&
Advertise Here with Today.com
 

Archive for April, 2008

Apr 10 2008

Next Book:HUJAN DI BELANGA

Published by chika under BUKU Edit This

Ini Novelku yang kedua, will published by ANDI Publishing Jogyakarta.
Here the synopsis

HUJAN DI BELANGA is about..

LOVE AND FRIENDSHIP
“ Liz, gue pengen kita bareng terus. Lo dan gue”
“Apa?”
“ Iya. Bareng terus. Sekarang, selamanya. Boleh kan?”
“Jett, selama beberapa bulan ini kan kita selalu barengan”
“Iya. Tapi beda!”
“Jadi maksud lo apa?”
THE DREAMS
“Apa yang kita pengen, apa yang kita impikan, kadang gak bisa jadi kenyataan. Iya, kan Jett?”
“Tapi seenggaknya lo udah berani mimpi, Chris. Meski mimpi lo itu belum jadi kenyataan..”
“Tapi setelah kejadian itu, gue gak berani mimpiin apa-apa lagi”
“Chris, tiap hari, tiap jam dan tiap detik kita harus punya mimpi. Biar kita tahu kalo setiap detik jantung kita masih berdenyut, otak kita masih bekerja, dan hati kita masih bicara. Lo tahu, Chris? Impian itulah yang bikin seseorang tetep punya semangat untuk hidup..”

THE LONELINESS
Diary entry..
..”Kesunyian maha dahsyat bertahta megah di jiwaku..
Mengunci setiap kata yang ingin aku keluarkan..
Kata orang aku adalah raga hidup yang jarang sekali berucap..
Hey! Aku bicara. Sungguh! Tapi hanya aku yang bisa mendengarnya..”

THE REVENGE..
“…Lo tahu Chris? Dia punya rencana untuk ngancurin kita berdua, karena…”
“ Karena apa?!”
“Karena dia cinta sama Lizkia!!”
“ Kalo cuma gara-gara suka ama Liz, kenapa dia sampe berbuat kayak gini, Jett?”

ANG THIS STORY..

Hujan turun. Airnya menetes di Belanga. Kadang ia dibenci, kadang dirindu pula. Tetesannya yang jatuh itu berbunyi. Bunyi yang bisa diterjemahkan jadi cerita,
‘pabila kita punya rasa…
Hujan turun. Airnya menetes di Belanga. Kini bibir belanga itu penuh hampir ruah. Menjelma jadi kisah anak manusia. Kisah tentang benci, kadang rindu pula.
Karena hujan di Belanga. Cerita ini ada….

… COULD HAPPENS TO US ALL

© 2007 HUJAN DI BELANGA® written by Chika Riki.
ANDI Publishing,Jogyakarta All rights reserved

Advertise Here with Today.com

No responses yet

Apr 10 2008

O,MY GOD!

Published by chika under BUKU Edit This

Hello There!
Ini Novel Teenlit Perdana gue. Cerita tentang pencarian jati diri seorang cewek yang kebingungan antara sekolah dan pekerjaanya. Juga tentang seorang cowok yang selama ini mencari sosok ayah kandungnya.
mau tahu lebih?
Baca Novelnya!

SINOPSIS O,My GOD!
Patah hati dari cinta pertama? Duh, mau runtuh deh dunia. Tapi kenyataan itu gak bikin Ayara larut dalam kesedihan. Dia melampiaskannya dengan bekerja freelance jadi waitress sepulang sekolah di kafe Mimosa.
Suatu hari karena kelalaiannya, dia hampir saja dipecat. Tapi justru itu dia jadi kenalan sama Ren, sepupu sang pemilik Mimosa. Ren yang tergila-gila musik Jepang dan tergabung dalam komunitas penggemar musik Jepang di Bandung ini diam-diam emang naksir sama Ayara.
Ketika Ren ngajak jadian, Ayara nolak lantaran dia belum yakin akan perasaannya pada cowok itu dan terlebih dia belum sanggup melupakan Benno, mantannya.
Suatu saat, Benno muncul lagi dalam kehidupan Ayara membuat Ayara goyah. Ditengah kebimbangan hatinya, muncul fakta bahwa ternyata Benno punya andil penyebab hancurnya Mimosa.
Nikmatin deh deg-degannya Ayara disaat dia harus milih antara Ren atau Benno, juga memilih antara sekolah dan dunia kerjanya. Juga sensasi di tengah-tengah komunitas penggemar musik Jepang yang unik dan pastinya belum pernah kamu temuin sebelumnya!!

