Apr 08 2008
DESA INVISIBLE
“ Masih jauh, gak Tan?”
“ Ga, bentar lagi kok. Kenapa udah gak sabar yah?” Intan teman sekampusku menjawab.
Aku melihat sekelilingku. Hanya pohon bambu. Sangat rimbun, menaungi jalan yang hanya selebar gang rumah kostku di Jatinangor, sehingga kami seolah masuk ke terowongan. Dingin dan gelap.
Melihat aku gelisah, sang sais hanya tersenyum sambil terus menjalankan kereta kudanya.
Tak lama, kami keluar dari hutan bambu. Aku bernapas lega. Karena aku mulai melihat pemukiman dari kejauhan.
“ Itu rumahku” kata Intan sambil menunjuk di kejauhan. Aku mengangguk. Dalam hati aku ingin segera sampai di rumah Intan. Badanku pegal-pegal setelah selama tiga jam duduk di dalam Elf, semacam bis mini, lalu sekarang selama kurang lebih setengah jam, terguncang-guncang di delman.
Kalau saja Ayah dan Ibu tidak sedang dinas ke luar negeri saat aku liburan seperti sekarang ini, pastilah aku tidak akan ada disini, terseret Intan pulang ke kampung halamannya. Tapi ya sudahlah!
Delman yang kami tumpangi berhenti di salah satu rumah yang boleh dibilang paling bagus di desa itu. Intan turun dari delman membawa barang-barangnya, aku juga turun dengan kepala sedikit pusing. Setelah membayar ongkos , kami melangkah menuju halaman rumah Intan.
“ Assalamualaikum…” teriak Intan dari luar rumah. Kenceng amat, batinku.
“Waalaikumsalam…” Ada suara laki-laki dibelakangku. Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa! Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku mengusapnya. Kulihat Intan tidak bergeming dengan jawaban salamnya tadi. Ia terus mengetuk-ketuk pintu rumahnya.
“Ih, pada kemana sih orang-orang..” gumamnya.
“Assalamualaikuuuum..Mama..Papa…Reni…” ia memanggil semua orang di rumahnya.
“ Papa kamu lagi di koperasi. Mama kamu lagi ke kota. Reni masih ngaji di masjid..” jawab seorang anak kecil. Sekali lagi aku menoleh, tidak ada siapa-siapa!!
Aku beringsut mendekati Intan, ingin mengutarakan apa yang kudengar dan kulihat, tapi Intan segera menyuruhku diam.
“ Udah, Fit. Jangan dijawab. Ssstt..!” katanya membuatku makin penasaran. Tapi aku memilih diam.
“Intaaan…” teriak seorang perempuan. Aku tidak berani menoleh. Takut tidak melihat siapa-siapa lagi.
“ Mamaaa..!!” seru Intan. Sontak aku menoleh. Ternyata mamanya Intan. Datang tergopoh-gopoh sambil membawa kantung plastik berisi belanjaan. Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan. Lalu Intan mengenalkan aku pada mamanya.
“ Saya Fitri,Bu” kataku sambil mencium tangannya.
“ Ooh…Ini Nak Fitri? Intan sering cerita ke Ibu. Ayo masuk. Mama tahu Intan mau pulang, makanya mama mau masak kesukaan Intan ” kata wanita cantik paruh baya itu. Aku hanya tersenyum. Lalu kami beriringan masuk rumah.
“ Gimana kuliahmu, Nak?”
“ Yaaaa..gitu deeehhh!!”
***
Kami makan bersama di meja makan. Semua makanan seolah tersedia di meja. Aku tersenyum. Perutku memang sudah lapar sejak sore tadi, tapi mama Intan belum selesai masak. Aku heran, kami hanya berlima tapi kenapa kursi makan tersedia 8 dan piring sendok garpu juga tersedia 8? Usai membaca doa, Papa Intan mempersilahkan kami makan.
Aku terperangah ketika melihat 3 pasang sendok garpu dan piring melayang-layang sendiri, mengambil makanan dan lauk sendiri. Lalu bergerak-gerak seperti kami makan sekarang ini.
“ Hey! Jangan bengong gitu. Ayo makan nanti keburu dingin loh!” kata Intan. Semua tersenyum melihatku. Aku makin tidak mengerti dengan semua ini.
