Apr 08 2008
DIAKHIR MUSIM
“Nadine! Tunggu! Aku kan belum selesai bicara” katanya dengan napas tersengal-sengal. Aku tidak peduli pada suara di belakangku itu dan terus mempercepat langkahku menuju halte bis. Setibanya di halte, aku menoleh dan celingukan mencari sosok yang tadi mengejarku seperti wartawan pemburu berita gosip. Aku menarik napas lega mendapati kenyataan bahwa aku tidak lagi dikejar-kejar seperti itu. Kini aku siap menanti bis yang akan membawaku pulang ke apartemen. Kugosok-gosokan tangan untuk menciptakan rasa hangat meski hanya diujung jari-jari. Musim salju belum tiba tapi sudah mengirimkan hawa dingin seolah hendak memberi tahu bahwa ia akan datang tidak lama lagi.
“Minum ini, biar tidak terlalu dingin”. Aku menoleh. Oh Shit! Dia lagi. Bukannya dia sudah capek mengejarku tadi? Aku melengos. Kulihat dia nyengir sambil menarik lagi gelas kopinya.
“Ya sudah,kalau tidak mau. Yang penting aku sudah menawarimu minum” katanya lagi. Bibirnya yang merah seksi itu menyeruput kopi. Aku mendesis. Dasar!
“Hey, Nadine. Mumpung kamu lagi tenang nunggu bis kaya gini,aku mau ngomong lagi tentang hal tadi. Aku menawarkan kamu…”
“Sudahlah, Jacques!” tampikku. Aku melihat wajahnya sambil melotot. Jaques tampak tidak peduli. Aku makin geram.
“Heran,ditawari sesuatu yang menyenangkan kok tidak mau” katanya. Aku mendengus.
“Ayolah,Nad. Kompetisi itu tidak terlalu susah buatmu. Aku tahu kamu bisa menari. Kalau menang di Perancis, kamu bisa ikut tingkat dunia di Moskow. Waah! Apa itu tidak hebat?”lanjutnya lagi. Kali wajahnya serius. Tidak cengar cengir seperti tadi. Aku hanya diam. Malas menanggapi omongannya.
Bis yang akan membawaku pulang sudah datang. Aku segera naik. Tak disangka, si Jacques juga ikut naik, padahal jelas-jelas rumahnya berlawanan arah dengan apartemenku. Aku menampik rasa heranku dengan tidak memperdulikannya dan duduk disamping seorang ibu (tujuannya agar si Jacques tidak duduk disebelahku jika aku memilih tempat duduk kosong). Tapi dasar Jacques, ia malah berdiri disampingku, padahal banyak kursi yang masih kosong.
“Gimana, Nad? Kamu mau kan?” kata Jacques memulai usahanya lagi. Aku memasang earphone dan mendengarkan lagu dari Mp3 player, sambil baca buku.
“Nad! Nadine!”panggilnya berulang-ulang. Aku pura-pura tidak mendengar.
“Anak muda, apakah kau tidak bisa duduk? Di belakang banyak kursi kosong” tukas pak sopir yang bertubuh tambun. Jacques tampak kebingungan menjawab pertanyaan pak sopir. Aku tersenyum menyeringai.
“Nona, apa kau kenal dia? ” tanya pak sopir jelas itu ditujukan padaku. Aku memandang Jacques sekilas lalu menggeleng.
“Tidak, Pak! Saya tidak kenal dia” Jacques mengangkat alis dan melongo. Akhirnya Jacques menyerah, kemudian ia memilih duduk di kursi yang kosong. Aku tersenyum puas dan melanjutkan acara membaca buku.
Aku memandang keluar jendela. Bis baru saja melewati Hotel des Invalides. Itu berarti apartemenku masih lumayan jauh. Aku menoleh pada Jacques, ia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku melengos. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku harus ke perpustakaan besar untuk mencari beberapa referensi bahan tulisanku. Aku berdiri ketika bis berhenti di salah satu halte. Kulihat dengan ekor mata, Jacques mengikutiku turun dari bis.
“Hati-hati, Nona. Lapor polisi saja jika kau merasa terganggu dengan orang ini” pesan pak sopir sebelum aku turun. Aku mengucapkan terimakasih sedang Jacques memilih diam.