No responses yet

Apr 08 2008

DIAKHIR MUSIM

Published by chika under BUKU Edit This

“Nadine! Tunggu! Aku kan belum selesai bicara” katanya dengan napas tersengal-sengal. Aku tidak peduli pada suara di belakangku itu dan terus mempercepat langkahku menuju halte bis. Setibanya di halte, aku menoleh dan celingukan mencari sosok yang tadi mengejarku seperti wartawan pemburu berita gosip. Aku menarik napas lega mendapati kenyataan bahwa aku tidak lagi dikejar-kejar seperti itu. Kini aku siap menanti bis yang akan membawaku pulang ke apartemen. Kugosok-gosokan tangan untuk menciptakan rasa hangat meski hanya diujung jari-jari. Musim salju belum tiba tapi sudah mengirimkan hawa dingin seolah hendak memberi tahu bahwa ia akan datang tidak lama lagi.
“Minum ini, biar tidak terlalu dingin”. Aku menoleh. Oh Shit! Dia lagi. Bukannya dia sudah capek mengejarku tadi? Aku melengos. Kulihat dia nyengir sambil menarik lagi gelas kopinya.
“Ya sudah,kalau tidak mau. Yang penting aku sudah menawarimu minum” katanya lagi. Bibirnya yang merah seksi itu menyeruput kopi. Aku mendesis. Dasar!
“Hey, Nadine. Mumpung kamu lagi tenang nunggu bis kaya gini,aku mau ngomong lagi tentang hal tadi. Aku menawarkan kamu…”
“Sudahlah, Jacques!” tampikku. Aku melihat wajahnya sambil melotot. Jaques tampak tidak peduli. Aku makin geram.
“Heran,ditawari sesuatu yang menyenangkan kok tidak mau” katanya. Aku mendengus.
“Ayolah,Nad. Kompetisi itu tidak terlalu susah buatmu. Aku tahu kamu bisa menari. Kalau menang di Perancis, kamu bisa ikut tingkat dunia di Moskow. Waah! Apa itu tidak hebat?”lanjutnya lagi. Kali wajahnya serius. Tidak cengar cengir seperti tadi. Aku hanya diam. Malas menanggapi omongannya.
Bis yang akan membawaku pulang sudah datang. Aku segera naik. Tak disangka, si Jacques juga ikut naik, padahal jelas-jelas rumahnya berlawanan arah dengan apartemenku. Aku menampik rasa heranku dengan tidak memperdulikannya dan duduk disamping seorang ibu (tujuannya agar si Jacques tidak duduk disebelahku jika aku memilih tempat duduk kosong). Tapi dasar Jacques, ia malah berdiri disampingku, padahal banyak kursi yang masih kosong.
“Gimana, Nad? Kamu mau kan?” kata Jacques memulai usahanya lagi. Aku memasang earphone dan mendengarkan lagu dari Mp3 player, sambil baca buku.
“Nad! Nadine!”panggilnya berulang-ulang. Aku pura-pura tidak mendengar.
“Anak muda, apakah kau tidak bisa duduk? Di belakang banyak kursi kosong” tukas pak sopir yang bertubuh tambun. Jacques tampak kebingungan menjawab pertanyaan pak sopir. Aku tersenyum menyeringai.
“Nona, apa kau kenal dia? ” tanya pak sopir jelas itu ditujukan padaku. Aku memandang Jacques sekilas lalu menggeleng.
“Tidak, Pak! Saya tidak kenal dia” Jacques mengangkat alis dan melongo. Akhirnya Jacques menyerah, kemudian ia memilih duduk di kursi yang kosong. Aku tersenyum puas dan melanjutkan acara membaca buku.
Aku memandang keluar jendela. Bis baru saja melewati Hotel des Invalides. Itu berarti apartemenku masih lumayan jauh. Aku menoleh pada Jacques, ia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku melengos. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku harus ke perpustakaan besar untuk mencari beberapa referensi bahan tulisanku. Aku berdiri ketika bis berhenti di salah satu halte. Kulihat dengan ekor mata, Jacques mengikutiku turun dari bis.
“Hati-hati, Nona. Lapor polisi saja jika kau merasa terganggu dengan orang ini” pesan pak sopir sebelum aku turun. Aku mengucapkan terimakasih sedang Jacques memilih diam.
Aku tersenyum lega keluar dari La Grande Bibliothèque. Buku-buku yang aku perlukan untuk bahan tulisan sudah aku dapatkan. Aku ingin rehat sejenak melepas penat. Duduk di bangku taman di tepi sungai Seine di siang bolong seperti ini adalah pilihan yang tepat. Sengaja aku memilih tempat yang memberiku pemandangan gereja Nôtre Dame. Siapa tahu bisa memberi inspirasi. Whhhuuah..Aku menggeliat.
“Enak juga ternyata duduk disini” ujar Jacques. Astaga! Dia masih saja mengikutiku. Apa sih maunya ini anak!?