Pagi ini aku jalan-jalan mengitari desa. Desa ini sangat kecil. Bahkan tak butuh waktu setengah jam, aku sudah mengitari hampir tiga perempat luasnya. Orang-orang desa sangat ramah. Terlebih Intan adalah putri seorang pengusaha sukses yang kini memegang koperasi petani dan sangat dihormati. Penghuni desa selalu menyapa dan mempersilahkan kami untuk mampir ke rumah mereka. Sungguh desa yang sangat menyenangkan.
Ketika melakukan tour de village, aku beberapa kali berpapasan dengan pikulan berisi sayur mayur dan hasil kebun yang melayang-layang sendiri. Kalau sudah begitu, Intan akan menarikku ke pinggir seakan-akan tidak boleh menghalangi jalan pikulan itu. Kemudian terdengar suara laki-laki agak sengau yang berkata; “Punten, Neng..” dan Intan menjawab; “ Mangga, mangga”. Itu terjadi sekira tiga kali!
“ Tan, lo bisa jelasin gak ke gue, kenapa sejak kemarin gue datang ke desa ini, gue ngalamin kejadian aneh-aneh” tanyaku. Intan tertawa.
“Kemarin pas baru dateng, lo kan bilang assalamualaikum, tuh. Terus, ada yang jawab. Suaranya agak-agak sengau gitu;wa’alaikum salam, gitu katanya”lanjutku lagi. Intan tersenyum geli.
“ terus, apa lagi yang lo denger Fit?”tanyanya kemudian. Aku menarik napas. Intan tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, sih?
“Lalu waktu makan malam itu. Kenapa meja yang tersedia ada 8? Padahal kan seisi rumah plus gue cuma 5 orang? Trus gue lihat piring, sendok garpu melayang-layang sendiri. Terus barusan, banyak pikulan mondar-mandir tanpa kelihatan siapa yang memikul Ada apa dengan desa ini? Mereka yang gak kelihatan itu apa dan siapa sebenarnya?”tanyaku memberondong. Intan kini tidak lagi tertawa. Raut wajahnya mendadak serius.
“ Fit, kami tidak boleh menjelaskan siapa ‘mereka’. Bahkan kami tidak boleh menggunjingkan ‘mereka’. Adat kami disini tidak memperbolehkan untuk itu. Kalau lo penasaran, coba lo tanya saja sendiri sama ‘mereka’”kata Intan membuat mataku terbelalak.
“ Apa, Tan? Gue suruh bicara sama makhluk halus kaya begitu??”
“Ssssttt! Jaga mulut lo! Mereka itu bukan..Ups sorry gue lupa kalau gak boleh ngomongin mereka”. Aku diam. Intan juga diam dan hanya memainkan jari-jari kakinya di sungai kecil nan jernih ini.
“ Nanti di kota gue ceritain. Tapi kalau lo penasaran, ya coba aja komunikasi sama ‘mereka’. Oke, Fit?”kata Intan kemudian ia beranjak meninggalkan tempat ini.
Malam harinya aku tidak bisa tidur. Kebalikan dari malam kemarin yang sangat nyenyak-mungkin kecapekan-kali ini bahkan mataku tidak bisa terpejam samasekali. Gimana mau terpejam. Di dapur yang bersebelahan dengan kamar yang aku tiduri sekarang terdengar orang bercakap-cakap. Suara wanita dan pria juga suara seorang anak kecil. Semuanya agak-agak sengau. Mereka seperti sedang memasak. Aku mengerjapkan mata berusaha melihat jam dinding di dalam kamar yang remang-remang. Gila! Jam 3 subuh! Aku membaringkan tubuhku lagi dan berusaha untuk tidur. Tapi aku dikejutkan oleh suara panci jatuh. Aku kaget bukan kepalang.
Terngiang lagi kata-kata Intan;”Tapi kalo lo penasaran, ya coba aja komunikasi sama mereka…”
Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarku. Suara pintu yang berderenyit sejenak membuat bulu kudukku merinding dan sempat mengurungkan niatku untuk menemui ‘mereka’. Tapi ah! Nekat ajalah. Toh sepertinya ‘mereka’ bukan makhluk jahat.
Maka kulangkahkan kakiku menuju dapur. Dan astaga…! aku tidak percaya dengan pandanganku sendiri. Aku melihat kompor menyala dengan panci diatasnya. Aku jongkok untuk memastikan apakah apinya benar-benar menyala. Kemudian terdengar suara sengau yang dekat sekali di telingaku ;”Mau mie kuah,Teh?” aku terpekik. Kaget. Aku mundur beberapa langkah, berusaha menenangkan perasaanku yang masih campur aduk. Aku terkulai lemas di pojok ruangan.