Aku tersenyum lega keluar dari La Grande Bibliothèque. Buku-buku yang aku perlukan untuk bahan tulisan sudah aku dapatkan. Aku ingin rehat sejenak melepas penat. Duduk di bangku taman di tepi sungai Seine di siang bolong seperti ini adalah pilihan yang tepat. Sengaja aku memilih tempat yang memberiku pemandangan gereja Nôtre Dame. Siapa tahu bisa memberi inspirasi. Whhhuuah..Aku menggeliat.
“Enak juga ternyata duduk disini” ujar Jacques. Astaga! Dia masih saja mengikutiku. Apa sih maunya ini anak!?
“Selama aku tinggal di Paris, baru sekarang aku nongkrong disini. Kalau kamu,pasti sering ya? Kamu kan sudah lama tinggal disini” lanjutnya lagi. Aku cuek saja sambil membaca-baca buku yang baru saja aku pinjam. SMUku, SMU Henry IV, akan mengadakan lomba menulis cerita bersambung bertema remaja dan sekolah. Hadiahnya ratusan Franc. Beberapa teman mendukungku untuk ikutan karena mereka tahu aku punya bakat menulis. Cerpenku beberapa kali dimuat di majalah remaja. Iya, semua mendukungku untuk ikut lomba menulis itu. Kecuali mahluk satu yang kini lagi duduk santai di sebelahku ini.
“Di Marseille, kami biasa nongkrong di pantai. Asyik lho, Nad. Melihat orang bermain parasailing, ski air, berenang. Kalau kamu pernah pergi ke pantai? Kalau belum sayang sekali. Aku juga pernah diajak sepupuku ke sebuah pantai di La Rochelle. C’est formidable! Disana ombaknya sangat besar dan kami…”
“Kamu bisa diam gak sih, Jacques? Gak lihat apa aku lagi konsen baca!?” sentakku. Aku rasa aku sudah kehabisan kesabaran. Jacques terkejut mendengar perkataanku. Aku sedikit menyesal membentaknya. Kemudian ia mencangklong tasnya dan berdiri.
“Ok. Aku sudah terlalu mengganggu ya? Maaf kalau begitu..” katanya lalu beringsut pergi.
“Jacques! Jacques! Tunggu. Hey!” kataku sambil berlari mengejarnya. Ia menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh.
“Maaf kalau aku mengganggumu. Aku janji, tidak akan mengganggumu lagi..” katanya.
“Jacques, bukan begitu. Aku..Aku..”
Ah! Kenapa aku jadi kehilangan kata-kata begini. Jacques melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi padaku. Rupanya ia benar-benar tersinggung. Yah, sudahlah. Mungkin besok juga baikan lagi, kataku dalam hati.
**
Aku tahu kenapa Jacques sangat ingin aku ikut kompetisi tari ballet yang diadakan oleh Departemen Kebudayaan. Karena ia tahu, aku seorang ballerina (ia pernah menemukan foto masa SMPku dengan baju ballet di sebuah laci meja belajarku). Tapi yang Jacques tidak tahu adalah bahwa sudah tiga tahun ini, aku tidak pernah lagi menari. Sejak..sejak..Tidak! aku menutup mataku. Berusaha tidak lagi mengingat kejadian tiga tahun lalu yang telah merenggut nyawa seseorang yang paling berharga dalam hidupku. Mama!
Ketika itu, sedang diadakan kompetisi tari ballet tingkat nasional. Aku sangat berharap mama bisa hadir mendukungku pada saat aku pentas di hadapan juri. Mama sangat sibuk. Jadwal kerjanya yang padat di perusahaan advertising kadang membuatnya lupa bahwa ia punya suami dan anak perempuan yang perlu perhatiannya.
Tarianku sangat sempurna. Tapi diakhir bagian tari, tiba-tiba kakiku terkilir dan aku terjatuh. Semua orang berteriak menyesal. Aku juga menyesal. Seadainya aku tahu kalau itu adalah sinyal firasat buruk. Mama, hari itu akan menonton pentasku. Ia ijin dari kantornya dan hanya diperbolehkan pergi satu jam. Ia terburu-buru menuju gedung pertunjukkan membuat ia tidak konsen mengendalikan mobilnya. Ia kecelakaan dan meninggal dunia. Mama meninggal dunia gara-gara mau menontonku menari!!