“Selama aku tinggal di Paris, baru sekarang aku nongkrong disini. Kalau kamu,pasti sering ya? Kamu kan sudah lama tinggal disini” lanjutnya lagi. Aku cuek saja sambil membaca-baca buku yang baru saja aku pinjam. SMUku, SMU Henry IV, akan mengadakan lomba menulis cerita bersambung bertema remaja dan sekolah. Hadiahnya ratusan Franc. Beberapa teman mendukungku untuk ikutan karena mereka tahu aku punya bakat menulis. Cerpenku beberapa kali dimuat di majalah remaja. Iya, semua mendukungku untuk ikut lomba menulis itu. Kecuali mahluk satu yang kini lagi duduk santai di sebelahku ini.
“Di Marseille, kami biasa nongkrong di pantai. Asyik lho, Nad. Melihat orang bermain parasailing, ski air, berenang. Kalau kamu pernah pergi ke pantai? Kalau belum sayang sekali. Aku juga pernah diajak sepupuku ke sebuah pantai di La Rochelle. C’est formidable! Disana ombaknya sangat besar dan kami…”
“Kamu bisa diam gak sih, Jacques? Gak lihat apa aku lagi konsen baca!?” sentakku. Aku rasa aku sudah kehabisan kesabaran. Jacques terkejut mendengar perkataanku. Aku sedikit menyesal membentaknya. Kemudian ia mencangklong tasnya dan berdiri.
“Ok. Aku sudah terlalu mengganggu ya? Maaf kalau begitu..” katanya lalu beringsut pergi.
“Jacques! Jacques! Tunggu. Hey!” kataku sambil berlari mengejarnya. Ia menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh.
“Maaf kalau aku mengganggumu. Aku janji, tidak akan mengganggumu lagi..” katanya.
“Jacques, bukan begitu. Aku..Aku..”
Ah! Kenapa aku jadi kehilangan kata-kata begini. Jacques melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi padaku. Rupanya ia benar-benar tersinggung. Yah, sudahlah. Mungkin besok juga baikan lagi, kataku dalam hati.
**
Aku tahu kenapa Jacques sangat ingin aku ikut kompetisi tari ballet yang diadakan oleh Departemen Kebudayaan. Karena ia tahu, aku seorang ballerina (ia pernah menemukan foto masa SMPku dengan baju ballet di sebuah laci meja belajarku). Tapi yang Jacques tidak tahu adalah bahwa sudah tiga tahun ini, aku tidak pernah lagi menari. Sejak..sejak..Tidak! aku menutup mataku. Berusaha tidak lagi mengingat kejadian tiga tahun lalu yang telah merenggut nyawa seseorang yang paling berharga dalam hidupku. Mama!
Ketika itu, sedang diadakan kompetisi tari ballet tingkat nasional. Aku sangat berharap mama bisa hadir mendukungku pada saat aku pentas di hadapan juri. Mama sangat sibuk. Jadwal kerjanya yang padat di perusahaan advertising kadang membuatnya lupa bahwa ia punya suami dan anak perempuan yang perlu perhatiannya.
Tarianku sangat sempurna. Tapi diakhir bagian tari, tiba-tiba kakiku terkilir dan aku terjatuh. Semua orang berteriak menyesal. Aku juga menyesal. Seadainya aku tahu kalau itu adalah sinyal firasat buruk. Mama, hari itu akan menonton pentasku. Ia ijin dari kantornya dan hanya diperbolehkan pergi satu jam. Ia terburu-buru menuju gedung pertunjukkan membuat ia tidak konsen mengendalikan mobilnya. Ia kecelakaan dan meninggal dunia. Mama meninggal dunia gara-gara mau menontonku menari!!
Sejak saat itu aku meninggalkan dunia ballet. Kusimpan segala pernak-penik ballet yang sudah aku geluti sejak masih kecil. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku begitu ngotot supaya mama menonton pertunjukkanku. Papa membawaku pindah dari Nice ke Paris. Iapun rela pindah pekerjaan, supaya kami berdua bisa melupakan kejadian itu. Kemudian aku bersekolah di sini. Memulai kehidupan baru kami. Tapi sejak Jacques menemukan foto lamaku dan tahu bahwa aku dulu adalah seorang ballerina, sedikit demi sedikit kenangan itu terkuak kembali. Aku samasekali tidak menyalahkan Jacques. Dia hanya tidak tahu mengapa aku tidak lagi mau menari.
**
Mataku mencari-cari sosoknya. Biasanya pagi-pagi begini ia sudah nongkrong di kafe, menunggu bel masuk sekolah berbunyi. Tapi aku tidak menemukan sosok itu.
“Cari Jacques ya?” tanya seseorang dari belakang mengejutkanku. Aku menoleh dan tersenyum. Rupanya Chloé. Teman sekelas kami juga.
“Iya nih. Tumben ya, pagi-pagi begini dia belum nongol” tukasku. Chloé mengibaskan rambut pirangnya yang panjang sebahu. Ia cewek yang sangat feminin.
“Nad, ia memang tidak masuk sekolah hari ini, ada keperluan keluarga katanya” ujarnya kemudian. Alisku bertaut.
“Iya, tadi pagi, dia sengaja kerumahku untuk mengatakan hal ini dan ia titip surat buat kamu. Nih baca!” ujar Chloé seraya menyerahkan sepucuk surat padaku. Aku tersenyum geli. Dasar Jacques. Kaya anak kecil saja pake surat-suratan. Chloé menatapku.
