seperti itu. Christian juga marah. Ia maju mendekati mereka. Memukul perut salah satu dari dua pria itu. Pria itu tampak kesakitan memegangi perutnya. Tidak menyangka pukulan Christian akan sesakit itu.

“Sialan kau! Minggir Jhon, akan kuhabisi anak-anak ingusan ini!”teriak pria satunya. Ia maju dan memukul Christian dari belakang. Christian jatuh tersungkur. Mulutnya mengeluarkan darah. Kemudian pria bernama Jhon maju mendekati Christian. Aku terkejut melihat kilatan pisau yang ada di tangan Jhon. Aku memekik. Secepat kilat aku berlari berusaha mencegahnya menyerang Christian. Si Jhon sadar dan segera membalikkan badan. Pisau yang dipegangnya menusuk tepat di perutku. Aku terdiam. Vira yang melihat kejadian itu menjerit histeris memecah kesunyian ruas jalan. Aku merasakan aliran darah keluar dari perutku. Deras. Tapi aku sedikitpun tidak merasa sakit.

“Liz! Liz!” teriak Christian panik. Si Jhon dan temannya juga panik. Mungkin ia juga tidak sengaja mencelakaiku. Tapi tetap saja ia akan divonis salah karena sudah melukaiku.

Lari, Jhon! Sebelum ada polisi!” teriak pria teman Jhon. Aku jatuh terkulai. Dua pria berandal itu lari tunggang langgang. Christian memapah tubuhku sampai ke pangkuannya.

Liz! Liz! Bertahanlah. Aku akan cari bantuan. Liz..!”

Ia menangis. Airmatanya jatuh ke wajahku. Hangat sekali. Aku tersenyum melihat wajahnya. Sedari kecil, Ia gampang sekali menangis.

Chris..”

Tiba-tiba semuanya memudar.

***

Aku dan Christian

Aku sudah pulih. Ternyata lukaku tidak terlalu besar dan hanya butuh beberapa jahitan saja. Tapi meski begitu aku belum boleh pulang selama seminggu kedepan. Sudah terbayang jenuhnya berada disini terus. Aku bersyukur bahwa aku selamat dari kejadian itu dan yang lebih menggembirakan, polisi telah berhasil menangkap Jhon dan temannya hanya dalam waktu satu hari.

Christian duduk disamping ranjang dan sesekali menawari aku makan sesuatu. Aku tersenyum teringat 6 tahun yang lalu, ketika Christian yang berada di rumah sakit, akulah yang setiap hari menemaninya.

Liz..” panggilnya lembut. Aku menoleh.

“Vira minta maaf karena selama kamu pulih, ia belum sempat menengokmu lagi.”kata Christian. Aku mengangguk.

“Ohya, semua biaya rawat inap dan operasi, Vira yang menanggung sebagai rasa bersalahnya padamu. Aku diberi amanat untuk menyampaikan terimakasih karena kamu telah menyelamatkannya dari para berandal itu” lanjut Christian lagi. Aku berusaha duduk.

“Chris, ia harus berterimakasih pada kita berdua” ujarku. Suaraku masih parau tapi kupaksakan bicara.

“Kalau sudah sembuh, aku mau ngomong sama dia untuk mempertimbangkan kamu jadi pacarnya. Pasti ia akan menerimamu. Kamu kan sudah jadi hero buatnya. He he..” lanjutku sambil mencubit pipinya. Christian menggeleng.

“Liz, ternyata aku baru sadar kalau aku tidak pernah mencintai Vira..” katanya.

“Hee?!” tanyaku terkejut. Kemudian wajahnya mendekat ke wajahku. Sedetik kemudian bibirnya yang tipis kemerahan (yang sempat kukagumi itu) menyentuh rapat bibirku. Aku terkesiap. Christian temanku sejak kecil itu menciumku!!

“Aku sudah punya kamu,Liz. Itu lebih dari cukup. Aku nggak mau kehilangan kamu..Aku sayang kamu..!!” lanjutnya lagi. Wajahku memerah. Entah karena pernyataan barusan atau ciuman dari bibir tipisnya yang hangat tadi. Aku tersipu. Kemudian kurentangkan kedua tanganku. Christian mengerti kode itu dan ia memelukku erat sekali.

“Aku juga sayang kamu,Christian”kataku lirih di telinganya. Penuh bahagia. Ah! Aku dan Christian memang tidak pernah terpisahkan!

- The End –


Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
Possibly-related Articles:                                        (auto-generated)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!

Some Today.com contributors may have received a fee or a promotional product or service from a manufacturer for promotional consideration, while others receive no consideration at all. Each contributor is responsible for disclosing any such promotional consideration.