Sejak saat itu aku meninggalkan dunia ballet. Kusimpan segala pernak-penik ballet yang sudah aku geluti sejak masih kecil. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku begitu ngotot supaya mama menonton pertunjukkanku. Papa membawaku pindah dari Nice ke Paris. Iapun rela pindah pekerjaan, supaya kami berdua bisa melupakan kejadian itu. Kemudian aku bersekolah di sini. Memulai kehidupan baru kami. Tapi sejak Jacques menemukan foto lamaku dan tahu bahwa aku dulu adalah seorang ballerina, sedikit demi sedikit kenangan itu terkuak kembali. Aku samasekali tidak menyalahkan Jacques. Dia hanya tidak tahu mengapa aku tidak lagi mau menari.
**
Mataku mencari-cari sosoknya. Biasanya pagi-pagi begini ia sudah nongkrong di kafe, menunggu bel masuk sekolah berbunyi. Tapi aku tidak menemukan sosok itu.
“Cari Jacques ya?” tanya seseorang dari belakang mengejutkanku. Aku menoleh dan tersenyum. Rupanya Chloé. Teman sekelas kami juga.
“Iya nih. Tumben ya, pagi-pagi begini dia belum nongol” tukasku. Chloé mengibaskan rambut pirangnya yang panjang sebahu. Ia cewek yang sangat feminin.
“Nad, ia memang tidak masuk sekolah hari ini, ada keperluan keluarga katanya” ujarnya kemudian. Alisku bertaut.
“Iya, tadi pagi, dia sengaja kerumahku untuk mengatakan hal ini dan ia titip surat buat kamu. Nih baca!” ujar Chloé seraya menyerahkan sepucuk surat padaku. Aku tersenyum geli. Dasar Jacques. Kaya anak kecil saja pake surat-suratan. Chloé menatapku.
“Nad, beruntungnya kamu ada seseorang yang sangat memperhatikanmu. Selamat ya!” ujarnya sambil berlalu. Aku heran “Hey, Chloé! Apa maksudmu? Aku gak ngerti!” tanyaku setengah berteriak karena Chloé sudah menjauh dariku. Ia membalikkan badannya dan menebar senyum termanisnya.
“Sensitiflah sedikit, cewek bodoh!” katanya setengah berteriak juga. Aku melotot dan segera berlari mengejarnya sampai ke kelas.
**
“Nadine..Maaf kalau merasa jengah baca surat dariku ini. Aku bisa saja langsung bicara padamu, tapi kurasa akhir-akhir ini kamu selalu saja menghindariku. Aku sangat menjengkelkan ya?
Nad,, aku hanya ingin kamu bisa melanjutkan bakatmu dalam menari ballet. Aku tahu kamu hanya trauma dengan apa yang dialami oleh mamamu. Itu bukan kesalahanmu, Nadine. Samasekali. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagimu untuk berhenti menari karena mama kamu meninggal. Aku rasa, mama kamu di surga juga lebih senang kamu tetap menari. Dengan alasan kamu seperti ini, tentu ia akan sedih sekali.
Oke, sebagai penutup aku tidak akan memaksamu untuk ikut kompetisi itu (aku menyesal telah mengatakannya karena awalnya aku tidak tahu alasanmu yang sebenarnya-jangan salahkan Chloé, dialah yang memberitahuku).
Tapi pesanku, Nadine, jangan bohongi perasaanmu. Jujurlah pada kehidupanmu.
Bissous, Jacques”
Tiba-tiba dadaku terasa hangat. Aku menggigit bibir dan tersenyum.
Aku membuka kembali peti kayu buatan papa. Isinya adalah barang-barang kenangan yang menyakitkan tapi masih sayang jika kubuang. Aku keluarkan isinya satu persatu. Ada foto-foto mama ketika masih muda. Juga ada foto kami bertiga ketika berlibur ke Mount Blanc.
Baju balletku masih bagus. Berwarna pink lembut terbuat dari satin. Sepatu balletku juga masih tampak bagus. Dua benda itulah yang kupakai terakhir kali tiga tahun lalu sebelum aku memutuskan untuk menggantung sepatu. Aku berdiri di depan kaca, mematut-matut diriku yang kini telah terbalut baju dan sepatu ballet. Aku melakukan gerakan memutar dan berjinjit. Tiba-tiba aku terjatuh. Aku teringat bagaimana kakiku terkilir di panggung yang merupakan firasat ketika mama kecelakaan di jalan raya.