“Nad, beruntungnya kamu ada seseorang yang sangat memperhatikanmu. Selamat ya!” ujarnya sambil berlalu. Aku heran “Hey, Chloé! Apa maksudmu? Aku gak ngerti!” tanyaku setengah berteriak karena Chloé sudah menjauh dariku. Ia membalikkan badannya dan menebar senyum termanisnya.
“Sensitiflah sedikit, cewek bodoh!” katanya setengah berteriak juga. Aku melotot dan segera berlari mengejarnya sampai ke kelas.
**
“Nadine..Maaf kalau merasa jengah baca surat dariku ini. Aku bisa saja langsung bicara padamu, tapi kurasa akhir-akhir ini kamu selalu saja menghindariku. Aku sangat menjengkelkan ya?
Nad,, aku hanya ingin kamu bisa melanjutkan bakatmu dalam menari ballet. Aku tahu kamu hanya trauma dengan apa yang dialami oleh mamamu. Itu bukan kesalahanmu, Nadine. Samasekali. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagimu untuk berhenti menari karena mama kamu meninggal. Aku rasa, mama kamu di surga juga lebih senang kamu tetap menari. Dengan alasan kamu seperti ini, tentu ia akan sedih sekali.
Oke, sebagai penutup aku tidak akan memaksamu untuk ikut kompetisi itu (aku menyesal telah mengatakannya karena awalnya aku tidak tahu alasanmu yang sebenarnya-jangan salahkan Chloé, dialah yang memberitahuku).
Tapi pesanku, Nadine, jangan bohongi perasaanmu. Jujurlah pada kehidupanmu.
Bissous, Jacques”
Tiba-tiba dadaku terasa hangat. Aku menggigit bibir dan tersenyum.
Aku membuka kembali peti kayu buatan papa. Isinya adalah barang-barang kenangan yang menyakitkan tapi masih sayang jika kubuang. Aku keluarkan isinya satu persatu. Ada foto-foto mama ketika masih muda. Juga ada foto kami bertiga ketika berlibur ke Mount Blanc.
Baju balletku masih bagus. Berwarna pink lembut terbuat dari satin. Sepatu balletku juga masih tampak bagus. Dua benda itulah yang kupakai terakhir kali tiga tahun lalu sebelum aku memutuskan untuk menggantung sepatu. Aku berdiri di depan kaca, mematut-matut diriku yang kini telah terbalut baju dan sepatu ballet. Aku melakukan gerakan memutar dan berjinjit. Tiba-tiba aku terjatuh. Aku teringat bagaimana kakiku terkilir di panggung yang merupakan firasat ketika mama kecelakaan di jalan raya.
Aku menangis. Aku tidak sanggup. Tidak sanggup!!. segera kutanggalkan lagi baju dan sepatu balletku dan menangis tersedu di sudut kamar.
**
Di sebuah auditorium yang besar, aku menari seorang diri. Meskipun gelap dari atas panggung, tapi aku yakin, berpuluh-puluh pasang mata kini sedang memperhatikan tiap detil gerakan tarian yang kubawakan. Diiringi komposisi “The Blue Danube” aku menari bak seekor angsa yang sedang bermain di danau biru. Meliuk ke kanan, ke kiri, berputar menyamping dan sesekali ‘terbang’. Aku trance dan sangat menikmatinya. Dari arah samping panggung, papa melihatku penuh kasih. Sorot matanya menyiratkan kebanggaan yang luar biasa. Aku sempat melempar senyum pada papa. Tiba-tiba dari arah samping panggung yang lain, seorang penari laki-laki keluar dan menari bersamaku. Aku heran. Dalam skenario, tidak ada laki-laki yang menari bersamaku saat ini. Aku hanya membawakan tarian tunggal. Seluruh penonton bertepuk tangan menyambut kehadiran pria itu. Pria itu tersenyum. Oh,God! Itu Jacques!! Tubuhku mendadak kaku. Kakiku tidak bisa bergerak!!
“Ayo, Nadine! Lanjutkan tarian kita. Kita sudah latihan begitu lama, bukan?” tanyanya seraya menebar senyum. Aku melongo. Kapan aku latihan dengannya?
“Jangan kecewakan penonton yang sudah lama merindukanmu. Ups! Salah. Merindukan kita berdua, duet di atas panggung” lanjutnya lagi. Aku semakin merinding. Tiba-tiba lampu menyorot ke arahku. Ugh! Silau. Aku memejamkan mata dan terbangun. Astaga! Rupanya aku bermimpi. Apa artinya ini? Aku mimpi menari lagi begitu luwesnya seperti tiga tahun lalu, bersama Jacques?! Apakah karena suratnya tadi malam sangat mempengaruhi pikiranku? Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Deadline lomba menulis cerita bersambung seminggu lagi berakhir. Tapi aku belum bisa menyelesaikan tulisanku sampai batas halaman yang ditentukan. Pikiranku kacau. Kacau!
Entah sudah berapa bateau mouche yang lewat mondar mandir di hadapanku. Biasanya ketika duduk di pinggir sungai Seine ini, aku selalu menghitung berapa kali perahu pesiar dalam kota itu lewat di depan hidungku. Aku masih saja memegang kertas dan bolpen, berusaha membuat ending cerita bersambungku. Tapi tetap tidak ada ide. Bahkan aku tidak mampu menulis satu kalimatpun!