“Sii..ssisiapa kalian?”tanyaku entah pada siapa. Terdengar suara mereka berbisik-bisik. Aku memandang ke segala arah berusaha tahu siapa yang sedang berbicara itu.
“ Jangan takut, Nak. Kami adalah penghuni desa ini. Sama seperti kalian.”jawab suara perempuan. Aku diam, napasku masih tersengal-sengal dan mataku masih menatap ke segala arah.
“ Kami hidup berdampingan dengan manusia di sini selama bertahun-tahun. Tapi kami tidak tahu jika kami ini jenis yang tidak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya. Mulanya kami sedih. Tapi kini seiring penerimaan masyarakat desa, kami sekarang biasa hidup seperti ini.”
“ Jadi kalian ini siapa?”tanyaku
“Kami adalah manusia seperti kalian, hanya kami tanpa wujud. Kami juga hidup layaknya manusia, bersosialisasi, beranak pinak dan punya perasaan..”
Aku terdiam. Perlahan aku mulai mengerti siapa ‘mereka’.
“Kami bukan makhluk halus. Kami berbeda dari setan, hantu atau apapun itu. Kami tetap manusia hanya dengan wujud yang berbeda”jelas wanita yang tidak tampak itu.
Aku tersenyum dan mengangguk-angguk. “Saya mengerti siapa kalian sekarang. Maaf kalau kemarin saya bersikap tidak ramah pada kalian”
“ Tidak apa-apa, Nak. Kami paham bahwa tidak semua manusia bisa menerima perbedaan bahkan dari jenisnya sendiri”katanya. Aku mengernyit.
“ Maksud, Ibu?”
“ Ya, Ibu mendengar cerita tentang manusia bertubuh tidak lengkap sering mendapat perlakuan tidak adil dari manusia yang bertubuh sempurna. Manusia yang mempunyai wajah kurang beruntung sering mendapat perlakuan tidak adil dan sepertinya pemilik wajah-wajah rupawan saja yang merasa mempunyai banyak kesempatan. Manusia hanya melihat fisik, bukan hati..”katanya
“Maka kami sangatlah beruntung, meskipun kami tidak tampak dan sering dianggap sebagai hantu atau sejenisnya, tapi kami diterima sangat baik di desa ini.” lanjutnya lagi.
Aku berdiri dan tersenyum pada keluarga itu.
“ Saya permisi pergi tidur dulu…”
“ Teteh gak mau mie kuah?”tanya si kecil. Aku jongkok, aku tahu dia pasti lebih pendek dariku.
“ Makasih, Dik. Kakak mau bobo dulu. Sampai besok..”ujarku dan berlalu dari situ. Tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu, aku segera berbalik badan.
“ Eh, Bu..”seruku. Suasana sudah hening. Kulihat sekeliling dapur yang kini sudah bersih.
Aku jadi urung untuk menanyakan kenapa adat desa ini tidak memperbolehkan membicarakan ‘mereka’?
Aku kembali ke kamar. Biarlah pertanyaan itu kusimpan baik-baik dalam hati.
Tidak terasa, aku sudah seminggu berada di sini. Aku berkemas dan siap menunggu kereta kuda di depan rumah. Intan dan Ibunya menyusulku menunggu di teras rumah.
“ Jangan bosan datang kesini, Nak Fitri ” kata Ibunya Intan. Aku tersenyum dan mengangguk. Tentu, semester depan aku ingin kesini lagi. Terlebih aku sudah mempunyai seorang sahabat. Kereta kuda yang dipesan sudah tiba, aku segera naik.
“ Teh Fitri, jangan tinggalin Elok. Huuuuuuhhuuu..” seorang gadis kecil menangis. Aku tersenyum pada sosok tak berwujud itu. Tapi aku bisa merasakan sentuhan tangan mungilnya menarik bajuku. Aku menelan ludah menahan tangis. Tenggorokanku sakit sekali.
“Besok saya kembali kesini,saya janji..”ujarku tertahan.
Kereta kuda melaju membawa kami kembali ke kota. Tempat bermacam-macam manusia dengan berbagai wujud…
Jatihandap,1 Januari 2006
(Harian PR,31 Oktober 2006)
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!