Aku menangis. Aku tidak sanggup. Tidak sanggup!!. segera kutanggalkan lagi baju dan sepatu balletku dan menangis tersedu di sudut kamar.
**
Di sebuah auditorium yang besar, aku menari seorang diri. Meskipun gelap dari atas panggung, tapi aku yakin, berpuluh-puluh pasang mata kini sedang memperhatikan tiap detil gerakan tarian yang kubawakan. Diiringi komposisi “The Blue Danube” aku menari bak seekor angsa yang sedang bermain di danau biru. Meliuk ke kanan, ke kiri, berputar menyamping dan sesekali ‘terbang’. Aku trance dan sangat menikmatinya. Dari arah samping panggung, papa melihatku penuh kasih. Sorot matanya menyiratkan kebanggaan yang luar biasa. Aku sempat melempar senyum pada papa. Tiba-tiba dari arah samping panggung yang lain, seorang penari laki-laki keluar dan menari bersamaku. Aku heran. Dalam skenario, tidak ada laki-laki yang menari bersamaku saat ini. Aku hanya membawakan tarian tunggal. Seluruh penonton bertepuk tangan menyambut kehadiran pria itu. Pria itu tersenyum. Oh,God! Itu Jacques!! Tubuhku mendadak kaku. Kakiku tidak bisa bergerak!!
“Ayo, Nadine! Lanjutkan tarian kita. Kita sudah latihan begitu lama, bukan?” tanyanya seraya menebar senyum. Aku melongo. Kapan aku latihan dengannya?
“Jangan kecewakan penonton yang sudah lama merindukanmu. Ups! Salah. Merindukan kita berdua, duet di atas panggung” lanjutnya lagi. Aku semakin merinding. Tiba-tiba lampu menyorot ke arahku. Ugh! Silau. Aku memejamkan mata dan terbangun. Astaga! Rupanya aku bermimpi. Apa artinya ini? Aku mimpi menari lagi begitu luwesnya seperti tiga tahun lalu, bersama Jacques?! Apakah karena suratnya tadi malam sangat mempengaruhi pikiranku? Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Deadline lomba menulis cerita bersambung seminggu lagi berakhir. Tapi aku belum bisa menyelesaikan tulisanku sampai batas halaman yang ditentukan. Pikiranku kacau. Kacau!
Entah sudah berapa bateau mouche yang lewat mondar mandir di hadapanku. Biasanya ketika duduk di pinggir sungai Seine ini, aku selalu menghitung berapa kali perahu pesiar dalam kota itu lewat di depan hidungku. Aku masih saja memegang kertas dan bolpen, berusaha membuat ending cerita bersambungku. Tapi tetap tidak ada ide. Bahkan aku tidak mampu menulis satu kalimatpun!
“Kamu tidak bisa menulis dalam keadaan seperti ini, Nadine” kata sebuah suara. Aku menoleh. Ia sudah berdiri di sampingku yang sedang duduk lesehan. Iapun ikut duduk di sampingku sambil menawarkan burger dan cola dingin. Aku segera menyambutnya karena aku memang kelaparan.
“Merci ” kataku. Ia mengangguk dan terdiam beberapa saat.
“Jacques..”
“Nad..”
Kami berdua tertawa kecil.
“S’il vous plaît, mademoiselle” katanya mempersilahkan aku untuk berbicara duluan. Aku menarik napas. Aku mengucapkan terimakasih atas suratnya dan aku samasekali tidak marah kemarin. Jacques tersenyum dan mengangguk.
“Maaf kalau aku begitu lancang memasuki duniamu yang belum banyak aku ketahui. Aku hanya tahu kau seorang penari, jadi kupikir sayang jika bakat besarmu terpendam sia-sia” katanya. Kemudian ia tertunduk. Angin sungai Seine menggoyang-goyangkan rambutnya yang agak gondrong. Aku tersenyum, sudah saatnya bersikap lunak padanya.
“Tidak apa-apa, Jacques. Aku maklum kalau kamu tidak tahu alasanku kenapa aku tidak mau lagi menari..” kataku. Semoga itu adalah jawaban yang dikehendakinya dariku. Ia mengangguk-angguk.