“Kamu tidak bisa menulis dalam keadaan seperti ini, Nadine” kata sebuah suara. Aku menoleh. Ia sudah berdiri di sampingku yang sedang duduk lesehan. Iapun ikut duduk di sampingku sambil menawarkan burger dan cola dingin. Aku segera menyambutnya karena aku memang kelaparan.
“Merci ” kataku. Ia mengangguk dan terdiam beberapa saat.
“Jacques..”
“Nad..”
Kami berdua tertawa kecil.
“S’il vous plaît, mademoiselle” katanya mempersilahkan aku untuk berbicara duluan. Aku menarik napas. Aku mengucapkan terimakasih atas suratnya dan aku samasekali tidak marah kemarin. Jacques tersenyum dan mengangguk.
“Maaf kalau aku begitu lancang memasuki duniamu yang belum banyak aku ketahui. Aku hanya tahu kau seorang penari, jadi kupikir sayang jika bakat besarmu terpendam sia-sia” katanya. Kemudian ia tertunduk. Angin sungai Seine menggoyang-goyangkan rambutnya yang agak gondrong. Aku tersenyum, sudah saatnya bersikap lunak padanya.
“Tidak apa-apa, Jacques. Aku maklum kalau kamu tidak tahu alasanku kenapa aku tidak mau lagi menari..” kataku. Semoga itu adalah jawaban yang dikehendakinya dariku. Ia mengangguk-angguk.
“Jacques, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku. Ia menoleh dan mengangkat alisnya.
“Silahkan. Kamu mau tanya apa?”
“Hmmmm, mengapa kamu..Kamu..sangat peduli padaku, Jacques?”
Ia tersenyum. Matanya memandangku agak menyipit.
“Kamu tidak tahu?”
Aku menggelengkan kepala.
“Benar-benar tidak tahu?”
Aku menautkan alis dan menggeleng. Ia melengos dan menarik napas.
“Kamu ini benar-benar bodoh atau tidak sensitif, ya?”
Aku melotot. Kok pernyataannya persis seperti yang pernah dilontarkan si Chloé sih?
“Apa maksudmu, Jacques? Aku gak ngerti!”
Tiba-tiba ia menarik bahuku sehingga wajahnya dan wajahku hampir saja menempel. Aku tercekat dan tentu saja deg-degan setengah mati. Aku tidak pernah sedekat ini dengan pria, kecuali papa.
“Dengar, Nadine. Aku…Aku mencintaimu!!”
Apa? Aku tidak salah dengar kan? Tapi aku tak sanggup berkata-kata. Hanya mataku yang memandangi kedua bola matanya bergantian. Jacques menelan ludah.
“Sudah lama, Nad. Sejak aku melihatmu pertama kali. Ketika kita berdua sama-sama jadi murid baru di sekolah. Ketika aku baru saja pindah dari Marseille dan jadi warga Paris. Satu setengah tahun yang lalu. Kamu tahu itu??”
Aku menggeleng. Shit! Betapa bodohnya aku! Mengapa selama ini aku tidak tahu kalau Jacques, teman sepermainan kami di sekolah, ternyata menyukaiku? Apa aku memang tidak sensitif atau terlalu memikirkan diri sendiri?
“Nad, aku sangat menyayangimu. Sangat! Aku selalu berusaha mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kamu terlihat begitu tertutup. Introvert. Bahkan kepadaku, atau kepada Chloé dan teman-teman yang dekat denganmu” katanya panjang lebar. Tentu saja ini membuatku terkejut. Kemudian ia menarik napas.
“Sekarang kamu tahu, kan? Kalau aku perhatian padamu, karena aku menyukaimu!”
Aku tertunduk kemudian menitikkan airmata. Aku sangat terharu dengan pernyataan Jacques. Ia sangat jujur mengungkapkan isi hatinya. Ia sangat jujur pada kehidupannya. Aku jadi malu pada diriku sendiri. Aku tidak jujur pada kehidupanku. Yah, aku masih mencintai dunia ballet. Mengapa justru aku meninggalkannya? Jacques benar. Kematian mama, bukanlah alasan untuk aku mundur dari ballet. Itu murni kecelakaan. Bukan gara-gara aku. Mungkin karena itulah selama tiga tahun terakhir ini, aku selalu tertutup seperti yang dikatakan Jacques, karena aku mulai tidak jujur lagi pada hidupku. Aku mengkhianati kehidupanku sendiri. Sungguh menyedihkan!!
“Nadine, hari sudah sore. Kalau kamu kelamaan disini. Nanti kamu sakit. Nih, pakai jaketku. Lihat tuh baju kamu tipis banget. Ayo pakai!” katanya. Aku tersenyum. Tidak terbayangkan olehku kalau suatu hari nanti Jacques jadi pacarku. Pasti aku akan dicerewetinya setiap hari sebagai bentuk perhatiannya padaku. Aku menurut saja saat ia menggandeng tanganku untuk beranjak pulang. Aku berjanji dalam hati akan jujur pada kehidupanku. Aku sudah membuat keputusan untuk kembali ke dunia ballet yang memang sudah mendarah daging dalam tubuhku. Tiba-tiba aku merasa hidupku sangat indah!

PS: Aku juga tidak akan membohongi perasaanku, kalau sebenarnya akupun sudah menyukai Jacques, sejak kami bertemu, di hari pertama sekolah…
- Fin -

C’est formidable! = luar biasa!
Merci=terimakasih
S’il vous plaît mademoiselle=silahkan nona

(Harian PR,2 Januari 2007)

No responses yet

Apr 08 2008

DESA INVISIBLE

Published by chika under TULISANKU Edit This

“ Masih jauh, gak Tan?”
“ Ga, bentar lagi kok. Kenapa udah gak sabar yah?” Intan teman sekampusku menjawab.
Aku melihat sekelilingku. Hanya pohon bambu. Sangat rimbun, menaungi jalan yang hanya selebar gang rumah kostku di Jatinangor, sehingga kami seolah masuk ke terowongan. Dingin dan gelap.
Melihat aku gelisah, sang sais hanya tersenyum sambil terus menjalankan kereta kudanya.
Tak lama, kami keluar dari hutan bambu. Aku bernapas lega. Karena aku mulai melihat pemukiman dari kejauhan.
“ Itu rumahku” kata Intan sambil menunjuk di kejauhan. Aku mengangguk. Dalam hati aku ingin segera sampai di rumah Intan. Badanku pegal-pegal setelah selama tiga jam duduk di dalam Elf, semacam bis mini, lalu sekarang selama kurang lebih setengah jam, terguncang-guncang di delman.
Kalau saja Ayah dan Ibu tidak sedang dinas ke luar negeri saat aku liburan seperti sekarang ini, pastilah aku tidak akan ada disini, terseret Intan pulang ke kampung halamannya. Tapi ya sudahlah!
Delman yang kami tumpangi berhenti di salah satu rumah yang boleh dibilang paling bagus di desa itu. Intan turun dari delman membawa barang-barangnya, aku juga turun dengan kepala sedikit pusing. Setelah membayar ongkos , kami melangkah menuju halaman rumah Intan.
“ Assalamualaikum…” teriak Intan dari luar rumah. Kenceng amat, batinku.
“Waalaikumsalam…” Ada suara laki-laki dibelakangku. Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa! Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku mengusapnya. Kulihat Intan tidak bergeming dengan jawaban salamnya tadi. Ia terus mengetuk-ketuk pintu rumahnya.
“Ih, pada kemana sih orang-orang..” gumamnya.
“Assalamualaikuuuum..Mama..Papa…Reni…” ia memanggil semua orang di rumahnya.
“ Papa kamu lagi di koperasi. Mama kamu lagi ke kota. Reni masih ngaji di masjid..” jawab seorang anak kecil. Sekali lagi aku menoleh, tidak ada siapa-siapa!!
Aku beringsut mendekati Intan, ingin mengutarakan apa yang kudengar dan kulihat, tapi Intan segera menyuruhku diam.
“ Udah, Fit. Jangan dijawab. Ssstt..!” katanya membuatku makin penasaran. Tapi aku memilih diam.
“Intaaan…” teriak seorang perempuan. Aku tidak berani menoleh. Takut tidak melihat siapa-siapa lagi.
“ Mamaaa..!!” seru Intan. Sontak aku menoleh. Ternyata mamanya Intan. Datang tergopoh-gopoh sambil membawa kantung plastik berisi belanjaan. Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan. Lalu Intan mengenalkan aku pada mamanya.
“ Saya Fitri,Bu” kataku sambil mencium tangannya.
“ Ooh…Ini Nak Fitri? Intan sering cerita ke Ibu. Ayo masuk. Mama tahu Intan mau pulang, makanya mama mau masak kesukaan Intan ” kata wanita cantik paruh baya itu. Aku hanya tersenyum. Lalu kami beriringan masuk rumah.
“ Gimana kuliahmu, Nak?”
“ Yaaaa..gitu deeehhh!!”
***
Kami makan bersama di meja makan. Semua makanan seolah tersedia di meja. Aku tersenyum. Perutku memang sudah lapar sejak sore tadi, tapi mama Intan belum selesai masak. Aku heran, kami hanya berlima tapi kenapa kursi makan tersedia 8 dan piring sendok garpu juga tersedia 8? Usai membaca doa, Papa Intan mempersilahkan kami makan.
Aku terperangah ketika melihat 3 pasang sendok garpu dan piring melayang-layang sendiri, mengambil makanan dan lauk sendiri. Lalu bergerak-gerak seperti kami makan sekarang ini.