“Jacques, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku. Ia menoleh dan mengangkat alisnya.
“Silahkan. Kamu mau tanya apa?”
“Hmmmm, mengapa kamu..Kamu..sangat peduli padaku, Jacques?”
Ia tersenyum. Matanya memandangku agak menyipit.
“Kamu tidak tahu?”
Aku menggelengkan kepala.
“Benar-benar tidak tahu?”
Aku menautkan alis dan menggeleng. Ia melengos dan menarik napas.
“Kamu ini benar-benar bodoh atau tidak sensitif, ya?”
Aku melotot. Kok pernyataannya persis seperti yang pernah dilontarkan si Chloé sih?
“Apa maksudmu, Jacques? Aku gak ngerti!”
Tiba-tiba ia menarik bahuku sehingga wajahnya dan wajahku hampir saja menempel. Aku tercekat dan tentu saja deg-degan setengah mati. Aku tidak pernah sedekat ini dengan pria, kecuali papa.
“Dengar, Nadine. Aku…Aku mencintaimu!!”
Apa? Aku tidak salah dengar kan? Tapi aku tak sanggup berkata-kata. Hanya mataku yang memandangi kedua bola matanya bergantian. Jacques menelan ludah.
“Sudah lama, Nad. Sejak aku melihatmu pertama kali. Ketika kita berdua sama-sama jadi murid baru di sekolah. Ketika aku baru saja pindah dari Marseille dan jadi warga Paris. Satu setengah tahun yang lalu. Kamu tahu itu??”
Aku menggeleng. Shit! Betapa bodohnya aku! Mengapa selama ini aku tidak tahu kalau Jacques, teman sepermainan kami di sekolah, ternyata menyukaiku? Apa aku memang tidak sensitif atau terlalu memikirkan diri sendiri?
“Nad, aku sangat menyayangimu. Sangat! Aku selalu berusaha mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kamu terlihat begitu tertutup. Introvert. Bahkan kepadaku, atau kepada Chloé dan teman-teman yang dekat denganmu” katanya panjang lebar. Tentu saja ini membuatku terkejut. Kemudian ia menarik napas.
“Sekarang kamu tahu, kan? Kalau aku perhatian padamu, karena aku menyukaimu!”
Aku tertunduk kemudian menitikkan airmata. Aku sangat terharu dengan pernyataan Jacques. Ia sangat jujur mengungkapkan isi hatinya. Ia sangat jujur pada kehidupannya. Aku jadi malu pada diriku sendiri. Aku tidak jujur pada kehidupanku. Yah, aku masih mencintai dunia ballet. Mengapa justru aku meninggalkannya? Jacques benar. Kematian mama, bukanlah alasan untuk aku mundur dari ballet. Itu murni kecelakaan. Bukan gara-gara aku. Mungkin karena itulah selama tiga tahun terakhir ini, aku selalu tertutup seperti yang dikatakan Jacques, karena aku mulai tidak jujur lagi pada hidupku. Aku mengkhianati kehidupanku sendiri. Sungguh menyedihkan!!
“Nadine, hari sudah sore. Kalau kamu kelamaan disini. Nanti kamu sakit. Nih, pakai jaketku. Lihat tuh baju kamu tipis banget. Ayo pakai!” katanya. Aku tersenyum. Tidak terbayangkan olehku kalau suatu hari nanti Jacques jadi pacarku. Pasti aku akan dicerewetinya setiap hari sebagai bentuk perhatiannya padaku. Aku menurut saja saat ia menggandeng tanganku untuk beranjak pulang. Aku berjanji dalam hati akan jujur pada kehidupanku. Aku sudah membuat keputusan untuk kembali ke dunia ballet yang memang sudah mendarah daging dalam tubuhku. Tiba-tiba aku merasa hidupku sangat indah!
PS: Aku juga tidak akan membohongi perasaanku, kalau sebenarnya akupun sudah menyukai Jacques, sejak kami bertemu, di hari pertama sekolah…
- Fin -
C’est formidable! = luar biasa!
Merci=terimakasih
S’il vous plaît mademoiselle=silahkan nona
(Harian PR,2 Januari 2007)
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!