“ Hey! Jangan bengong gitu. Ayo makan nanti keburu dingin loh!” kata Intan. Semua tersenyum melihatku. Aku makin tidak mengerti dengan semua ini.
Pagi ini aku jalan-jalan mengitari desa. Desa ini sangat kecil. Bahkan tak butuh waktu setengah jam, aku sudah mengitari hampir tiga perempat luasnya. Orang-orang desa sangat ramah. Terlebih Intan adalah putri seorang pengusaha sukses yang kini memegang koperasi petani dan sangat dihormati. Penghuni desa selalu menyapa dan mempersilahkan kami untuk mampir ke rumah mereka. Sungguh desa yang sangat menyenangkan.
Ketika melakukan tour de village, aku beberapa kali berpapasan dengan pikulan berisi sayur mayur dan hasil kebun yang melayang-layang sendiri. Kalau sudah begitu, Intan akan menarikku ke pinggir seakan-akan tidak boleh menghalangi jalan pikulan itu. Kemudian terdengar suara laki-laki agak sengau yang berkata; “Punten, Neng..” dan Intan menjawab; “ Mangga, mangga”. Itu terjadi sekira tiga kali!
“ Tan, lo bisa jelasin gak ke gue, kenapa sejak kemarin gue datang ke desa ini, gue ngalamin kejadian aneh-aneh” tanyaku. Intan tertawa.
“Kemarin pas baru dateng, lo kan bilang assalamualaikum, tuh. Terus, ada yang jawab. Suaranya agak-agak sengau gitu;wa’alaikum salam, gitu katanya”lanjutku lagi. Intan tersenyum geli.
“ terus, apa lagi yang lo denger Fit?”tanyanya kemudian. Aku menarik napas. Intan tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, sih?
“Lalu waktu makan malam itu. Kenapa meja yang tersedia ada 8? Padahal kan seisi rumah plus gue cuma 5 orang? Trus gue lihat piring, sendok garpu melayang-layang sendiri. Terus barusan, banyak pikulan mondar-mandir tanpa kelihatan siapa yang memikul Ada apa dengan desa ini? Mereka yang gak kelihatan itu apa dan siapa sebenarnya?”tanyaku memberondong. Intan kini tidak lagi tertawa. Raut wajahnya mendadak serius.
“ Fit, kami tidak boleh menjelaskan siapa ‘mereka’. Bahkan kami tidak boleh menggunjingkan ‘mereka’. Adat kami disini tidak memperbolehkan untuk itu. Kalau lo penasaran, coba lo tanya saja sendiri sama ‘mereka’”kata Intan membuat mataku terbelalak.
“ Apa, Tan? Gue suruh bicara sama makhluk halus kaya begitu??”
“Ssssttt! Jaga mulut lo! Mereka itu bukan..Ups sorry gue lupa kalau gak boleh ngomongin mereka”. Aku diam. Intan juga diam dan hanya memainkan jari-jari kakinya di sungai kecil nan jernih ini.
“ Nanti di kota gue ceritain. Tapi kalau lo penasaran, ya coba aja komunikasi sama ‘mereka’. Oke, Fit?”kata Intan kemudian ia beranjak meninggalkan tempat ini.
Malam harinya aku tidak bisa tidur. Kebalikan dari malam kemarin yang sangat nyenyak-mungkin kecapekan-kali ini bahkan mataku tidak bisa terpejam samasekali. Gimana mau terpejam. Di dapur yang bersebelahan dengan kamar yang aku tiduri sekarang terdengar orang bercakap-cakap. Suara wanita dan pria juga suara seorang anak kecil. Semuanya agak-agak sengau. Mereka seperti sedang memasak. Aku mengerjapkan mata berusaha melihat jam dinding di dalam kamar yang remang-remang. Gila! Jam 3 subuh! Aku membaringkan tubuhku lagi dan berusaha untuk tidur. Tapi aku dikejutkan oleh suara panci jatuh. Aku kaget bukan kepalang.
Terngiang lagi kata-kata Intan;”Tapi kalo lo penasaran, ya coba aja komunikasi sama mereka…”
Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarku. Suara pintu yang berderenyit sejenak membuat bulu kudukku merinding dan sempat mengurungkan niatku untuk menemui ‘mereka’. Tapi ah! Nekat ajalah. Toh sepertinya ‘mereka’ bukan makhluk jahat.
Maka kulangkahkan kakiku menuju dapur. Dan astaga…! aku tidak percaya dengan pandanganku sendiri. Aku melihat kompor menyala dengan panci diatasnya. Aku jongkok untuk memastikan apakah apinya benar-benar menyala. Kemudian terdengar suara sengau yang dekat sekali di telingaku ;”Mau mie kuah,Teh?” aku terpekik. Kaget. Aku mundur beberapa langkah, berusaha menenangkan perasaanku yang masih campur aduk. Aku terkulai lemas di pojok ruangan.
“Sii..ssisiapa kalian?”tanyaku entah pada siapa. Terdengar suara mereka berbisik-bisik. Aku memandang ke segala arah berusaha tahu siapa yang sedang berbicara itu.
“ Jangan takut, Nak. Kami adalah penghuni desa ini. Sama seperti kalian.”jawab suara perempuan. Aku diam, napasku masih tersengal-sengal dan mataku masih menatap ke segala arah.
“ Kami hidup berdampingan dengan manusia di sini selama bertahun-tahun. Tapi kami tidak tahu jika kami ini jenis yang tidak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya. Mulanya kami sedih. Tapi kini seiring penerimaan masyarakat desa, kami sekarang biasa hidup seperti ini.”
“ Jadi kalian ini siapa?”tanyaku
“Kami adalah manusia seperti kalian, hanya kami tanpa wujud. Kami juga hidup layaknya manusia, bersosialisasi, beranak pinak dan punya perasaan..”
Aku terdiam. Perlahan aku mulai mengerti siapa ‘mereka’.
“Kami bukan makhluk halus. Kami berbeda dari setan, hantu atau apapun itu. Kami tetap manusia hanya dengan wujud yang berbeda”jelas wanita yang tidak tampak itu.
Aku tersenyum dan mengangguk-angguk. “Saya mengerti siapa kalian sekarang. Maaf kalau kemarin saya bersikap tidak ramah pada kalian”
“ Tidak apa-apa, Nak. Kami paham bahwa tidak semua manusia bisa menerima perbedaan bahkan dari jenisnya sendiri”katanya. Aku mengernyit.
“ Maksud, Ibu?”
“ Ya, Ibu mendengar cerita tentang manusia bertubuh tidak lengkap sering mendapat perlakuan tidak adil dari manusia yang bertubuh sempurna. Manusia yang mempunyai wajah kurang beruntung sering mendapat perlakuan tidak adil dan sepertinya pemilik wajah-wajah rupawan saja yang merasa mempunyai banyak kesempatan. Manusia hanya melihat fisik, bukan hati..”katanya
“Maka kami sangatlah beruntung, meskipun kami tidak tampak dan sering dianggap sebagai hantu atau sejenisnya, tapi kami diterima sangat baik di desa ini.” lanjutnya lagi.
Aku berdiri dan tersenyum pada keluarga itu.
“ Saya permisi pergi tidur dulu…”
“ Teteh gak mau mie kuah?”tanya si kecil. Aku jongkok, aku tahu dia pasti lebih pendek dariku.
“ Makasih, Dik. Kakak mau bobo dulu. Sampai besok..”ujarku dan berlalu dari situ. Tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu, aku segera berbalik badan.
“ Eh, Bu..”seruku. Suasana sudah hening. Kulihat sekeliling dapur yang kini sudah bersih.
Aku jadi urung untuk menanyakan kenapa adat desa ini tidak memperbolehkan membicarakan ‘mereka’?
Aku kembali ke kamar. Biarlah pertanyaan itu kusimpan baik-baik dalam hati.
Tidak terasa, aku sudah seminggu berada di sini. Aku berkemas dan siap menunggu kereta kuda di depan rumah. Intan dan Ibunya menyusulku menunggu di teras rumah.
“ Jangan bosan datang kesini, Nak Fitri ” kata Ibunya Intan. Aku tersenyum dan mengangguk. Tentu, semester depan aku ingin kesini lagi. Terlebih aku sudah mempunyai seorang sahabat. Kereta kuda yang dipesan sudah tiba, aku segera naik.
“ Teh Fitri, jangan tinggalin Elok. Huuuuuuhhuuu..” seorang gadis kecil menangis. Aku tersenyum pada sosok tak berwujud itu. Tapi aku bisa merasakan sentuhan tangan mungilnya menarik bajuku. Aku menelan ludah menahan tangis. Tenggorokanku sakit sekali.
“Besok saya kembali kesini,saya janji..”ujarku tertahan.
Kereta kuda melaju membawa kami kembali ke kota. Tempat bermacam-macam manusia dengan berbagai wujud…

Jatihandap,1 Januari 2006
(Harian PR,31 Oktober 2006)

No responses yet

Advertise Here